Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Majalengka Jadi Sentra Tebu Utama Jawa Barat, 444 Ribu Ton Siap Panen

Jabar · Oleh · · Diperbarui 26 Agustus 2026

Majalengka menjadi sentra tebu utama Jawa Barat dengan panen 6.300 hektar menghasilkan 444 ribu ton tebu atau 31 ribu ton gula. 2.818 petani dan 113 kelompok tani mendapat manfaat ekonomi dari komoditas ini.

Majalengka Jadi Sentra Tebu Utama Jawa Barat, 444 Ribu Ton Siap Panen

Potensi Besar Majalengka sebagai Sentra Tebu Jawa Barat

Kabupaten Majalengka kembali menegaskan perannya sebagai salah satu sentra penghasil tebu terbesar di Provinsi Jawa Barat. Denganhamparan lahan yang luas dan kondisi geografis yang mendukung, daerah ini menjadi tulang punggung produksi tebu nasional yang strategis.

Daerah Majalengka bersama Kabupaten Indramayu dikenal memiliki areal tebu terluas di wilayah Jawa Barat. Kondisi ini menjadikan keduanya sebagai penopang utama ketersediaan bahan baku industri gula di provinsi tersebut.

Baca Juga: Kaproli waspadai judol masuk game online saat temui 5.499 pelajar di kemah Sukabumi

Panen Raya 6.300 Hektare: Quantitas dan Kualitas Melimpah

Pada medio Juli 2026, Majalengka melaksanakan panen raya tebu yang mencakup lahan seluas 6.300 hektar. Program ini merupakan bagian dari upaya penguatan ketahanan pangan nasional yang melibatkan berbagai pihak terkait.

Pelaksanaan panen tersebut melibatkan dukungan penuh dari TNI Angkatan Udara, menunjukkan sinergi solid antara institusi militer dan sektor pertanian dalam menjaga ketahanan pangan.

Baca Juga: DLH Kota Cirebon Siapkan Tanah Uruk dan Tangki Air Antisipasi Titik Panas di TPA Kopiluhur

"Majalengka menjadi salah satu sentra utama tebu di Jawa Barat karena memiliki lahan yang sesuai untuk budidaya sehingga produksinya cukup besar," jelas Herman Suryatman, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat.

Dari seluruh areal yang dipanen, diproyeksikan menghasilkan sekitar 444 ribu ton tebu atau setara dengan 31 ribu ton gula kristal yang akan memperkuat rantai pasok gula untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat.

Dampak Ekonomi Positif bagi 2.818 Petani

Gelombang kebaikan dari sektor tebu ini dirasakan langsung oleh ribuan petani di Majalengka. Panen raya tersebut melibatkan 113 kelompok tani dengan total 2.818 petani yang mengelola lahan tebu di wilayah itu.

Hasil dialog dengan para petani menunjukkan bahwa komoditas tebu masih memberikan keuntungan ekonomi yang cukup menjanjikan. Dari pengelolaan lahan sekitar dua hektar saja, petani bisa memperoleh pendapatan yang cukup besar.

Kolaborasi Strategis dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia

Seluruh hasil panen tebu dari Majalengka diolah oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia, sehingga menjadi bagian dari rantai pasok gula untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kerja sama ini memastikan hasil panen tidak hanya berhenti di lapangan, melainkan berlanjut hingga ke proses hilirisasi yang bernilai tambah tinggi.

Berdasarkan data resmi, kebutuhan gula di Jawa Barat mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun. Kendati demikian, produksi yang tersedia saat ini masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar, sehingga potensi pengembangan tanaman tebu di wilayah ini masih sangat besar.

Sinergi Pentahelix: Pemerintah, TNI, dan Petani

Pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak yang saling bekerja sama. Pemerintah Provinsi Jawa Barat apresiasi dukungan TNI Angkatan Udara yang selama ini mendampingi petani dalam meningkatkan produktivitas tebu.

"Kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten, TNI, dan para petani untuk meningkatkan produksi tebu maupun komoditas pangan lainnya," tegas Herman Suryatman.

Prospek Pengembangan Tebu Majalengka ke Depan

Selain Majalengka, sentra produksi tebu di Jawa Barat juga tersebar di beberapa kabupaten lain seperti Indramayu, Cirebon, dan Subang. Keberagaman lokasi ini menjadi modal penting dalam memperkuat posisi Jawa Barat sebagai provinsi penghasil tebu utama di Pulau Jawa.

Dengan potensi lahan yang masih luas dan dukungan penuh dari berbagai pihak, pengembangan tanaman tebu di Majalengka diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar lagi bagi swasembada gula nasional.