Mengenal Ngaras: Tradisi Sakral Permohonan Restu Pernikahan Adat Sunda
Jelajahi *ngaras*, tradisi sakral pra-pernikahan adat Sunda yang penuh makna. Dari sungkeman hingga membasuh kaki, upacara ini simbolisasi bakti dan permohonan restu orang tua, diselipkan nasihat hidup dan alunan kecapi suling.

Mengulas Ngaras: Jejak Sakral Restu dalam Pernikahan Adat Sunda
Dalam laku budaya masyarakat Sunda, pernikahan bukan sekadar ikatan janji dua insan, melainkan sebuah peristiwa sakral yang melabuhkan nilai-nilai adat, moral, dan spiritual yang mendalam. Sebelum janji suci terucap, serangkaian upacara adat dijalankan, seperti ngaras, siraman, dan ngeuyeuk seureuh. Setiap tahapan ini memikul makna simbolis yang kaya, dan di antara itu, upacara ngaras atau ngahiras menonjol sebagai permohonan restu yang penuh penghayatan.
Genealogi dan Evolusi Ngaras
Tradisi ngaras bukanlah warisan turun-temurun yang hadir begitu saja. Berdasarkan jurnal Irfan (2020), ngaras merupakan buah gagasan kreatif budayawan Sunda terkemuka, Rd. Hidayat Suryalaga. Prosesi ini diperkenalkan pada tahun 1975 sebagai pelengkap rangkaian upacara pra-pernikahan adat Sunda. Debutnya yang bersejarah terjadi dalam pernikahan salah satu putra Gubernur Jawa Barat kala itu, Haji Aang Kunaefi, dan sejak saat itu, ngaras mulai dikenal luas serta diadopsi dalam berbagai prosesi pernikahan adat Sunda.
Tafsir Makna yang Beragam
Secara etimologis, istilah ngaras memiliki spektrum penafsiran yang menarik:
- Dalam bahasa Jawa: ngaras dimaknai sebagai sungkem atau munjungan, yang mengacu pada gestur penghormatan dan permohonan maaf.
- Dalam bahasa Kawi: istilah ini berakar dari kata raras, yang menyimpan arti senang, indah, dan haru, memancarkan emosi mendalam yang menyertai prosesi.
- Dalam bahasa Sunda: ngaras berkelindan erat dengan kata raas, yang berarti menyeberangi air dangkal. Hal ini secara implisit mengaitkan tradisi ini dengan penggunaan air sebagai elemen penting dalam ritual.
- Versi Rd. Oesman Sadli Sumadilaga: menginterpretasikan ngaras sebagai prosesi membasuh telapak kaki kedua orang tua, sebuah simbol kerendahan hati dan bakti.
Pelaksanaan Ngaras: Antara Ritual dan Pendidikan Moral
Dalam buku Budaya Sunda (2021) karya Enok Risdayah dkk., dijelaskan bahwa upacara ngaras umumnya diselenggarakan pada sore hari dan memiliki sifat terbuka. Artinya, siapa pun dapat hadir untuk menyaksikan prosesi tersebut. Keterbukaan ini menjadikan ngaras lebih dari sekadar ritual keluarga; ia menjelma menjadi sarana pendidikan nilai yang komunal. Di dalamnya terkandung nasihat-nasihat kehidupan yang disampaikan oleh para sesepuh, baik dari kalangan tokoh agama maupun tokoh masyarakat, yang seringkali diiringi alunan merdu musik tradisional kecapi suling.
Puncak Penghormatan: Rangkaian Prosesi Ngaras
Rangkaian upacara ngaras diawali dengan pembukaan penuh khidmat oleh pembawa acara. Setelah itu, prosesi sungkeman menjadi inti utama ritual:
- Sungkeman kepada Ibu: Calon pengantin bersujud di pangkuan ibu masing-masing. Ini adalah ungkapan tulus terima kasih, permohonan maaf atas segala kekhilafan, serta permintaan doa restu yang tak ternilai harganya.
- Sungkeman kepada Ayah: Prosesi dilanjutkan kepada ayah, dengan makna dan penghayatan yang serupa, menegaskan peran sentral ayah dalam perjalanan hidup anak.
- Sungkeman kepada Calon Mertua: Tahap ini meluaskan lingkup sungkeman kepada orang tua calon pasangan. Calon pengantin perempuan bersungkeman kepada ibu dan ayah calon suami, begitu pula calon pengantin laki-laki kepada ibu dan ayah calon istri. Prosesi ini secara simbolis menandai penerimaan kedua calon pengantin ke dalam keluarga besar masing-masing, mempererat tali silaturahmi yang baru.
Setelah sungkeman berakhir, rangkaian upacara beranjak ke prosesi membasuh kaki kedua orang tua. Kaki dibasuh menggunakan air dan sabun wangi, kemudian dikeringkan dengan handuk lembut. Prosesi ini sarat makna pengabdian dan bakti seorang anak kepada orang tua, merefleksikan rasa terima kasih yang mendalam atas kasih sayang, bimbingan, dan pengorbanan yang tak terhingga sepanjang hidup.
Upacara ngaras dengan demikian menjadi pilar penting dalam adat pernikahan Sunda, menegaskan nilai-nilai luhur bakti, penghormatan, dan kesadaran akan peran vital orang tua. Melalui prosesi sarat makna ini, calon pengantin mempersiapkan diri secara batiniah, memantapkan langkah sebelum melaju ke tahapan adat berikutnya, yakni siraman, sebagai simbol penyucian diri menuju gerbang suci pernikahan.