Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kuningan Petakan Titik Rawan Longsor dan Banjir Jelang Musim Hujan, BPBD Diminta Aktifkan Peringatan Dini

Bandung · Oleh · · Diperbarui 6 November 2026

Kuningan memetakan kawasan rawan longsor dan banjir jelang musim hujan, BPBD diminta siapkan peringatan dini usai angin puting beliung merusak puluhan rumah

Kuningan Petakan Titik Rawan Longsor dan Banjir Jelang Musim Hujan, BPBD Diminta Aktifkan Peringatan Dini

Warga Kuningan yang tinggal di lereng dan bantaran sungai kembali berhadapan dengan musim hujan. Kabupaten Kuningan sudah masuk periode hujan 2026/2027 dan daftar ancamannya panjang: banjir, tanah longsor, pergerakan tanah, sampai angin puting beliung. Pemerintah daerah memilih memetakan titik rawan lebih dulu sebelum bencana datang.

Catatan kerusakan sudah ada. Angin puting beliung merusak puluhan rumah di Desa Mekarsari dan Buniasih, Kecamatan Maleber, dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat. Kejadian serupa dilaporkan melanda 10 desa di Kecamatan Luragung dan Cidahu, meski jumlah rumah terdampak belum dirinci. Dua wilayah itu bukan nama baru dalam laporan bencana di Jawa Barat. Pola hujan ekstrem yang datang mendadak sudah berkali-kali memicu kejadian serupa di berbagai kabupaten di Jabar.

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyebut kondisi geografis, geologis, hidrologis, klimatologis, dan demografis daerahnya membuat Kuningan rawan terhadap sejumlah jenis bencana. Prakiraan BMKG soal musim hujan yang meningkatkan risiko hidrometeorologi menjadi dasar langkah antisipatif yang diambil pemerintah daerah.

Baca Juga: Pengeluaran Riil Warga RI Naik Rp 566 Ribu jadi Rp 13,37 Juta, IPM 2026 Sentuh 76,69

“Kami berharap mudah-mudahan tidak terjadi, tetapi melalui langkah-langkah antisipatif seperti apel kesiapsiagaan ini, korban maupun dampak bencana yang ditimbulkan bisa kita minimalisir,” kata Dian, Kamis (5/11/2026).

Dian meminta BPBD Kabupaten Kuningan mengoptimalkan pemetaan kawasan rawan. Acuannya dokumen Kajian Risiko Bencana, rencana kontinjensi, portal InaRISK, dan Data Informasi Bencana Daerah. Pemetaan itu dipakai untuk menentukan langkah penanganan sekaligus mengantisipasi dampak ke masyarakat. Ia juga meminta jajarannya memastikan personel, peralatan operasional, dan logistik darurat siap dipakai.

Pemantauan informasi cuaca BMKG harus berjalan berkala agar peringatan dini cepat sampai ke warga. Edukasi kebencanaan dan simulasi evakuasi mandiri diminta diperkuat, terutama untuk anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Di sisi lain, saluran air dan drainase perlu dibersihkan, sungai dinormalisasi, dan fasilitas pengendali banjir diperiksa.

Baca Juga: ITB Teken MoU dengan Singapore Management University di QS Summit Asia Pacific 2026

"Pemetaan kawasan rawan diperlukan untuk menentukan langkah penanganan sekaligus mengantisipasi dampak terhadap masyarakat," kata Dian.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana menjelaskan, kesiapsiagaan musim hujan ini melanjutkan periode siaga kekeringan yang berlangsung sampai Oktober 2026. Memasuki November, fokus penanganan bergeser ke bencana hidrometeorologi basah. Pemerintah daerah masih menunggu penetapan surat keputusan gubernur soal status kesiapsiagaan tersebut.

Menurut Indra, kesiapsiagaan dipakai untuk menginventarisasi sumber daya yang tersedia, dari personel, peralatan, perlengkapan, sampai dukungan logistik. Unsur yang dilibatkan mencakup seluruh perangkat daerah, pemerintah kewilayahan, TNI-Polri termasuk Yonif, serta organisasi kemanusiaan dan relawan seperti Palang Merah Indonesia dan Taruna Siaga Bencana.

“Kami ingin mensinergikan dan mengkoordinasikan semua pihak, baik dari aspek pemerintahan, kewilayahan maupun teknis dalam penanggulangan kebencanaan,” ujar Indra.

Bagi pembaca muda di Kuningan dan Bandung Raya, kerja pemetaan ini menentukan seberapa cepat informasi sampai ke tangan warga. Kaum muda paling banyak memegang ponsel dan paling cepat menyebarkan ulang peringatan cuaca, tapi juga paling sering mengabaikan informasi resmi. Peran itu jadi penting karena wilayah dengan lereng curam dan permukiman padat, seperti yang dibahas dalam pelajaran dari longsor Pasirlangu, menuntut keputusan cepat saat hujan turun lama.

Kabupaten lain menghadapi persoalan yang sama. BPBD di daerah pegunungan sudah lebih dulu mengimbau warga mewaspadai cuaca ekstrem, seperti imbauan BPBD Kuningan sendiri pada periode sebelumnya. Isi imbauannya mirip: pantau cuaca, kenali jalur evakuasi, dan jangan menunggu air naik sebelum bergerak.

Yang belum dijawab dalam pemetaan ini adalah sebaran rumah di 10 desa Kecamatan Luragung dan Cidahu yang terdampak angin puting beliung. Angka itu belum dirinci, padahal jadi dasar penghitungan bantuan dan perbaikan. Status kesiapsiagaan juga masih menunggu tanda tangan gubernur, sementara hujan sudah mulai turun di Kuningan.