Pencarian Korban Longsor Cisarua Bandung Barat Terkendala Cuaca dan Lumpur
Update terbaru bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua Kabupaten Bandung Barat pada 24 Januari 2026: 8 orang tewas, 82 warga masih hilang, dan tim SAR terkendala cuaca tidak menentu serta lumpur tebal dalam proses pencarian korban.

Update Terbaru Bencana Tanah Longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua KBB
Bencana tanah longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) telah menimbulkan korban jiwa yang memprihatinkan. Menurut laporan resmi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 8 orang telah dinyatakan tewas dan sebanyak 82 warga masih dalam status hilang hingga pukul 10.30 WIB pada hari kejadian.
Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam sebelum longsor terjadi. Material longsoran yang terbentuk bukanlah tanah kering, melainkan lumpur bercampur air yang dengan cepat menimbun permukiman warga di area terdampak.
Kendala Utama Tim SAR dalam Pencarian Korban
Tim SAR gabungan yang melakukan operasi pencarian korban menghadapi dua kendala utama yang memperlambat proses evakuasi:
- Cuaca yang tidak menentu: Hujan turun secara tiba-tiba, bergantian dengan kondisi cerah yang hanya berlangsung sebentar. Hal ini berpotensi memicu longsoran susulan yang lebih berbahaya.
- Lumpur tebal yang menutupi medan: Material longsoran yang berupa lumpur bercampur air membuat medan menjadi sangat licin dan tidak stabil. Tim SAR kesulitan bergerak, dan alat berat tidak dapat diturunkan ke lokasi terdampak.
"Kita tidak pernah tahu, bisa terjadi longsoran air yang membawa material tanah. Material yang menimbun korban adalah lumpur bercampur air, bukan tanah kering. Kami terkendala cuaca, kita bisa sama-sama lihat sebentar terang sebentar hujan" — Ade Dian Permana, Kepala Kantor SAR Bandung
Ade Dian juga menegaskan bahwa hingga saat ini, penggunaan alat berat tidak memungkinkan karena kondisi medan yang sangat berlumpur. "Melihat medan yang berlumpur, alat berat tidak memungkinkan untuk turun saat ini," ujarnya.
Strategi Pencarian Korban yang Diterapkan Tim SAR
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim SAR telah menerapkan beberapa strategi:
- Pembagian area pencarian: Setelah melakukan asesmen awal pada hari pertama operasi, tim SAR akan membagi area terdampak menjadi beberapa titik untuk mempermudah proses pencarian korban.
- Fokus pembuatan akses jalan: Tim sedang memprioritaskan pembuatan akses jalan yang aman menuju lokasi terdampak agar proses evakuasi dapat dilanjutkan dengan lebih lancar.
- Penggunaan tenaga manusia dan alat ringkas: Karena alat berat tidak dapat digunakan, tim SAR menggunakan tenaga manusia dan alat ringkas seperti sekop, penggaruk, dan detektor korban untuk mencari warga yang masih hilang.
Dampak Bencana Terhadap Warga dan Lingkungan
Bencana ini telah berdampak pada 34 kepala keluarga atau sekitar 113 jiwa. Dari jumlah tersebut, 23 orang berhasil selamat dan telah dievakuasi ke tempat penampungan sementara. Jumlah rumah yang rusak atau hancur akibat longsor masih dalam proses pendataan oleh petugas di lapangan.
Warga sekitar juga turut membantu tim SAR dalam proses pencarian korban, membersihkan puing bangunan dan lumpur untuk menemukan tanda-tanda korban yang masih hilang.
Analisis Penyebab dan Upaya Pencegahan Masa Depan
Terjadinya tanah longsor di Desa Pasirlangu tidak terlepas dari faktor lingkungan dan cuaca. Wilayah Cisarua termasuk daerah yang rawan longsor karena topografi yang bergelombang dan adanya lembah yang rentan terhadap genangan air. Hujan intens tinggi yang berlangsung lama dapat merusak stabilitas tanah, menyebabkan tanah longsor dengan material lumpur yang lebih berbahaya.
Untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa depan, pemerintah daerah perlu meningkatkan upaya pencegahan seperti:
- Pembuatan saluran drainase yang memadai untuk mengurangi genangan air
- Pemberian edukasi kepada warga tentang tanda-tanda awal longsor
- Pemantauan cuaca dan peringatan dini yang lebih tepat waktu