Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Maryam & Maria: Menganalisis Peran Ibu Yesus dalam Dialog Lintas Iman

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Maryam, Bunda Yesus, jembatan dialog Islam-Kristen. Dihormati dalam Al-Qur'an dan Alkitab sebagai simbol suci peran perempuan.

Maryam & Maria: Menganalisis Peran Ibu Yesus dalam Dialog Lintas Iman

Maryam dan Maria: Jembatan Lintas Iman dalam Perspektif Teologis

Dalam lanskap hubungan Islam dan Kristen, perbedaan teologis seringkali mendominasi diskusi. Namun, di balik divergensi tersebut, tersembunyi sebuah ruang dialog yang kaya dan sering terabaikan: figur Maryam dalam Islam dan Maria dalam tradisi Kristen. Mereka bukan sekadar tokoh perempuan dalam narasi keagamaan; keduanya adalah simbol spiritual yang menegaskan kapasitas perempuan untuk membangun relasi iman yang langsung, utuh, dan bermakna dengan Tuhan.

Dalam tradisi Kristen, **Maria dimuliakan sebagai Bunda Allah atau ibu dari Yesus. Di sisi lain, dalam Islam, Maryam dihormati sebagai ibu Nabi Isa** dan simbol kesucian. Menariknya, Maryam adalah satu-satunya perempuan yang namanya diabadikan sebagai nama surah dalam Al-Qur’an. Fakta ini menggarisbawahi penghormatan mendalam dari dua tradisi keagamaan besar terhadap satu figur perempuan yang sama.

Penghormatan ini tidak semata-mata terpaut pada peran domestik atau biologis, melainkan menyoroti kualitas spiritual Maryam dan Maria sebagai titik temu krusial dalam membangun dialog lintas iman, sekaligus simbol universal nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.

Maryam dalam Persepsi Islam: Simbol Kesucian dan Ketakwaan

Dalam perspektif Islam, Maryam binti Imran dipandang sebagai perempuan suci yang sejak kecil telah didedikasikan untuk beribadah di Baitul Maqdis, di bawah pengasuhan Nabi Zakaria. Al-Qur’an mengisahkan kedatangan Malaikat Jibril yang menyampaikan kabar tentang kelahiran seorang putra suci melalui kalimat Allah, tanpa perantara laki-laki.

Maryam digambarkan melahirkan dalam kesendirian di bawah pohon kurma, сопровождается mukjizat berupa rontokan buah kurma dan aliran air sebagai penguat fisiknya. Dalam Islam, Maryam disebut sebagai siddiqah, yakni perempuan yang jujur dan membenarkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Di tengah konteks global yang masih mempertanyakan posisi perempuan dalam tradisi agama, figur Maryam menjadi argumen kuat bahwa Islam mengangkat martabat perempuan berdasarkan ketakwaan dan keutamaan moral.

Hal ini dipertegas dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 42, di mana Allah berfirman:

“Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas seluruh perempuan di dunia.”

Ayat ini secara eksplisit menegaskan kedudukan spiritual Maryam yang tinggi, terlepas dari status pernikahan atau relasi patriarkal.

Maria dalam Persepsi Kristen: Teladan Ketaatan dan Inkarnasi Ilahi

Sementara itu, dalam tradisi Kristen, Maria dari Nazaret merupakan tokoh sentral yang memungkinkan terjadinya inkarnasi Tuhan ke dunia. Dalam Injil Lukas 1:26–38 diceritakan perjumpaan Maria dengan Malaikat Gabriel yang memberitakan bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Respons Maria, yang penuh kepasrahan, menjadi ikonik:

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Lukas 1:38).

Respons ini menjadi simbol kepasrahan dan ketaatan iman dalam tradisi Kristiani. Berbeda dengan narasi Islam, Maria melahirkan Yesus di sebuah palungan di Betlehem karena tidak mendapatkan tempat di penginapan, sebuah peristiwa yang kini diperingati sebagai Natal. Dalam teologi Katolik dan Ortodoks, Maria dihormati dengan gelar Theotokos (Bunda Allah) dan dipandang sebagai pendoa syafaat bagi umat. Sementara itu, dalam tradisi Protestan, ia dihormati sebagai teladan iman.

Titik Temu dan Perbedaan Fundamental

Titik temu utama antara kedua agama ini terletak pada pengakuan atas mukjizat kelahiran perawan dan penghormatan terhadap Maryam/Maria sebagai perempuan mulia di hadapan Tuhan. Namun, perbedaan mendasarnya berada pada identitas anak yang dilahirkannya:

Secara keseluruhan, Maryam dan Maria berdiri sebagai saksi lintas iman bahwa perempuan mampu menjadi medium kehendak Tuhan, bukan sekadar pengikut di pinggiran spiritualitas. Keduanya berperan sebagai jembatan spiritual yang menghubungkan Islam dan Kristen, sekaligus merepresentasikan:

Peran mereka menawarkan fondasi kokoh untuk pengembangan dialog antaragama yang saling menghargai dan memahami.