Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kades Mulyasari Minta Warga Bangun Fisik dan Mental Bersama-sama Setelah Peringatan Maulid Nabi

Jabar · Oleh ·

Kades Mulyasari kunjungi warga RW 6 saat Maulid Nabi, minta pembangunan desa juga menyentuh mental dan spiritual warga lewat tholabul ilmi.

Kades Mulyasari Minta Warga Bangun Fisik dan Mental Bersama-sama Setelah Peringatan Maulid Nabi

Warga RW 6 di Kampung Pasir Kadodong, Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, mendapat kunjungan langsung dari Kepala Desanya dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang mereka gelar sendiri.

Hadirnya H. Margono di tengah warganya bukan sekadar menghormati tradisi semata. Ia menggunakan momentum itu untuk mengingatkan bahwa pembangunan desa tidak cukup kalau hanya membangun fisik.

"Kalau kita ingin masyarakat kita maju, mari kita bangun bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan spiritual. Anak-anak kita harus didorong untuk menuntut ilmu, generasi muda harus dekat dengan majelis ilmu, dan kita semua harus terus belajar menjadi umat yang lebih baik," katanya.

Baca Juga: Aulia Ulfa Lulus Terbaik Biologi IPB Setelah 4 Tahun Merantau dari Bondowoso

Tholabul ilmi atau kewajiban menuntut ilmu menjadi pesan utama yang ia sampaikan berulang kali kepada seluruh warga Ciampel. Bagi Margono, ilmu agama adalah fondasi agar masyarakat bisa memahami ajaran kehidupan sekaligus membentuk akhlak yang baik.

"Marilah kita terus tholabul ilmi, terus belajar ilmu agama di manapun kita berada. Karena dengan ilmu, kita akan lebih memahami bagaimana mencintai dan meneladani Rasulullah SAW," ujarnya.

Warga di lingkungan RW 6 selama ini memang dikenal aktif menjaga tradisi keagamaan. Peringatan Maulid Nabi mereka gelar setiap tahun tanpa tergantung pada ajakan pemerintah.

Baca Juga: Warga Banjarwangi Garrett tunggu perbaikan jalan rusak 3,5 km mulai Oktober 2026

Margono menyebut kegiatan semacam ini mampu memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus mempererat silaturahmi antarsesama. Ia menilai gotong royong dalam acara keagamaan juga membangun semangat kebersamaan yang sulit terbentuk lewat jalur formal.

Peran masjid dan majelis taklim di tingkat RT atau RW sering kali menjadi penggerak utama kehidupan sosial di pedesaan Jawa Barat. Tanpa dukungan dana besar pun, tradisi semacam ini bisa bertahan puluhan tahun.

Di Karawang, peringatan Maulid Nabi memang marak dihelat di tingkat dusun dan RW. Bedanya, Margono memastikan bahwa apresiasinya terhadap warga tidak berhenti di pidato. Ia memastikan nilai-nilai dari peringatan itu harus terus hidup di keseharian warga.

"Mari kita jadikan bulan Mulud ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Perbanyak shalawat, perkuat tholabul ilmi, jaga silaturahmi, hormati sesama dan berusaha mengikuti akhlak Rasulullah SAW," ucap Margono mengakhiri pidatonya.

Dengan kehadiran kepala desa secara langsung, warga Pasir Kadodong mendapat peneguhan bahwa perjuangan mereka menjaga tradisi diakui oleh pemerintah desa. Pertanyaannya, apakah pemerintah desa juga menyediakan ruang bagi warga untuk menuntut ilmu agama secara terstruktur setelah peringatan Maulid selesai.

Veteran Karawang tabur bunga di makam pahlawan di sisi lain Karawang pernah menunjukkan bahwa warga usia lanjut juga aktif menjaga nilai pengabdian lewat tradisi keagamaan.

Ahmad Sapudin di Bekasi mengunggah ajakan serupa, yakni memperkuat pengabdian konkret di tingkat masyarakat, bukan hanya seremoni.