Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Menyusuri Desa Pasirpogor: Sebuah Kisah dari Hutan “Leuweung”

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Desa Pasirpogor di Bandung Barat memiliki sejarah sejak era kolonial, dari hutan lebat menjadi desa agraris. Pemekaran wilayah, administrasi tanah, dan kehidupan bertani membentuk identitasnya.

Menyusuri Desa Pasirpogor: Sebuah Kisah dari Hutan “Leuweung”

Sejarah Desa Pasirpogor Bandung Barat: Dari Hutan Lebat ke Sentra Agraris

BANDUNG BARAT — Desa Pasirpogor di Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, menyimpan jejak sejarah panjang yang membentang sejak masa kolonial hingga era modern.

Perjalanan desa ini menjadi gambaran bagaimana masyarakat Sunda beradaptasi dengan perubahan lingkungan, tata kelola pemerintahan, dan dinamika sosial ekonomi dari waktu ke waktu.

Asal Usul Nama dan Kondisi Geografis

Secara etimologis, Pasirpogor berasal dari bahasa Sunda. Kata pasir berarti bukit, sedangkan pogor merujuk pada bagian bawah batang pohon yang tersisa setelah ditebang.

Nama tersebut mencerminkan kondisi geografis wilayah yang dahulu berupa perbukitan dengan tegakan pohon besar.

Pada masa awal pembentukannya, wilayah Pasirpogor dikenal sangat luas, bahkan mencakup daerah yang kini menjadi Desa Cijenuk dan Desa Puncaksari.

Jejak Administrasi Era Kolonial

Catatan sejarah menyebut wilayah ini pernah dipimpin tokoh kharismatik yang dikenal sebagai Ayah Apung pada masa kolonial Belanda.

Salah satu bukti administratif tertua adalah Buku Leter C, dokumen kepemilikan tanah yang menunjukkan sekitar tahun 1918 jumlah pemilik lahan hanya sekitar 30 orang.

Dalam narasi turun-temurun, proses legalisasi tanah saat itu menggunakan cap khusus bergambar singa dan kelapa sebagai simbol pengesahan otoritas kolonial.

Pada tahun 1938, sebagian wilayah Pasirpogor dimekarkan menjadi Desa Cijenuk dan bergabung dengan Kecamatan Cipongkor. Tidak lama kemudian, wilayah selatan membentuk Desa Puncaksari.

Perkembangan Tata Kelola Desa

Pusat pemerintahan desa awalnya berada di Kampung Malandang dengan bangunan kayu sederhana.

Pada 1969, kantor desa dipindahkan ke Kampung Cigandu (Pasir Gandu) dan menjadi pusat administrasi permanen hingga kini.

Struktur pemerintahan internal juga berkembang, dari dua dusun menjadi tiga dusun pada 1976 untuk memperluas jangkauan pelayanan.

Dalam periode awal abad ke-20, sosok Mah Petinggi (1902–1910) tercatat sebagai kepala kampung yang dipercaya memimpin dan membangun tata kelola desa.

Transformasi Ekonomi dan Kehidupan Agraris

Wilayah Pasirpogor pada mulanya berupa hutan lebat atau leuweung yang didominasi bambu, aren, dan tanaman perdu.

Masyarakat membuka lahan secara bertahap untuk pertanian. Sebelum alat modern seperti cangkul dikenal, bambu kuning digunakan untuk menggemburkan tanah.

Kesuburan lahan menarik pendatang dari berbagai daerah. Selain bertani padi, masyarakat mengonsumsi hasil olahan lokal seperti gabeng dari aren, serta gatot, geong, dan gaplek berbahan singkong.

Ternak seperti kerbau, domba, ayam, dan bebek dipelihara untuk mendukung ekonomi keluarga. Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk alami sebelum pupuk kimia mulai digunakan pada 1969.

Dalam aspek sandang, sebelum 1962, masyarakat memanfaatkan bahan sederhana seperti karung tepung terigu sebagai pakaian. Seiring perkembangan waktu, bahan tekstil yang lebih nyaman mulai digunakan.

Warisan Budaya dan Ketahanan Sosial

Perjalanan panjang Desa Pasirpogor mencerminkan ketahanan masyarakat agraris Sunda dalam menghadapi perubahan.

Dari hutan lebat hingga menjadi kawasan permukiman dan pertanian yang berkembang, desa ini menjadi saksi hidup adaptasi sosial, ekonomi, dan budaya.

Dengan akar tradisi yang kuat dan kemampuan bertransformasi, Pasirpogor tetap berdiri sebagai bagian penting dari sejarah lokal Kabupaten Bandung Barat.