Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

92 Kelompok di Kuningan Mulai Manfaatkan Pekarangan Jadi Lahan Produksi Pangan Tahun Depan

Jabar · Oleh ·

Diskatan Kuningan luncurkan program Tatapakan Jati pada 2026 yang menjangkau 92 kelompok untuk memanfaatkan pekarangan jadi lahan produksi pangan dan tekan inflasi

92 Kelompok di Kuningan Mulai Manfaatkan Pekarangan Jadi Lahan Produksi Pangan Tahun Depan

Mulai tahun depan, 92 keluarga di Kuningan bisa memanfaatkan pekarangan mereka untuk menghasilkan cabai, tomat, atau sayuran sendiri. Ini bukan sekadar programRW, melainkan bagian dari upaya mengendalikan inflasi pangan di tingkat kabupaten.

Program bernama Tatapakan Jati itu digagas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan. Singkatan dari Tanam Tanah Pekarangan, Jaga dan Tekan Inflasi itu merupakan kelanjutan dari gerakan Taman Masagi yang sudah berjalan dua tahun.

"Taman Masagi kami mulai dari halaman rumah, sekarang kita perluas menjadi Tatapakan Jati karena yang ingin kita optimalkan bukan hanya halaman, tetapi seluruh tanah pekarangan yang masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan," kata Kepala Diskatan Kuningan Wahyu Hidayah.

Baca Juga: Listrik Andal jadi Magnet Investasi di Jawa Barat, Kebutuhan PT Indah Kiat Saja Capai 250 MVA

Sebelum mendapat bantuan benih dan sarana produksi, setiap kelompok penerima melewati proses identifikasi dan verifikasi oleh petugas di lapangan. Penyuluh pertanian kemudian memberikan pendampingan teknis selama masa tanam dan pemeliharaan.

Mereka yang menerima bantuan tidak otomatis menjamin keberhasilan. Wahyu menegaskan, ukuran keberhasilan program bukan sebesar bantuan yang diberikan, melainkan apakah pekarangan benar-benar produktif dan pangan yang dihasilkan benar-benar dikonsumsi keluarga.

"Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas, bisa dimulai dari ruang yang kita miliki di sekitar rumah dan dikelola secara produktif," katanya.

Baca Juga: Polisi Telusuri Titik Pembuangan Mayat Misterius di Jurang Tol Bocimi KM 69 Sukabumi

Di tingkat lapangan, Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi penggerak utama. Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan Ela Helayati menyebut KWT memiliki hubungan langsung dengan keluarga di lingkungannya.

"Pekarangan yang sederhana dapat ditanami cabai, tomat, sayuran, tanaman obat maupun komoditas lainnya sesuai kondisi setempat," katanya.

Hasil panen dari pekarangan itu diharapkan mendukung penerapan pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Artinya, kebutuhan sayuran dan obat tradisional keluarga bisa dipenuhi dari belakang rumah.

Diskatan melakukan pemantauan dan evaluasi berkala di seluruh 92 lokasi untuk menjaga keberlanjutan program. Kalau pekarangan warga produktif, maka potensi kenaikan harga cabai atau sayuran yang sering memengaruhi angka inflasi kabupaten bisa ditekan dari sisi penawaran.

Pemilihan Kuningan sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Kabupaten ini termasuk daerah dengan konsumsi sayuran dan tanaman obat tradisional yang tinggi diJabar bagian timur. Potensi pekarangan yang belum tergarap secara optimal menjadi celah yang coba dijawab lewat program ini.