Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Kadaplak: Jejak Kelam Tanam Paksa yang Menjelma Menjadi Adrenalin Budaya Lembang

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Kadaplak, kendaraan kayu tradisional Lembang, lahir dari era Tanam Paksa dan kini menjadi simbol kebersamaan serta warisan budaya Sunda.

Kadaplak: Jejak Kelam Tanam Paksa yang Menjelma Menjadi Adrenalin Budaya Lembang

Kadaplak: Warisan Lembang dari Era Tanam Paksa

Di kawasan pegunungan Suntenjaya, Lembang, kadaplak kembali menjadi sorotan bukan sekadar sebagai permainan anak‑anak, melainkan sebagai jejak sejarah yang menghubungkan masa penjajahan dengan identitas modern masyarakat Sunda. Kendaraan kayu sederhana ini menyimpan narasi tentang daya juang, adaptasi, dan pelestarian budaya yang relevan bagi pembaca di era digital.


Asal‑Usul Kadaplak dalam Sistem Cultuurstelsel

Pada abad ke‑19, pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) antara 1830‑1870. Petani di Lembang, yang berada pada wilayah berbukit curam, dipaksa menanam komoditas ekspor seperti tembakau, teh, kopi, dan kina. Tantangan utama adalah mengangkut hasil panen menuruni lereng‑lereng terjal.

Dari kebutuhan tersebut, muncul kadaplak, sebuah kereta kayu atau bambu beroda tiga‑empat yang memanfaatkan gaya gravitasi. Tanpa rem atau steering modern, kendaraan ini meluncur dari puncak bukit ke pos pengumpulan di lembah.

"Kadaplak adalah bukti kreatifitas petani Sunda melawan beban kolonial, mengubah keterbatasan menjadi peluang," kata Bapak Rudi Sunarto, sesepuh Kampung Batuloceng.

Nama kadaplak diambil dari serangga air Gerris lacustris, yang meluncur lincah di permukaan air—cerminan bentuk rendah dan gesitnya kendaraan kayu tersebut.


Desain Sederhana, Keberanian Besar

Keunikan kadaplak terletak pada kesederhanaannya:

Pengendara mengendalikan arah dengan memiringkan roda depan pada lintasan berbatu. Tanpa rem, setiap perjalanan menjadi ujian keberanian; jatuh, lutut lecet, dan tubuh berdebu menjadi bagian alami dari pengalaman.


Transformasi Menjadi Permainan Tradisional

Seiring berkurangnya kebutuhan transportasi pada pertengahan abad ke‑20, anak‑anak petani mulai memodifikasi sisa kadaplak menjadi sarana hiburan. Dari sekadar meluncur, mereka mengadakan adu kecepatan dan ketangkasan yang kemudian dijuluki gokar tradisional.

Namun, pada era 1990‑2000-an, permainan tradisional terdesak oleh gadget dan hiburan modern, membuat kadaplak hampir menghilang. Pada 2014, inisiatif tokoh masyarakat di Kampung Batuloceng dan Pasir Angling menghidupkan kembali tradisi ini melalui:


Upaya Pelestarian dan Nilai Budaya Kontemporer

Saat ini, kadaplak tidak hanya dipandang sebagai sarana rekreasi, melainkan simbol perlawanan terhadap dominasi budaya instan. Beberapa nilai yang ditawarkan:

Pelestarian terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah Bandung Barat, komunitas budaya, dan media digital yang mempromosikan video dokumenter serta konten edukatif.


Perspektif Masa Depan

Jika dukungan terus ditingkatkan, kadaplak berpotensi menjadi destinasi wisata budaya yang menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Integrasi dengan program pelestarian budaya UNESCO dapat membuka peluang pendanaan dan pelatihan kerajinan tradisional.

Dengan demikian, kadaplak tetap meluncur—dari masa Tanam Paksa ke era digital—menjadi jembatan antara sejarah kelam dan identitas bangga Sunda.


Penulis: Anggie Baeduri Aulia Editor: Ayu Diah Nur’azizah