Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Munggahan: Meniti Jejak Spiritual dalam Tradisi Masyarakat Sunda

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Munggahan adalah ritual tahunan masyarakat Sunda di Jawa Barat menjelang Ramadan dengan filosofi peningkatan spiritual dan keharmonisan sosial. Setelah akulturasi Islam, tradisi ini tetap menjadi persiapan penting memasuki bulan suci melalui silaturahmi, nyekar, dan makan bersama.

Munggahan: Meniti Jejak Spiritual dalam Tradisi Masyarakat Sunda

Munggahan Sunda: Filosofi 'Naik' Spiritual dan Harmoni Budaya Sebelum Ramadan di Jawa Barat

Setiap menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Sunda di Jawa Barat menggelar ritual tahunan yang penuh kehangatan bernama Munggahan. Bukan sekadar ajang berkumpul, tradisi ini menyimpan nilai filosofis mendalam yang menjadi jembatan antara masa lalu dan sekarang, serta antara budaya lokal dengan ajaran agama.

Filosofi Etimologis yang Tersembunyi di Balik Nama "Munggahan"

Kata "Munggahan" berasal dari bahasa Sunda munggah atau unggah, yang berarti "naik" atau "meningkatkan". Istilah unggah izin puasa nujul darajatna yang sering digunakan dalam konteks ini memiliki makna mendalam: memasuki bulan Ramadan bukan hanya sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai perjalanan untuk meningkatkan derajat spiritual dan moral diri.

Selain itu, makna "naik" juga mencerminkan konsep pulang ke akar atau kembali ke kampung halaman. Di masa pra-modern, masyarakat Sunda banyak tinggal di tepian sungai, sehingga perjalanan dari daerah hilir (muara) ke hulu (atas) dianggap sebagai "naik" ke tempat asal. Munggahan kemudian menjadi simbol perjalanan batin untuk kembali ke nilai-nilai luhur leluhur.

Asal Usul Munggahan dari Dinamika Komunikasi Tradisional Tatar Sunda

Menurut paparan dalam jurnal Etnoreflika (2024), tradisi Munggahan berawal dari dinamika komunikasi antara dua kelompok masyarakat Sunda:

Pertemuan sakral kedua kelompok ini terjadi pada Bulan Ruwah (Syakban), waktu yang diyakini sebagai momen berkumpulnya arwah leluhur. Karena warga handap dianggap tidak layak berkomunikasi langsung dengan Yang Maha Kuasa, warga hinggil bertindak sebagai perantara. Ritual Munggahan kemudian menjadi ajang pertemuan untuk memanjatkan doa bersama untuk para leluhur.

"Munggahan awalnya adalah ajang sakral yang menghubungkan antara mereka yang tinggal di kampung halaman dengan mereka yang merantau, serta antara manusia dengan arwah leluhur." – Paparan Jurnal Etnoreflika (2024)

Akulturasi Harmoni: Munggahan dalam Ajaran Islam

Ketika Islam masuk ke Tatar Sunda, tradisi Munggahan mengalami akulturasi budaya yang harmonis. Esensi penyucian diri dan silaturahmi yang ada dalam tradisi asli disesuaikan dengan ajaran Islam, sehingga menjadi bagian dari persiapan memasuki bulan suci.

Kini, Munggahan biasanya dilaksanakan satu atau dua hari sebelum puasa dimulai dengan beberapa kegiatan utama:

Munggahan Sebagai Jembatan Lintas Generasi di Era Modern

Di era modern yang serba cepat, Munggahan tetap menjadi tradisi yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Sunda. Bagi mereka, Munggahan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga persiapan mental, fisik, dan sosial sebelum memasuki "madrasah Ramadan" selama satu bulan penuh.

Tradisi ini juga berfungsi sebagai jembatan lintas generasi, di mana nilai-nilai luhur leluhur seperti keharmonisan sosial, kesyukuran, dan rasa hormat terhadap orang tua serta leluhur tetap diteruskan ke generasi muda. Munggahan menjadi bukti hidup bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan tanpa konflik, serta menjadi identitas budaya yang khas masyarakat Sunda di Jawa Barat.

Dengan mempertahankan tradisi Munggahan, masyarakat Sunda tidak hanya mempersiapkan diri memasuki bulan suci Ramadan, tetapi juga menjaga kerukunan dan keutuhan budaya yang telah ada selama berabad-abad.