Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kontrol Koersif: Kekerasan Psikologis yang Jauh Lebih Berbahaya dari Kekerasan Fisik

Bandung · Oleh · · Diperbarui 14 Agustus 2026

Kontrol koersif atau coercive control adalah bentuk kekerasan psikologis yang membuat korban kehilangan kebebasan secara bertahap. Ahli psykologi IPB University menjelaskan dampak dan tanda-tandanya.

Kontrol Koersif: Kekerasan Psikologis yang Jauh Lebih Berbahaya dari Kekerasan Fisik

Apa Itu Kontrol Koersif dan Mengapa Sering Diabaikan?

Kasus penyekapan di Bandung kembali menggedarkan kesadaran publik bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu meninggalkan luka fisik yang terlihat. Di balik relasi yang tampak biasa dan normal, seseorang dapat mengalami kontrol berlebihan, manipulasi sistematis, dan intimidasi terus-menerus hingga kehilangan kebebasan atas dirinya sendiri.

Menurut Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Yulina Eva Riany, dalam psikologi kondisi ini dikenal sebagai coercive control atau kontrol koersif. Konsep yang diperkenalkan oleh Evan Stark ini merujuk pada pola perilaku manipulatif dan mengancam yang membuat korban perlahan-lahan kehilangan kebebasan, rasa aman, kepercayaan diri, hingga kemampuan mengambil keputusan secara mandiri.

Baca Juga: Rekonstruksi Terbongkar, Mobil Tabrak Aiptu Asep Melaju 37 Meter Tanpa Pengereman

Yang perlu dikenali bukan hanya satu kejadian, melainkan pola hubungan yang terus mengikis otonomi korban secara sistematis.

Kontrol koersif sering diabaikan karena perilaku tersebut berkembang secara bertahap dan sering disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang semata.

Berbagai Bentuk Kontrol Koersif dalam Hubungan

Yulina menjelaskan bahwa kontrol koersif dapat muncul dalam berbagai bentuk yang saling melengkapi:

Baca Juga: Bus Umroh Tabrak Pagar Rumah di Nagreg, Satu Penumpang Wanita Tewas Terjepit

Dampaknya sangat merusak karena korban kehilangan otonomi tanpa menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan psikologis yang sistematis.

Mengapa Korban Sulit Meninggalkan Hubungan Toxic?

Banyak orang bertanya mengapa korban tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Menurut Yulina, jawabannya jauh lebih kompleks daripada sekadar tidak mau pergi.

Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah "Mengapa korban tidak pergi?", melainkan "Faktor apa yang membuat korban sulit pergi?"

Faktor-faktor yang membuat korban terperangkap meliputi:

Secara psikologis, kondisi ini dijelaskan melalui teori attachment, fenomena trauma bonding, dan learned helplessness. Korban dapat membentuk ikatan emosional yang sangat kuat dengan pelaku akibat siklus kekerasan yang berulang. Pengalaman kontrol yang terus berulang juga dapat membuat korban merasa tidak berdaya dan percaya bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.

Tanda-Tanda Hubungan Bermasalah yang Perlu diwaspadai

Hubungan yang mengarah pada kekerasan psikologis biasanya berkembang perlahan sehingga sulit dikenali. Berikut tanda-tanda yang perlu diwaspadai:

Korban sering tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan psikologis karena perilaku tersebut berkembang sedikit demi sedikit dan dinormalisasi sebagai bentuk kepedulian.

Dampak Nyata Kekerasan Psikologis terhadap Kesehatan Mental

Dampak kekerasan psikologis tidak dapat dianggap remeh. Secara klinis, korban berisiko mengalami:

Kekerasan psikologis dapat sama beratnya, bahkan dalam beberapa kasus lebih menetap dibandingkan kekerasan fisik. Korban menjadi sangat ragu terhadap dirinya sendiri dan kesulitan menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan.

Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Mendukung Korban

Yulina menekankan bahwa keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam membantu korban keluar dari situasi berbahaya. Dukungan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa seseorang.

Bentuk dukungan yang konstruktif meliputi:

Korban membutuhkan dukungan, bukan penghakiman. Yang terpenting adalah membuat mereka merasa didengar, dipercaya, dan mengetahui bahwa mereka tidak sendirian menghadapi situasi tersebut.

Membangun Kesadaran dan Pencegahan

Mengenali kontrol koersif sejak dini merupakan langkah krusial dalam mencegah kekerasan dalam hubungan. Edukasi kepada masyarakat tentang berbagai bentuk kekerasan yang tidak selalu meninggalkan luka fisik perlu digalakkan.

Penting untuk diingat bahwa:

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kontrol koersif, masyarakat dapat lebih cepat mengenali tanda-tanda kekerasan dalam hubungan dan memberikan dukungan yang tepat bagi korban.