Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Mengungkap Sejarah Pesantren Tertua Bandung Barat: Jejak Pendidikan Islam Abad ke-19

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Telusuri jejak pondok pesantren tertua di Bandung Barat yang telah berdiri sejak abad ke-19. Artikel ini mengupas peran mereka dalam sejarah pendidikan Islam, adaptasi, dan warisan keilmuan yang terus hidup hingga kini.

Mengungkap Sejarah Pesantren Tertua Bandung Barat: Jejak Pendidikan Islam Abad ke-19

Menelusuri Jejak Sejarah: Pendidikan Islam Abad ke-19 di Bandung Barat

Bandung Barat, sebuah wilayah yang kaya akan warisan budaya dan spiritual, menyimpan sejarah panjang pendidikan Islam yang telah membentuk karakter masyarakatnya. Pondok pesantren, sebagai institusi pendidikan tradisional, memainkan peran fundamental dalam penyebaran ilmu agama serta pembentukan moral dan karakter santri. Uniknya, beberapa pesantren tertua di daerah ini telah berdiri kokoh sejak era kolonial, bahkan sebelum kemerdekaan, membuktikan resiliensi dan adaptabilitasnya terhadap perubahan zaman.

Tiang Pancang Pendidikan Islam: Pesantren-Pesantren Perintis

Berdirinya pesantren-pesantren ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan di Bandung Barat. Berikut adalah beberapa di antaranya yang telah menorehkan tinta emas:

Didirikan pada tahun 1895 M oleh KH Mashduqi (Mama Sepuh), Al-Mashduqiyah menjadi salah satu pesantren tertua. Dengan fokus pada sistem pendidikan salafiyah dan pengkajian kitab kuning, pesantren ini tidak hanya menjadi pusat ilmu, tetapi juga saksi bisu perjuangan melawan kolonialisme hingga masa kemerdekaan. Hingga kini, semangat dakwah dan pendidikannya terus berkobar.

Digagas pada 1907 oleh KH Muhammad Asy’arie, Al-Bidayah memulai kiprahnya dari sebuah masjid sederhana dan kediaman sang kiai. Di bawah kepemimpinan KH Muhammad Sirodj, pesantren ini menunjukkan evolusi signifikan dengan berhasil mengintegrasikan pendidikan pesantren tradisional dengan sistem pendidikan formal, sebuah inovasi di masanya.

Kembali ke tahun 1908, KH Muhammad Ilyas, yang dikenal sebagai Mama Cibitung, mendirikan Pesantren Sukamanah di Kampung Sukamanah, Desa Cibitung, Kecamatan Rongga. Pesantren ini tetap setia pada tradisi pendidikan Islam salafiyah dan menjadi rujukan utama bagi keilmuan agama di wilayah tersebut.

Melanjutkan Tradisi dan Berinovasi: Pesantren Pasca-Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan, semangat mendirikan pusat pendidikan Islam terus berlanjut, dengan beberapa di antaranya menjadi institusi penting:

Berdiri pada 1960, Al-Fatah adalah pesantren tertua di wilayah Gununghalu. Selain fokus pada kajian kitab kuning, pesantren ini juga aktif mengembangkan program _tahfiz Al-Qur’an_, mencetak generasi penghafal Al-Qur'an.

Dirintis sejak 1962 oleh KH Usman Sudirman, Al-Mubin dikenal karena mempertahankan ciri khas pesantren tradisional. Pendidikan di sini tidak hanya menekankan penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan kepekaan sosial santri, menyiapkan mereka untuk berkontribusi pada masyarakat.

Didirikan pada 1968 oleh KH Muhammad Zainul Akhyar, seorang ulama kharismatik dari Sindangkerta, Babussalam dikenal sebagai penjaga tradisi keilmuan pesantren, khususnya dalam pengkajian hadis, menjadi mercusuar ilmu bagi para santri.

Pada 1970 M, KH Asep Burhanuddin memprakarsai berdirinya Darul Falah. Berawal dari pesantren salafi tradisional, institusi ini berkembang pesat dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan formal, namun tetap kokoh menjaga identitas pesantrennya yang autentik.

>