Karakter Lereng dan Hujan Ekstrem Picu Longsor Besar di Kaki Gunung Burangrang
Longsor besar di lereng Gunung Burangrang Cisarua KBB Jawa Barat dipicu oleh gabungan faktor geologi, kemiringan lereng curam, dan curah hujan tinggi, menurut Badan Geologi.

Analisis Tiga Faktor Utama Penyebab Longsor Besar di Cisarua KBB Jawa Barat
Sebuah longsor besar melanda lereng kaki Gunung Burangrang di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat pada akhir Januari 2026. Menurut analisis tim Badan Geologi, khususnya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), bencana gerakan tanah ini dipicu oleh kombinasi tiga faktor utama, bukan hanya satu faktor tunggal seperti yang banyak diasumsikan.
Faktor Geologi yang Menjadi Dasar Risiko
Pelaksana Harian Kepala PVMBG, Edy Slameto, menjelaskan bahwa kawasan terdampak longsor didominasi oleh batuan vulkanik yang telah mengalami pelapukan intensif selama bertahun-tahun. Material hasil pelapukan batuan vulkanik memiliki sifat labil dan mudah bergerak ketika menerima beban air hujan dalam jumlah besar.
"Batuan yang telah melapuk, jauh lebih berperan dalam memicu longsor dibandingkan batuan induknya," ujar Edy di posko pengungsian Desa Pasirlangu, Kamis (29/1/2026).
Kemiringan Lereng yang Mempercepat Pergerakan Tanah
Selain faktor geologi, kondisi kemiringan lereng di lokasi longsor juga menjadi pemicu utama. Lereng yang sangat curam mempercepat laju pergerakan material tanah dan batuan, terutama ketika daya ikat antarpartikel melemah akibat kejenuhan air.
Edy menegaskan bahwa kemiringan lereng yang curam membuat material tanah lebih rentan terhadap gerakan, bahkan tanpa faktor hujan yang ekstrem. Namun, ketika dikombinasikan dengan faktor lain, risiko longsor meningkat secara signifikan.
Curah Hujan Tinggi sebagai Faktor Dinamis Pemicu
Curah hujan tinggi yang berlangsung terus-menerus menjadi faktor ketiga yang memperbesar risiko longsor. Air hujan akan meresap ke dalam material lapukan, meningkatkan tekanan internal dan menurunkan kestabilan lereng.
Edy menekankan bahwa curah hujan adalah parameter dinamis yang tidak dapat dikendalikan manusia, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap kestabilan lereng di kawasan rawan gerakan tanah.
Tiga Faktor yang Saling Berkaitan
Ketiga faktor di atas — geologi, kemiringan lereng, dan curah hujan tinggi — saling berkaitan dan bekerja secara bersamaan. Ketika ketiganya hadir dalam waktu yang sama, potensi longsor meningkat drastis.
Berbeda dengan asumsi banyak pihak, isu alih fungsi lahan tidak dapat dipastikan peranannya dalam memicu longsor ini tanpa kajian teknis mendalam. Menurut ilmu kebencanaan, hampir tidak ada bencana alam yang disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Skala dan Potensi Risiko Lanjutan
Berdasarkan hasil pemetaan awal, longsor di wilayah Cisarua memiliki panjang sekitar 2,5 kilometer dengan lebar mengikuti alur sungai di bagian hilir. Pergerakan material longsoran cenderung mengikuti jalur sungai yang berada di bawah lereng.
Volume material yang bergerak diperkirakan mencapai antara 500 ribu hingga 1 juta meter kubik. Besarnya volume ini menjadi salah satu alasan perlunya kewaspadaan tinggi terhadap potensi pergerakan susulan, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Edy juga menyebut bahwa peristiwa longsor telah mengubah bentuk alami lereng, sehingga memerlukan pemetaan ulang untuk memastikan potensi bahaya lanjutan di sekitar lokasi.
Langkah Mitigasi dan Pemantauan Pasca Longsor
Untuk mengantisipasi risiko lanjutan, tim Badan Geologi akan melakukan pemantauan harian di lokasi kejadian. Pengumpulan data lapangan dilakukan secara berkelanjutan untuk memperbarui peta bahaya dan kondisi terkini lereng.
Hasil kajian akan menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi teknis, termasuk:
- Opsi relokasi warga yang berada di zona rawan
- Langkah-langkah mitigasi jangka pendek
- Langkah-langkah mitigasi jangka panjang
Rekomendasi ini ditujukan untuk memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengambil keputusan penanganan pascabencana, guna meminimalkan risiko korban jika terjadi longsor susulan.
Kesimpulan
Peristiwa longsor besar di Cisarua KBB ini menjadi pengingat penting bahwa penanganan bencana geologi membutuhkan pendekatan holistik, dengan mempertimbangkan semua faktor yang saling berkaitan. Dengan memahami penyebab pasti longsor, pihak terkait dapat mengambil langkah-langkah mitigasi yang efektif untuk melindungi masyarakat dari risiko bencana serupa di masa depan.