Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Mengenal Pakeman Sunda, Seni Kiasan Unik dalam Idiom Sunda

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Artikel ini mengulas pengertian, jenis, dan peran pakeman basa (idiom) bahasa Sunda, beserta contoh babasan dan paribasa yang umum digunakan di Bandung Barat dan sekitarnya.

Mengenal Pakeman Sunda, Seni Kiasan Unik dalam Idiom Sunda

Pakeman Basa: Idiom Khas Sunda dengan Makna Budaya Lokal

Pernah mendengar orang Sunda menggunakan ungkapan yang maknanya tidak bisa diterjemahkan secara harfiah? Istilah semacam ini dikenal sebagai pakeman basa, atau idiom dalam bahasa Indonesia, yang merupakan bagian dari kekayaan linguistik dan budaya masyarakat Sunda, khususnya di wilayah Bandung Barat dan sekitarnya. Tidak seperti ungkapan biasa, pakeman basa lahir dari pengalaman sosial dan budaya yang panjang, dan memiliki makna yang disepakati secara kolektif oleh penuturnya. Artikel ini akan mengulas secara mendalam pengertian, jenis, dan peran pakeman basa dalam komunikasi sehari-hari, beserta contoh yang umum digunakan.

Pengertian Pakeman Basa: Aturan Bahasa yang Terbentuk Secara Kolektif

Pakeman basa merupakan ketentuan bahasa yang maknanya telah disepakati secara kolektif oleh penuturnya. Tidak seperti ungkapan biasa, makna idiom tidak dapat ditafsirkan secara lepas kata per kata, sebab ia terbentuk dari pengalaman sosial dan budaya yang panjang hingga menjadi identitas linguistik yang tidak bisa diubah sembarangan.

Selain itu, idiom juga memiliki pola struktur bahasa yang sudah mapan; jika susunan katanya diubah, maknanya akan hilang atau menjadi rancu. Hal ini menjadikan pakeman basa memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dari ungkapan sehari-hari, dan menjadi ciri khas komunikasi masyarakat Sunda.

Jenis Pakeman Basa di Masyarakat Sunda

Terdapat dua jenis pakeman basa yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda, yaitu babasan dan paribasa.

Babasan: Ungkapan Khas untuk Mendeskripsikan Karakter Individu

Babasan merupakan bentuk pakeman basa yang digunakan untuk menggambarkan sifat, watak, atau keadaan seseorang secara kiasan. Meski singkat, ungkapan ini mampu memotret karakter seseorang dengan sangat tajam. Contohnya adalah istilah amis budi: secara harfiah berarti "manis budi", tetapi maknanya merujuk pada orang yang tampak ramah dan baik di luar, namun menyimpan niat buruk di dalam. Ungkapan ini sering digunakan sebagai peringatan agar lebih waspada dalam bergaul.

Paribasa: Ungkapan untuk Menyampaikan Nasihat dan Pelajaran Hidup

Selain babasan, jenis pakeman basa lain yang umum digunakan adalah paribasa, yang lebih sering digunakan untuk menyampaikan nasihat atau pelajaran hidup yang bersifat umum. Alih-alih berkata "jangan menyerah", masyarakat Sunda kerap menggunakan ungkapan "cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok". Ungkapan ini mengajarkan bahwa usaha kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan sesuatu yang bermakna dan bermanfaat.

Perbedaan mendasar antara babasan dan paribasa terletak pada fokusnya: babasan lebih berfokus pada karakter individu, sedangkan paribasa berfokus pada pelajaran hidup yang dapat diterapkan oleh siapa saja.

Peran Pakeman Basa dalam Komunikasi Sehari-hari

Menggunakan idiom dalam percakapan bukan sekadar menunjukkan kekayaan kosakata, tetapi juga mencerminkan kecerdasan budaya. Melalui pakeman basa, seseorang dapat menyampaikan kritik, nasihat, atau pujian dengan cara yang halus, tanpa melukai perasaan lawan bicara.

Contohnya, alih-alih mengatakan "kamu terlalu sombong", seseorang dapat menggunakan babasan yang lebih halus untuk menyampaikan pesan yang sama. Hal ini membuat komunikasi menjadi lebih hangat dan penuh makna, serta memperkuat identitas budaya masyarakat Sunda.

Di tengah arus globalisasi yang membuat bahasa sehari-hari semakin sederhana dan seragam, keberadaan pakeman basa menjadi bukti kekayaan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. Dengan memahami dan menggunakan idiom Sunda, kita tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga menghargai warisan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Ditulis oleh: Anggie Baeduri Aulia R | Diedit oleh: Ayu Diah Nur’azizah