Pavel Durov Dituntut Hukuman Seumur Hidup, Telegram Disangka Sarana Koordinasi Terorisme oleh FSB Rusia
Rusia mendakwa Pavel Durov dengan tuduhan membantu terorisme. Jika terbukti bersalah, pendiri Telegram itu terancam hukuman seumur hidup. FSB menuding Telegram menjadi alat koordinasi sabotase dan penipuan siber.

Platform pesan Telegram kini menghadapi tekanan internasional setelah pendiri dan CEO-nya, Pavel Durov, resmi masuk dalam daftar buronan Rusia. Durov didakwa dengan tuduhan membantu terorisme. Hukuman yang menanti jika terbukti bersalah adalah pidana penjara seumur hidup.
FSB Klaim Telegram jadi Wadah Aktivitas Teroris
Dinas Keamanan Federal Rusia atau FSB menuding Telegram gagal删除 berbagai saluran, obrolan, dan bot yang diduga digunakan oleh intelijen Ukraina serta organisasi teroris. Saluran-saluran itu dituduh menjadi alat koordinasi sabotase, pembunuhan massal, hingga penipuan siber yang menelan korban jiwa di Rusia.
Baca Juga: Police Story: Lockdown Angkat Kisah Inspektur Selamatkan Sandera di Klub Malam
FSB bahkan mengklaim pihak Ukraina menggunakan chatbot kencan di Telegram untuk memikat dan merekrut warga Rusia. Menurut FSB, 46 pengguna chatbot tersebut berusia 12 hingga 22 tahun telah ditahan sejak Juli 2025. Mereka dituduh melakukan penyerangan terhadap aparat dan pembakaran.
Upaya pemblokiran Telegram oleh Rusia sebenarnya pernah dilakukan pada 2018 hingga 2020, namun berakhir gagal. Platform ini tetap bisa diakses warga Rusia hingga saat ini.
Durov Bantah Tudingan sebagai Akal-Akalan Otoritas
Menanggapi tekanan ini, Durov melalui mediosolembah menyatakan bahwa penyelidikan kriminal terhadap dirinya hanyalah akal-akalan otoritas Rusia. Ia menuduh Moskow sengaja mengarang dalih untuk membatasi akses Telegram demi membungkam privasi dan kebebasan berpendapat.
Baca Juga: Staf Administrasi NZ Mengundurkan Diri Usai Komentar Hina Pasien BPJS di RSUD Dr. Soekardjo Viral
Telegram saat ini diketahui berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab. Durov sendiri memiliki kewarganegaraan ganda Prancis dan Uni Emirat Arab.
Langkah Hukum Internasional yang Sulit Dilawan
Langkah Rusia mendakwa Durov menunjukkan bagaimana Kremlin menggunakan sistem hukum internasional untuk mengejar warga negara yang sudah pindah ke luar negeri. Interpol telah أصدرkan Red Notice atas Durov, yang berarti buronan ini dicari di 196 negara.
Kasus ini memiliki kesamaan dengan Kasus Riza Chalid yang juga melibatkan buronan yang dicari lewat sistem Interpol. both kasus ini menunjukkan bahwa status kewarganegaraan ganda tidak melindungi seseorang dari upaya penuntutan negara asal.
Ekspansi Pembatasan Digital di Rusia
Di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, Rusia memang makin gencar membatasi ruang digital. Berbagai undang-undang restriktif disahkan, platform yang tidak patuh diblokir, dan teknologi pemantauan komunikasi online warga terus dikembangkan. Langkah ini semakin agresif sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022.
Facebook, Instagram, dan X sudah lebih dulu dilarang di Rusia. Aplikasi populer lain seperti WhatsApp, Signal, hingga Viber juga mulai dibatasi atau diblokir total. Nasib Telegram kini bergantung pada negosiasi antara Moskoldan negara-negara yang menjadi tempat perlindungan Durov.