Momentum 10 Muharram: Pelajaran Persaudaraan untuk Umat Islam di Jawa Barat
Dialog 10 Muharram di Sumedang ajak umat Islam Jawa BaratTeladan nilai pengorbanan demi persatuan melalui kearifan lokal dan prinsip moderasi NU.

SILATURAHMI dan Diskusi Kebangsaan Menjelang 10 Muharram menjadi momen penting untuk menggali nilai-nilai persaudaraan Islam di Jawa Barat.
Refleksi 10 Muharram sebagai Momentum Persatuan
Forum diskusi dengan tema "Menguatkan Ukhuwah Islamiyah, Meneladani Nilai Pengorbanan, dan Menjaga Harmoni Sosial" diselenggarakan di Hotel Puri Khatulistiwa, Jl. Raya Jatinangor KM 20, Sumedang, pada Minggu, 14 Juni 2026. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber terkemuka dari berbagai kalangan.
Ketiga narasumber tersebut分别是:
- Dr. KH. Ramdan Fawzi, M.Ag. — Dosen Fakultas Syariah UNISBA
- KH. Ahmad Dasuki, S.IP., M.M. — Wakil Ketua PWNU Jawa Barat
- K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, Lc., M.A. — Ketua Dewan Syura IJABI
Mengambil Makna Tragedi Karbala untuk Masa Kini
Dalam pemaparannya, Dr. KH. Ramdan Fawzi menegaskan bahwa perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan umat manusia. Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar kemampuannya untuk menerima perbedaan.
"Pelajaran utama dari tragedi Karbala bukanlah memelihara dendam terhadap figur sejarah, melainkan melawan sifat-sifat buruk yang masih hidup hingga kini, seperti kezaliman, keserakahan, penindasan, dan provokasi yang memecah belah umat."
Beliau juga menekankan pentingnya hifdzul ummah (menjaga persatuan umat) sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. Nilai tersebut dapat diperkuat melalui kearifan lokal Sunda: silih asah, silih asih, silih asuh.
Lima Prinsip Moderasi Berpikir ala NU
KH. Ahmad Dasuki menguraikan pentingnya tradisi berpikir moderat dalam merawat persaudaraan. Ada lima prinsip pemikiran Nahdlatul Ulama yang perlu menjadi pedoman:
- Tawasuth — Moderat
- Tasamuh — Toleran
- Islahiyyah — Semangat perbaikan
- Tathawwuriyah — Dinamis
- Manhajiyah — Beragama dengan metodologi
"Umat Islam perlu memperbanyak rihlah intelektual agar mampu memahami sudut pandang kelompok lain. Koeksistensi damai tidak berarti meleburkan identitas, tetapi saling menghormati dan hidup berdampingan secara dewasa."
Pelajaran dari Piagam Madinah untuk Keharmonisan Sosial
K.H. Miftah Fauzi Rakhmat mengajak peserta melihat 10 Muharram sebagai ruang refleksi untuk memperluas cinta, pengorbanan, dan manfaat sosial. Beliau menghubungkan nilai Muharram dengan pelajaran Piagam Madinah.
Inti dari pelajaran tersebut adalah pentingnya menjaga kesepakatan bersama dan tidak mengganggu tradisi masyarakat yang telah mapan selama tidak bertentangan dengan kemaslahatan.
"Ekspresi kecintaan kepada Ahlul Bait dan peringatan 10 Muharram perlu diwujudkan secara menyejukkan, membawa manfaat, dan tidak menimbulkan kegelisahan sosial."
Menjadikan Perbedaan sebagai Kekayaan, Bukan Sumber Konflik
Para narasumber menyoroti beberapa poin penting dalam sesi diskusi:
- Pentingnya dialog lintas kelompok Islam
- Penguatan literasi keagamaan
- Perlunya menahan diri dari ekspresi keberagamaan yang berpotensi disalahpahami
- Perbedaan mazhab dan tradisi harus dipahami sebagai kekayaan intelektual umat Islam
Harapannya untuk Jawa Barat
Penyelenggara berharap hasil diskusi ini tidak berhenti sebagai wacana forum, melainkan dapat disebarluaskan melalui media sosial, kanal digital, dan kegiatan sosial yang konkret. Dengan demikian, pesan ukhuwah dan harmoni dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Momentum 10 Muharram di Jawa Barat ini diharapkan menjadi titik temu untuk:
- Merawat persaudaraan
- Meneladani pengorbanan
- Memperkuat harmoni sosial
- Memperluas manfaat bagi umat, bangsa, dan masyarakat Jawa Barat