Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Jalur Kereta Api Cipatat-Sasaksaat: Sejarah Tertunda dan Rencana Kini

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Artikel ini mengupas sejarah jalur kereta api Cipatat-Sasaksaat yang tertunda seabad, serta rencana reaktivasi modern Kemenhub untuk meningkatkan konektivitas dan ekonomi Jawa Barat.

Jalur Kereta Api Cipatat-Sasaksaat: Sejarah Tertunda dan Rencana Kini

Jalur kereta api Cipatat–Sasaksaat di wilayah Jawa Barat kembali menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Namun, tak banyak yang tahu bahwa rencana pengembangan lintasan ini bukanlah ide baru, melainkan telah muncul lebih dari satu abad lalu dan tertunda hingga saat ini.

Sejarah Rencana Awal Tahun 1915

Pada 18 Agustus 1915, surat kabar Belanda Het Nieuws van den Dag melaporkan rencana pengalihan trase jalur kereta api Cipatat–Padalarang. Laporan tersebut menyoroti opsi jalur alternatif melewati Stasiun Sasaksaat dengan panjang sekitar 31 kilometer, yang dinilai lebih efisien dibandingkan jalur lama. Perbedaan elevasi menjadi faktor utama: jalur lama memaksa kereta menanjak hingga 309 meter, sedangkan jalur Sasaksaat hanya membutuhkan kenaikan sekitar 156 meter. Perusahaan kereta api kolonial Staatsspoorwegen (SS) mempertimbangkan proyek ini untuk menghindari medan berat di lintasan Cipatat–Tagog Apu. Titik ini dikenal sebagai tanjakan paling terjal di wilayah Priangan, yang sering menghambat perjalanan kereta penumpang dan angkutan barang. Selain itu, jalur lama juga rawan longsor, menambah risiko operasional yang tinggi.

Mengapa Rencana Tahun 1915 Tidak Terealisasi

Meskipun telah melalui kajian matang, rencana pembangunan jalur alternatif ini tidak pernah terealisasi. Hingga saat ini, jalur lama melalui Stasiun Tagog Apu masih digunakan untuk operasional kereta api, sementara wacana pengalihan trase hanya menjadi catatan sejarah yang terlupakan selama puluhan tahun.

Rencana Reaktivasi Era Modern

Kini, gagasan sejarah ini kembali dihidupkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebagai upaya mengatasi hambatan akibat kondisi trek yang curam dan rawan longsor di jalur lama. Sebagai langkah awal, Kemenhub telah melelang proyek Detail Engineering Design (DED) jalur dan jembatan kereta api lintas Cipatat–Padalarang pada 14 Februari 2023. Proyek dengan nilai kontrak sekitar Rp3,8 miliar ini dimenangkan oleh PT Scalarindo Utama Consult. Menurut dokumen perencanaan, jalur baru akan dilengkapi dengan satu terowongan sepanjang 300 meter dan dua jembatan masing-masing sepanjang 50 meter. Jalur ini akan terhubung dengan lintas utama Jakarta–Bandung melalui Purwakarta, tepatnya di Stasiun Sasaksaat yang berada di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat. Rute baru ini akan membuat rel dari Cipatat belok ke arah utara menuju jalur Padalarang–Karawang, sehingga kereta tidak lagi melewati Stasiun Tagog Apu. Sebagai gantinya, perjalanan akan melewati Sasaksaat, kemudian bergerak ke timur menuju Stasiun Cileme, dan akhirnya tiba di Padalarang.

Manfaat dan Dampak Proyek

Jika terwujud, proyek ini akan membawa banyak manfaat bagi masyarakat dan ekonomi wilayah Jawa Barat. Pertama, perjalanan kereta api dari Cianjur dan Cipatat menuju Bandung akan menjadi lebih efisien, aman, dan andal, karena menghindari tanjakan terjal dan zona rawan longsor. Kedua, proyek ini akan meningkatkan konektivitas transportasi rel di wilayah Priangan, yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dengan memudahkan distribusi barang dan mobilitas wisatawan. Terakhir, jalur kereta api Cipatat–Sasaksaat juga akan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, dengan menyambungkan kembali sejarah infrastruktur transportasi kolonial yang terputus selama seabad.

Dengan adanya rencana reaktivasi ini, harapan untuk menghilangkan hambatan operasional di jalur lama dan menghidupkan kembali nadi ekonomi wilayah Jawa Barat semakin dekat. Proyek ini tidak hanya menjadi upaya pengembangan infrastruktur, tetapi juga upaya untuk menghormati sejarah transportasi rel Indonesia yang telah terlupakan selama puluhan tahun.