Penyebab Medis Kantuk Saat Puasa Ramadan dan Cara Mengatasinya
Artikel ini menjelaskan penyebab medis kantuk saat puasa Ramadan, mulai dari perubahan ritme sirkadian hingga asupan makanan, serta cara efektif mengatasinya

Bulan Ramadan adalah bulan suci bagi umat Muslim di seluruh dunia, di mana mereka menjalankan ibadah puasa dari fajar hingga matahari terbenam. Selain menahan lapar dan haus, salah satu tantangan yang paling sering dikeluhkan oleh banyak orang adalah rasa kantuk yang menyerang secara tiba-tiba di siang hari. Meskipun banyak menganggapnya sebagai hal yang lumrah dan tidak perlu diperhatikan, kondisi ini sebenarnya merupakan respons kompleks tubuh terhadap perubahan metabolisme dan pola istirahat yang terjadi selama periode puasa.
Mengapa Ritme Sirkadian Tubuh Berubah Selama Puasa?
Selama Ramadan, rutinitas tidur sebagian besar umat Muslim berubah drastis. Alih-alih tidur dan bangun pada waktu yang teratur, mereka harus bangun lebih awal untuk melakukan sahur, yaitu makan sebelum fajar. Hal ini seringkali membuat waktu tidur menjadi terpotong, dan banyak orang terbangun saat masih berada dalam fase tidur dalam (deep sleep) — fase tidur yang paling penting untuk pemulihan fisik dan mental. Ketika fase ini terganggu, kualitas tidur akan menurun meskipun durasi tidur total tidak berkurang secara signifikan. Akibatnya, tubuh mengalami apa yang disebut sebagai "utang tidur", di mana tubuh tidak mendapatkan tidur yang cukup berkualitas, yang membuat rasa lelah dan kantuk lebih mudah muncul pada siang hari.
Menurut dr. Andreas Prasadja, RPSGT, pakar kesehatan tidur (somnologis), penyebab utama kantuk saat berpuasa adalah perubahan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Selama Ramadan, waktu tidur sering terpotong karena harus bangun sahur. Tidak jarang seseorang terbangun saat masih berada dalam fase tidur dalam (deep sleep), yakni fase penting untuk pemulihan tubuh. Ketika fase ini terganggu, kualitas tidur menurun meskipun durasinya tidak berkurang drastis. Akibatnya, tubuh mengalami apa yang disebut sebagai "utang tidur", yang membuat rasa lelah dan kantuk lebih mudah muncul pada siang hari.
Asupan Makan dan Dehidrasi yang Mempengaruhi Kantuk
Selain faktor ritme sirkadian, asupan makanan yang dikonsumsi selama bulan Ramadan juga memiliki peran penting dalam munculnya rasa kantuk di siang hari. Menurut laman KlikDokter (2022), konsumsi makanan tinggi gula saat berbuka puasa dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang meningkat cepat, diikuti penurunan drastis beberapa jam kemudian. Hal ini membuat tubuh terasa lemas dan mengantuk, karena otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama. Ketika kadar gula darah turun secara drastis, fungsi kognitif seperti konsentrasi dan kewaspadaan juga akan menurun.
Selain itu, dehidrasi ringan juga bisa memperparah kondisi kantuk saat puasa. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition (2012) menyebutkan bahwa kekurangan cairan, meskipun tidak parah, dapat memengaruhi suasana hati, menimbulkan kelelahan, serta memicu sakit kepala — gejala yang sering kali disalahartikan sebagai rasa kantuk. Di sisi lain, saat perut kosong selama puasa, aktivitas sel saraf yang menghasilkan orexin, yaitu zat kimia di otak yang membantu menjaga kita tetap terjaga dan waspada, dapat menurun pada sebagian orang. Penurunan aktivitas ini akan memicu rasa rileks berlebihan yang berujung pada rasa kantuk.
Cara Efektif Mengatasi Kantuk Saat Puasa
Untuk mengatasi rasa kantuk di siang hari selama puasa, kamu dapat menerapkan beberapa langkah sederhana:
- Pilih karbohidrat kompleks dan protein saat sahur, seperti nasi merah, roti gandum, ubi jalar, ayam, ikan, atau telur. Nutrisi ini akan membuat energi dilepas secara stabil sepanjang hari, sehingga tidak terjadi lonjakan dan penurunan kadar gula darah yang drastis.
- Hindari konsumsi makanan manis berlebihan saat berbuka puasa, seperti kue, permen, atau minuman manis. Pilih makanan sehat seperti buah-buahan segar atau kacang-kacangan sebagai alternatif.
- Tidur lebih awal di malam hari, misalnya sebelum jam 10 malam, untuk mengkompensasi waktu bangun untuk sahur dan meningkatkan kualitas tidur.
- Kurangi penggunaan perangkat elektronik (gawai) setidaknya 1 jam sebelum tidur. Cahaya biru dari layar perangkat dapat menekan produksi melatonin, hormon yang membantu mengatur tidur.
- Manfaatkan power nap selama 15–20 menit di siang hari. Hindari tidur lebih lama dari itu, karena dapat membuat kamu masuk ke fase tidur dalam yang membuat rasa lelah saat bangun dan mengganggu pola tidur malam.
Kesimpulannya, rasa kantuk saat puasa bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan pola hidup yang terjadi selama bulan Ramadan. Dengan memahami penyebab medis dari kantuk saat puasa dan menerapkan cara-cara mengatasinya yang tepat, umat Muslim dapat mengendalikan rasa kantuk di siang hari, sehingga aktivitas harian dan kualitas ibadah selama Ramadan tetap berjalan optimal. Tidak perlu khawatir dengan rasa kantuk yang muncul, asalkan kamu melakukan pengaturan nutrisi dan istirahat yang baik selama bulan puasa.