Jejak KH. Zainul Akhyar: Ulama Sanad Bukhari-Muslim & Lentera KBB
KH. Zainul Akhyar (Aa Babussalam), ulama karismatik KBB, penjaga sanad Bukhari-Muslim dan lentera keilmuan hadis di Jabar. Pengajar kitab hadis fundamental.

Aa Babussalam: Penjaga Sanad Bukhari–Muslim dan Lentera Keilmuan Hadis di Jawa Barat
Dalam lanskap pesantren tradisional Jawa Barat, nama Aa Babussalam bersinar sebagai salah satu pilar penting. Sosok yang dimaksud adalah almagfurlah KH. Muhammad Zainul Akhyar, ulama karismatik asal Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, yang dikenal sebagai penjaga tradisi keilmuan pesantren, khususnya dalam bidang hadis.
Di tengah semakin langkanya pengajian Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim secara bandongan (sorogan) di Jawa Barat, Aa Babussalam secara konsisten melestarikan tradisi mulia ini, sebagaimana diwariskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Selain kedua kitab induk hadis tersebut, Aa Babussalam juga mengajarkan kitab-kitab hadis lain yang fundamental, seperti Sunan Abi Dawud dan Sunan at-Tirmidzi. Konsistensinya dalam memperdalam dan mengajarkan bidang hadis menjadikan Pesantren Babussalam sebuah rujukan esensial bagi para santri tradisi yang berhasrat mendalami ilmu hadis sekaligus memperoleh sanad keilmuan yang jelas dan bersambung. Meskipun secara fisik terkesan sederhana dan jumlah santri mukim tidak terlampau besar, pesantren ini diakui secara luas di kalangan komunitas santri tradisional.
Jejak Langkah Sang Ulama
KH. Muhammad Zainul Akhyar lahir di Bandung pada 15 Mei 1941. Beliau lahir dari keluarga ulama dengan garis nasab yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Nasabnya bersambung kepada KH. Muhammad Izzuddin bin Ama H. Kurdi dan Hj. Halimah Sa’diyah binti Hj. Syarifah, hingga Eyang Dalem Raden Haji Muhammad Syafe’i, yang juga dikenal sebagai Pangeran Atas Angin Cijenuk.
Perjalanan menuntut ilmu Aa Babussalam dikenal sebagai santri kelana. Sebagaimana diungkapkan oleh NU Online Jabar, sebelum menetap dan mengasuh Pesantren Babussalam di Sindangkerta, beliau telah menimba ilmu di lebih dari 12 pesantren yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Bandung, Garut, Tasikmalaya, Purwakarta, Cianjur, Bekasi, hingga Banten.
Salah satu fase krusial dalam perjalanan intelektualnya adalah saat beliau berguru kepada KH. Ahmad Asy’ari di Poncol, Salatiga. Dari gurunyalah Aa Babussalam mendapatkan **sanad pengajian Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim**, yang kemudian menjadi fondasi utama dalam pengembangan pengajaran hadis di pesantrennya.
Dedikasi dalam Dakwah dan Pengajaran
Dalam dakwah dan pengajarannya, Aa Babussalam dikenal memiliki spesialisasi dalam ilmu tafsir dan hadis. Sejak tahun 1970 M/1391 H, beliau secara rutin menyelenggarakan pengajian pasaran kitab-kitab hadis sahih, meliputi:
- Sahih al-Bukhari
- Sahih Muslim
- Sunan Abi Dawud
- Sunan at-Tirmidzi
Pengajian ini biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rabiul Akhir hingga Jumadil Awal. Selain itu, beliau juga secara konsisten mengadakan pengajian Tafsir Jalalain setiap bulan Ramadan.
Pada masanya, tradisi pasaran kitab-kitab hadis semacam ini tergolong sangat langka, bahkan dapat dikatakan satu-satunya di Jawa Barat. Hal ini tentu saja menarik sambutan antusias dari para santri yang berdatangan dari berbagai daerah, termasuk dari luar Pulau Jawa.
Kontribusi dalam Nahdlatul Ulama
Di luar aktivitas pesantren, Aa Babussalam juga aktif berkontribusi dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU). Beliau pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) selama tiga periode, yakni melalui Konferensi PCNU Kabupaten Bandung pada tahun 1999 dan 2005, serta Konferensi PCNU Bandung Barat pada tahun 2007. Keterlibatannya dalam NU telah dimulai sejak beliau mendirikan Pesantren Babussalam pada tahun 1967, sebagai bentuk khidmat (pengabdian) kepada para guru yang memiliki sanad keilmuan langsung dengan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Dari pesantren yang tampak sederhana inilah, tradisi keilmuan hadis terus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun, menjadikan Aa Babussalam sebagai salah satu mata rantai penting dalam kesinambungan tradisi keilmuan Islam di Tanah Pasundan.
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R | Editor: Ayu Diah Nur’azizah