29 Hidran di Bandung Terhalang Parkir Sembarangan, Petugas Minta Warga Kosongkan Akses
Sebanyak 29 hidran di Kota Bandung sering terhalang kendaraan parkir sembarangan, menyulitkan petugas pemadam saat darurat. Diskarmatan sudah pasang marka dilarang parkir tapi sering diabaikan warga.

Sebanyak 29 unit hidran tersebar di seluruh Kota Bandung. Fasilitas ini seharusnya jadi titik pengambilan air terdekat saat terjadi kebakaran. Namun puluhan hidran itu justru kerap terhalang kendaraan warga yang diparkir sembarangan.
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung Kurniawan mengatakan, petugas sering menemukan kendaraan terparkir tepat di posisi hidran saat mereka hendak mengambil air. Kondisi ini menyulitkan respons darurat.
"Seringkali saat kami menangani kebakaran di lingkungan perumahan, akses terhalang kendaraan yang diparkir sembarangan sehingga menyulitkan penanganan," kata Kurniawan, Senin (28/9/2026).
Baca Juga: BPK Temukan Rp800 Juta Beasiswa Pancawaluya untuk Pelajar Jawa Barat Tak Bisa dicairkan
Selain saat pengambilan air, hambatan juga muncul saat unit mobil pemadam memasuki area kejadian. Kendaraan warga yang parkiran di badan jalan membuat mobil raksasa dengan radius putar besar itu tidak bisa melintas.
"Saya tekankan, pastikan akses masuk kendaraan pemadam kebakaran tidak terhalang kendaraan warga," imbau Kurniawan.
Guna mencegah parkir di area tersebut, Diskarmatan sudah memasang marka berwarna merah di titik-titik hidran. Tanda itu menandakan lokasi pengambilan air dan melarang penggunaan untuk parkir. Namun tanda itu sering diabaikan warga yang kekurangan ruang parkir.
Baca Juga: BMKG: Hujan Lebat Landa Tiga Kecamatan di Bandung Raya Sabtu Sore, Warga Diminta Periksa Saluran Air
Kurniawan menyadari tidak semua pemilik kendaraan memiliki garasi pribadi. Ia tetap meminta agar masyarakat memperhatikan lokasi-lokasi vital seperti hidran saat memarkirkan kendaraan.
"Kepada seluruh masyarakat, saya imbau untuk memperhatikan saat memarkirkan kendaraan, terutama di area-area penting seperti lokasi pengambilan air atau hidran," kata Kurniawan.
Keterbatasan akses hidran ini menjadi risiko tersendiri bagi keselamatan warga. Setiap keterlambatan satu menit dalam pemadaman bisa menentukan besar kecilnya kerusakan akibat api.