LBH Masyumi Dukung Perpres 111/2025: Pertahanan Nonmiliter adalah Benteng Moral Bangsa
LBH Masyumi dukung Perpres 111/2025, dorong pertahanan nonmiliter sebagai benteng moral lindungi masyarakat dari ancaman digital dan ekonomi ilegal.

LBH Masyumi Dukung Perpres 111/2025: Pertahanan Nonmiliter adalah Benteng Moral Bangsa
Di tengah dinamika global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak bisa dianggap enteng. Ancaman terhadap kedaulatan bangsa tidak lagi hanya datang dari kekuatan militer konvensional, melainkan juga dari serangan-serangan halus yang justru menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Masyumi mengambil sikap tegas dengan menyatakan dukungan terhadap Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029. Bagi organisasi ini, kebijakan ini bukan sekadar regulasi administratif, melainkan sebuah napas baru dalam arsitektur pertahanan nasional.
Baca Juga: Rocky Balboa Hadapi Ivan Drago di Moskow untuk Balas Kejatuhan Apollo Creed dalam Rocky IV
"Ancaman nonmiliter hari ini adalah musuh tak kasat mata yang sama berbahayanya dengan invasi fisik. Maka pertahanan negara harus bersifat semesta—melibatkan seluruh komponen bangsa, dari keluarga, sekolah, tempat ibadah, hingga ruang-ruang digital."
— LBH Masyumi dalam siaran resmi, Juli 2026
Peta Ancaman yang Sering Terabaikan
Perpres 111/2025 lahir dari pembacaan mendalam terhadap realitas sosial yang memprihatinkan. Beberapa ancaman yang mendapat sorotan khusus antara lain:
Baca Juga: Pelaku Usaha Kota Depok Terapkan Prinsip Kejujuran dan Tanggung Jawab sebagai Fondasi Bisnis
- Judi daring yang meningkat drastis dan banyak menjerat generasi muda
- Pinjaman online ilegal yang menjerat jutaan rumah tangga dalam jerat utang
- Penyalahgunaan narkotika yang mengancam masa depan bangsa
- Perang informasi dan infiltrasi budaya asing yang menggerus nilai-nilai Pancasila
Data menunjukkan bahwa pengguna judi daring di Indonesia mengalami peningkatan yang mengkhawatirkan. Banyak di antaranya adalah remaja yang seharusnya menatap masa depan cerah, kini terjerumus dalam kebiasaan destruktif. Sementara itu, pinjaman ilegal berbasis aplikasi telah melilit ekonomi rumah tangga dengan bunga yang tidak wajar.
"Kami melihat ini sebagai panggilan moral untuk memperkuat ketahanan keluarga, ketahanan generasi, dan ketahanan ideologi," tegas Khaerudin, S.H., Ketua LBH Masyumi.
Keseimbangan antara Kekuatan dan Prinsip Hukum
Yang membedakan sikap LBH Masyumi adalah keberanian mereka untuk mengingatkan bahwa kebijakan pertahanan—sekuat apa pun—tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip negara hukum. Penegakan aturan harus tetap menghormati hak asasi manusia dan menjunjung tinggi due process of law.
"Kekuatan bangsa bukan pada amarahnya, melainkan pada ketertiban dan keadilan yang ditegakkan," ucap Tb. Arip Wampasena, S.H., M.H., Sekretaris LBH Masyumi.
Pesan ini sangat relevan di tengah kecenderungan sebagian masyarakat untuk bertindak instan dan emosional. LBH Masyumi mengajak semua pihak tetap tenang, rasional, dan beradab dalam menyikapi berbagai fenomena ancaman sosial.
Gerakan Nyata untuk Pertahanan Bersama
Dukungan LBH Masyumi bukan sekadar pernyataan simbolis. Mereka mengajak seluruh elemen bangsa untuk berpartisipasi dalam gerakan konkret:
- Penguatan pendidikan karakter di sekolah dan keluarga sebagai benteng pertama
- Membangun keluarga sebagai ekosistem cinta dan nilai
- Meningkatkan literasi digital masyarakat agar cakap menyaring informasi
- Pemberantasan judi dan narkotika secara sistemik dan humanis
- Penguatan ideologi Pancasila sebagai bintang penunjuk arah
Dengan pendekatan ini, pertahanan negara tidak lagi menjadi urusan eksklusif para militer dan birokrat. Ia menjadi tanggung jawab bersama—dari ibu di dapur, guru di kelas, pemuka agama di mimbar, hingga anak muda di linimasa.
Menuju Indonesia yang Berdaulat dan Bermartabat
Visi besar yang disampaikan LBH Masyumi sangat jelas: Indonesia yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga bermartabat secara kultural; tidak hanya makmur secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial.
"Kami percaya, dengan gotong royong yang tulus, kita bisa mewujudkan Indonesia yang tangguh—bukan karena takut pada ancaman, tetapi karena cinta pada nilai-nilai luhur yang telah lama menjadi denyut nadi bangsa," tutup Khaerudin dengan penuh optimisme.
Siaran pers ini menjadi pengingat bahwa pertahanan negara sejatinya adalah tanggung jawab kolektif. Di ruang-ruang rapat dan di sudut-sudut kampung, setiap langkah kecil untuk melawan judi, menolak narkoba, dan menyebarkan kebaikan adalah satu langkah besar bagi kedaulatan Indonesia.
Kedaulatan, martabat, dan masa depan bangsa—all of this mulai dari kesadaran bersama hari ini.