Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Masjid Al Irsyad Satya: Ikon Religi Tanpa Kubah di Bandung Barat

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Masjid Al-Irsyad Satya di Padalarang, Bandung Barat, adalah ikon arsitektur religi kontemporer tanpa kubah dengan desain unik yang telah mendapat pengakuan internasional.

Masjid Al Irsyad Satya: Ikon Religi Tanpa Kubah di Bandung Barat

Terletak di jantung kawasan Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung Barat, Masjid Al-Irsyad Satya telah menjelma menjadi ikon arsitektur religi kontemporer yang mendunia. Bangunan ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan spiritual warga setempat, tetapi juga destinasi wisata religi yang menarik pengunjung dari seluruh Indonesia dan luar negeri berkat desainnya yang berani, sederhana, namun penuh makna filosofis.

Sejarah Pembangunan Masjid Al-Irsyad Satya

Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada 7 September 2009, bertepatan dengan Nuzululqur’an 17 Ramadan 1430 H. Masjid ini kemudian diresmikan secara resmi pada 27 Agustus 2010. Desainnya dibuat oleh Urbane Indonesia, firma arsitektur yang dipimpin oleh Ridwan Kamil—namun saat itu, ia belum menjabat sebagai pejabat publik dan sudah dikenal luas sebagai arsitek visioner dengan pendekatan desain inovatif.

Desain Unik Tanpa Kubah yang Sarat Makna

Ciri paling mencolok dari Masjid Al-Irsyad Satya adalah ketiadaan kubah, bentuk yang umum digunakan pada masjid tradisional Indonesia. Alih-alih, bangunan ini dirancang menyerupai kubus raksasa yang terinspirasi dari Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Ketiadaan kubah bukan hanya pilihan estetis, melainkan simbol tegas tentang esensi tauhid yang sederhana dan kuat.

Selain itu, dinding masjid tersusun dari ribuan batu bata dengan celah-celah strategis. Teknik ini menciptakan efek visual yang unik:

Tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, celah-celah tersebut juga berperan sebagai ventilasi alami. Hal ini membuat sirkulasi udara di dalam masjid tetap baik tanpa menggunakan pendingin ruangan, sejalan dengan konsep ramah lingkungan yang diusung desainer.

Ruang Salat yang Luas dan Tanpa Tiang

Ruang salat Masjid Al-Irsyad Satya cukup luas dan mampu menampung sekitar 1.500 jemaah. Yang menarik, tidak terdapat tiang atau pilar di tengah ruangan untuk menopang atap, sehingga ruang terasa lapang dan terbuka. Hanya empat sisi dinding yang menjadi pembatas sekaligus penopang struktur atap.

Saat memasuki bagian dalam, suasana tenang dan reflektif langsung terasa. Mihrab masjid dibuat terbuka tanpa dinding pembatas, sehingga jemaah dapat memandang langsung perbukitan hijau di hadapan mereka. Pemandangan ini menjadi simbol bahwa dalam beribadah, manusia berhadapan langsung dengan kebesaran ciptaan Allah. Di tengah area utama, terdapat batu bulat besar yang dipahat dengan lafaz Allah sebagai titik fokus yang sederhana namun mendalam.

Langit-langit masjid dihiasi 99 kotak lampu yang merepresentasikan Asmaul Husna, nama-nama indah Allah. Saat malam tiba, cahaya lampu-lampu ini memancarkan suasana syahdu yang memperkuat pengalaman spiritual para jemaah.

"Suasana di sini sangat tenang, desainnya tidak ribet tapi penuh makna. Saya bisa merasakan kedekatan dengan Allah saat salat di sini," ujar seorang jemaah rutin yang datang dari Kota Bandung.

Pengakuan Internasional dan Status Wisata Religi

Keunikan dan kekuatan konsep desain Masjid Al-Irsyad Satya telah mendapat pengakuan dari seluruh dunia. Pada tahun 2010, masjid ini masuk dalam daftar Top 5 Building of the Year versi ArchDaily untuk kategori bangunan religi. Beberapa tahun kemudian, pada 2018, masjid ini meraih IAI Award dari Ikatan Arsitek Indonesia sebagai bangunan ibadah terbaik.

Kini, Masjid Al-Irsyad tak hanya menjadi pusat kegiatan spiritual warga Kota Baru Parahyangan, tetapi juga destinasi wisata religi yang populer. Banyak pengunjung datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk mengagumi keindahan arsitektur yang memadukan seni, alam, dan nilai ketauhidan secara harmonis.