Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kekerasan dalam Pacaran: Penyebab dan Pentingnya Regulasi Emosi

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Artikel ini mengupas kekerasan dalam pacaran sebagai fenomena akibat kurangnya regulasi emosi, menyajikan data kasus Indonesia, dan menekankan pentingnya hubungan sehat serta pengelolaan emosi.

Kekerasan dalam Pacaran: Penyebab dan Pentingnya Regulasi Emosi

Kekerasan dalam hubungan asmara kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah kasus tragis viral di media sosial. Kasus dibacoknya seorang mahasiswi di Riau oleh pacarnya, serta video viral kekerasan fisik yang dialami seorang perempuan di Bandung selama tiga tahun, menunjukkan pola yang konsisten: pelaku sering membenarkan tindakannya dengan alasan "terpancing emosi" atau "sakit hati". Namun, realitasnya, kekerasan dalam pacaran bukanlah ledakan emosi sesaat, melainkan bentuk perilaku agresif yang berakar pada ketidakmampuan mengelola emosi dan relasi yang tidak sehat.

Apa Itu Kekerasan dalam Pacaran?

Hubungan asmara yang sehat ditandai dengan rasa aman, komunikasi terbuka, dan saling menghormati batasan. Sebaliknya, relasi yang tidak sehat sering kali dimulai dari tanda-tanda yang mudah terlewatkan:

Perlu dicatat bahwa kekerasan dalam pacaran tidak selalu berupa bentuk fisik. Kekerasan psikologis, seksual, dan ekonomi juga termasuk dalam kategori ini, dan semua bentuknya dapat menyebabkan kerusakan serius bagi korban.

Data dan Tren Kasus di Indonesia

Data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) tahun 2023 mencatat 3.528 kasus kekerasan dalam pacaran di Indonesia. Angka ini bukan hanya sekadar statistik, melainkan bukti bahwa persoalan ini bukan kasus tunggal, melainkan fenomena yang luas dan membutuhkan perhatian serius.

Peran Regulasi Emosi dalam Terjadinya Kekerasan

Salah satu faktor paling penting yang memengaruhi munculnya kekerasan dalam pacaran adalah regulasi emosi, yaitu kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola perasaan marah, kecewa, atau cemburu secara adaptif. Penelitian Megawati dkk. (2019) menunjukkan bahwa individu dengan regulasi emosi yang buruk lebih rentan terlibat dalam perilaku kekerasan dalam hubungan. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Fridya dkk. dalam Jurnal Ilmu Pendidikan (2024) yang menyatakan adanya hubungan signifikan antara kesulitan regulasi emosi dan kekerasan dalam pacaran pada mahasiswa. Semakin tinggi kesulitan mengatur emosi, semakin tinggi kecenderungan melakukan kekerasan.

Ketika emosi tidak dikelola dengan baik, kemarahan dapat berubah menjadi agresi. Rasa cemburu, yang sering dianggap sebagai tanda cinta, padahal kerap menjadi pintu masuk kontrol dan kekerasan. Banyak individu yang salah mengartikan kecemburuan sebagai bukti perasaan yang kuat, padahal hal ini dapat memicu perilaku posesif dan agresif yang merusak.

Faktor Lain yang Berperan

Selain regulasi emosi, budaya patriarki yang masih kuat di beberapa wilayah Indonesia juga turut berperan dalam terjadinya kekerasan dalam pacaran. Dominasi dan sikap kasar terhadap perempuan sering dianggap wajar atau dapat dimaklumi, yang memberikan ruang bagi pelaku untuk melanjutkan perilaku kekerasan tanpa takut dihentikan.

Dampak Serius bagi Korban

Kekerasan dalam pacaran tidak hanya menyebabkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang dapat bertahan seumur hidup. Korban dapat mengalami stres, depresi, penurunan harga diri, hingga gangguan perkembangan emosional jangka panjang. Selain itu, kekerasan dalam pacaran juga menciptakan siklus relasi yang tidak sehat, di mana korban cenderung terlibat dalam hubungan yang sama di masa depan karena terbiasa dengan pola kontrol dan kekerasan.

"Cinta yang sehat tidak pernah menyakiti, dan tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan dalam pacaran."

Pentingnya Edukasi Hubungan Sehat dan Regulasi Emosi

Kasus di Riau dan Bandung mengingatkan kita akan pentingnya edukasi hubungan sehat dan regulasi emosi sejak dini. Individu perlu diajarkan bagaimana mengelola emosi dengan baik, mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, dan bagaimana berkomunikasi dengan pasangan secara terbuka dan hormat.

Kedewasaan dalam hubungan terlihat dari kemampuan mengendalikan emosi dan merespons secara rasional, bukan dari kemampuan untuk menyakiti pasangan. Kita semua harus berperan dalam mencegah kekerasan dalam pacaran, dengan mengedukasi orang lain dan menciptakan lingkungan yang aman dan suportif bagi semua individu.