Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Nganteuran: Makna dan Nilai Luhur Tradisi Sunda di Hari Raya Idulfitri

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Tradisi nganteuran masyarakat Sunda di Hari Raya Idulfitri bukan hanya berbagi makanan, tapi sarat makna kasih sayang, silaturahmi, dan keharmonisan sosial yang mulai memudar di zaman modern.

Nganteuran: Makna dan Nilai Luhur Tradisi Sunda di Hari Raya Idulfitri

Di tengah kemeriahan suasana Hari Raya Idulfitri, masyarakat Sunda memiliki tradisi khas yang tidak hanya menampilkan ragam hidangan lezat, tapi juga menyimpan makna mendalam tentang kebersamaan, kasih sayang, dan keharmonisan sosial: nganteuran. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari budaya lokal Jawa Barat, dan tetap relevan meskipun menghadapi tantangan dari perubahan zaman.

Makna Etymologis Nganteuran

Secara etimologis, istilah nganteuran berasal dari bahasa Sunda yang berarti "mengantarkan". Secara praktis, tradisi ini merujuk pada kebiasaan mengirimkan makanan khas Lebaran kepada keluarga, tetangga, atau kerabat. Hidangan yang biasanya diantarkan meliputi ketupat, opor ayam, lauk-pauk, hingga aneka kue kering Lebaran. Biasanya, makanan tersebut dikemas dalam rantang bertingkat dan diantarkan oleh anggota keluarga yang lebih muda kepada yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.

Makna Sosial dan Spiritual yang Mendalam

Lebih dari sekadar kegiatan berbagi makanan, nganteuran memiliki lapisan makna sosial dan spiritual yang sangat mendalam. Tradisi ini berfungsi sebagai sarana untuk mempererat silaturahmi serta memperkuat hubungan antarkeluarga dan masyarakat luas. Masyarakat Sunda percaya bahwa makanan yang diterima dari orang lain terasa lebih nikmat karena terbungkus oleh rasa cinta, kepedulian, dan keikhlasan yang tulus.

Dalam tulisan Renungan Pagi Edisi Maret 2023 oleh Tim Kreatif Bahana (34:2023), nganteuran juga dikenal sebagai "tukar rantang", yaitu kegiatan saling mengirim dan menerima makanan antarwarga.

"Nganteuran menciptakan interaksi sosial yang hangat dan membangun kehidupan bertetangga yang harmonis. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya meliputi kasih sayang, tanggung jawab, dan keserasian hidup."

Nilai-nilai ini juga sejalan dengan ajaran moral dan keagamaan, di mana nganteuran dijadikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan serta praktik tolong-menolong atau ta’awun antarsesama.

Rantang: Wadah yang Sarat Makna

Rantang yang digunakan dalam tradisi nganteuran bukan hanya sekadar wadah untuk menyimpan makanan. Benda ini menjadi simbol solidaritas sosial yang kuat, yang mencerminkan kehidupan masyarakat Sunda yang senang menjunjung tinggi kebersamaan dan saling berbagi. Setiap lapisan rantang yang disusun mewakili bagian dari kebersamaan yang erat antara pengirim dan penerima.

Kemunduran Tradisi di Era Modern

Sayangnya, seiring dengan perubahan zaman dan gaya hidup modern, tradisi nganteuran mulai jarang ditemui, terutama di wilayah perkotaan. Faktor seperti kesibukan pekerjaan, meningkatnya individualisme, serta pergeseran pola interaksi sosial telah membuat tradisi ini perlahan memudar. Saat ini, hanya beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Kabupaten Cianjur, yang masih berupaya melestarikan nganteuran sebagai bagian dari warisan budaya mereka.

Pentingnya Melestarikan Nganteuran di Zaman Kini

Meskipun sedang menghadapi kemunduran, nganteuran menyimpan nilai-nilai luhur yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan cenderung individualistis, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya kembali pada nilai-nilai kebersamaan dan saling peduli.

Melestarikan nganteuran bukan hanya berarti menjaga warisan budaya, tapi juga merawat jalinan kemanusiaan yang erat. Setiap rantang yang diantarkan membawa lebih dari sekadar hidangan: ia membawa makna cinta, kepedulian, dan harapan akan kehidupan yang lebih harmonis dan bersatu. Bagi masyarakat Sunda, nganteuran adalah bukti bahwa kebersamaan tetap menjadi inti dari setiap perayaan Idulfitri.