Pencarian Mahasiswi Tel-U Berlanjut, Keluarga Sampaikan Peringatan soal Arus Hoaks
Pencarian Nadira, mahasiswi Tel-U yang hilang sejak 30 Juni, masih berlanjut. Keluarga kini dibanjiri hoaks dan penipuan berkedok biaya operasional.

Pencarian terhadap Nadira, mahasiswi Telkom University yang dilaporkan hilang sejak akhir Juni, masih terus dilakukan oleh berbagai pihak. Hingga kini, keberadaan mahasiswi berusia 19 tahun tersebut belum juga ditemukan. Di tengah upaya pencarian yang berlangsung intensif, keluarga justru menghadapi ujian baru berupa maraknya informasi palsu yang beredar.
Kronologi Hilangnya Mahasiswi Tel-U
Berdasarkan kronologi yang berhasil dirangkum, Nadira berpamitan kepada orang tuanya pada Selasa, 30 Juni sekitar pukul 10.00 WIB. Ia mengungkapkan niatnya untuk berangkat ke kampus menggunakan layanan ojek online.
Baca Juga: IS Ringkus di SPBU Cimerak Usai Rampas Gelang Emas Nenek 77 Tahun di Batukaras
Selang dua jam kemudian, pihak keluarga mulai kehilangan kontak dengan Nadira. Nomor telepon selulernya tidak bisa dihubungi sejak pukul 12.00 WIB di hari yang sama.
Karena tidak kunjung pulang dan tidak ada kabar, orang tua Nadira akhirnya datang langsung ke kampus pada Kamis, 2 Juli untuk menganyakan kabar perempuan angkatan 2025 tersebut. Kedatangan keluarga diterima oleh Direktorat Kemahasiswaan, Karier, dan Alumni (Ditmawa/KKA) guna berkoordinasi mencari petunjuk.
Modus Hoaks dan Penipuan yang Bermunculan
Paman Nadira, Budi Purwana, menceritakan bahwa keluarganya kini dibanjiri berbagai informasi dari masyarakat yang mengklaim mengetahui keberadaan mahasiswi tersebut. Sayangnya, sebagian besar informasi itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Komplotan Pembobol Mess TKA di PT D Majalengka Ditangkap, Tiga Pelaku Masih Buron
"Belum ada informasi yang valid. Banyak informasi yang masuk, tetapi sebagian besar justru hoaks. Bahkan ada yang mengaku melihat Nadira lalu meminta transfer uang untuk operasional," jelas Budi.
Ia mengungkapkan bahwa sejumlah oknum tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi dengan berbagai modus. Ada yang mengaku pernah melihat Nadira di lokasi tertentu, kemudian meminta keluarga mentransfer sejumlah uang dengan dalih biaya operasional pencarian.
"Ujung-ujungnya minta transfer untuk operasional. Banyak sekali yang seperti itu masuk ke saya," tegas Budi.
Berbagai lokasi sempat disebut-sebut oleh masyarakat yang mengklaim pernah melihat Nadira, mulai dari kawasan Cileunyi, Ujungberung, hingga Cimahi. Keluarga dengan sigap mendatangi setiap lokasi yang dilaporkan. Sayangnya, seluruh informasi tersebut tidak terbukti kebenarannya.
Kolaborasi Pencarian dari Berbagai Pihak
Proses pencarian saat ini dilakukan secara simultan oleh keluarga, kepolisian, teman-teman kampus, dan para relawan. Masing-masing pihak memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi.
Keluarga berfokus pada penggalangan informasi melalui jaringan pertemanan Nadira. Mereka terus membangun komunikasi dengan siapa pun yang mengenal mahasiswi tersebut untuk memperoleh petunjuk.
Sementara itu, pihak kepolisian menjalankan penelusuran menggunakan pendekatan teknologi. Upaya pelacakan meliputi jejak digital serta penelusuran kemungkinan lokasi terakhir telepon seluler milik Nadira.
"Yang bergerak adalah kepolisian bersama teman-teman kampus dan volunteers. Kami juga terus mencari informasi melalui jaringan teman-temannya. Sementara pihak kepolisian melakukan pencarian dengan teknologi," papar Budi.
Berdasarkan informasi terakhir yang dianggap valid, Nadira diketahui terakhir berada di kawasan pada 30 Juni. Setelah titik waktu tersebut, belum ada petunjuk yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Imbauan untuk Masyarakat
Budi menekankan bahwa keluarga harus memverifikasi setiap laporan secara hati-hati agar tidak terjebak informasi menyesatkan. Derasnya arus informasi di media sosial membuat proses penyaringan menjadi sangat krusial.
Keluarga juga menyampaikan harapan kepada warga yang mungkin menemukan seseorang dengan ciri-ciri serupa dengan Nadira.
"Kami berharap kalau memang menemukan seseorang yang sesuai ciri-cirinya, tolong didampingi dulu. Setelah itu segera konfirmasi kepada kami. Kami akan langsung menuju lokasi," pinta Budi.
Ia berharap masyarakat tidak sekadar melaporkan, tetapi juga memberikan pertolongan nyata jika memungkinkan. Langkah yang bijak adalah mengajak orang tersebut berbicara dan membawanya ke tempat aman sebelum menghubungi keluarga atau aparat.
Solidarity dari Civitas Akademika
Head of Secretary and Public Relations Telkom University, Roosdiana Noor Rochmah, membenarkan bahwa Nadira merupakan mahasiswi aktif di kampus mereka. Pihak manajemen mengklaim telah bergerak cepat dengan membuka koordinasi bersama keluarga dan aparat berwenang.
"Kami mengajak seluruh civitas akademika Telkom University dan masyarakat untuk turut membantu menyebarluaskan informasi ini dengan tetap mengedepankan etika, menghormati privasi keluarga, serta tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya," imbau Roosdiana.
do/a Harapan Keluarga
Sepanjang proses pencarian, keluarga terus bergerak selama 24 jam mencari berbagai petunjuk. Mereka tidak mengharapkan agar Nadira dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat.
"Kami hanya ingin memastikan keberadaannya di mana dan berharap dia bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja," tutur Budi.
Keluarga mengharapkan dukungan moril dari masyarakat berupa doa dan partage informasi yang terverifikasi, bukan sebaliknya memperburuk situasi dengan menyebarkan hoaks yang justru menyulitkan proses pencarian.