Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Hotel Astoria Lembang: Warisan Perhotelan dan Diplomasi Asia Afrika

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Penelusuran sejarah mengungkap Hotel Astoria di Lembang sebagai warisan perhotelan kolonial yang turut berperan dalam Konferensi Asia Afrika 1955 serta memberikan dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Hotel Astoria Lembang: Warisan Perhotelan dan Diplomasi Asia Afrika

Pendahuluan

Lembang, dataran tinggi di dekat Bandung, tidak hanya dikenal dengan pemandangan pegunungan dan udara sejuknya. Kawasan ini menyimpan jejak warisan sejarah perhotelan kolonial yang jarang diketahui publik, salah satunya adalah Hotel Astoria. Melalui penelusuran arsip visual, kesaksian lisan warga, dan penelitian lapangan, keberadaan hotel ini terkonfirmasi sebagai bagian dari jaringan perhotelan era kolonial yang juga turut berperan dalam peristiwa diplomasi global.

Lembang sebagai Kawasan Peristirahatan Era Kolonial

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wilayah Bandung dan sekitarnya menjadi tujuan favorit bagi kalangan Eropa di Hindia Belanda. Iklim dataran tinggi yang sejuk jauh dari panasnya kota utama menjadikan Lembang dan sekitarnya sebagai kawasan hunian dan rekreasi elit. Untuk melayani kebutuhan wisatawan dan penghuni kawasan, berbagai vila, losmen, dan hotel bermunculan di jalur penghubung Bandung dan Lembang. Salah satu bangunan yang menjadi bukti perkembangan industri perhotelan saat itu adalah Hotel Astoria.

Hotel Astoria: Bukti Arsitektur Art Deco dan Lokasi Strategis

Keberadaan Hotel Astoria pertama kali terkonfirmasi melalui temuan foto lama bergaya arsitektur art deco yang memuat tulisan "Hotel Astoria, Djln Lembang no 32–34." Gaya arsitektur ini menjadi ciri khas bangunan awal hingga pertengahan abad ke-20, ketika pengaruh modernisme mulai masuk ke wilayah Hindia Belanda. Lokasi hotel berada di jalur strategis yang menghubungkan Bandung dengan Lembang, wilayah yang pada masa itu berkembang sebagai destinasi wisata alam dan hunian elite. Berdasarkan kesaksian lisan warga lokal, Hotel Astoria memiliki halaman luas dan lanskap terbuka yang memanfaatkan panorama pegunungan sebagai daya tarik utama. Pola pembangunan ini mencerminkan standar industri perhotelan kolonial yang mengutamakan kenyamanan dan pemandangan alam bagi tamu.

"Saya masih ingat melihat Hotel Astoria saat kecil, bangunannya besar dengan jendela-jendela lebar yang menghadap gunung. Banyak tamu asing datang menginap di sana," ujar salah satu warga Lembang yang telah hidup di kawasan tersebut selama lebih dari 70 tahun.

Peran Hotel Astoria dalam Konferensi Asia Afrika 1955

Peran historis Hotel Astoria semakin signifikan ketika disebut sebagai salah satu lokasi yang digunakan untuk menginapkan delegasi India pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Peristiwa internasional tersebut merupakan tonggak penting dalam sejarah diplomasi Indonesia dan dunia, yang mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka atau sedang berjuang melepaskan diri dari kolonialisme. Jika catatan penelitian ini tepat, maka Hotel Astoria menjadi bagian dari infrastruktur pendukung perhelatan global yang berlangsung di Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Lembang turut berkontribusi dalam momentum diplomasi internasional tersebut, meskipun perannya tidak sebanyak pusat kegiatan utama di Bandung kota.

Dampak Sosial-Ekonomi Bagi Masyarakat Lembang

Selain fungsi politik dan diplomatik, Hotel Astoria juga memiliki dimensi sosial-ekonomi yang penting bagi masyarakat sekitar. Keterangan warga menyebutkan adanya tenaga kerja lokal yang bekerja di hotel tersebut, termasuk sebagai petugas laundry, pelayan, dan pekerja taman. Keberadaan industri perhotelan di Lembang tidak hanya melayani tamu dari luar daerah, tetapi juga menciptakan mata pencaharian bagi masyarakat lokal. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan kawasan wisata tidak hanya berdampak pada sektor pariwisata, tetapi juga pada perekonomian masyarakat sekitar pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan.

Status Saat Ini dan Perlindungan Warisan Sejarah

Penelusuran lokasi menunjukkan bahwa bangunan yang diduga bekas Hotel Astoria berada di kawasan sekitar Terminal Ledeng dan Polsek Cidadap. Meski telah mengalami perubahan zaman dan sebagian strukturnya tidak lagi utuh, kemiripan bentuk dengan dokumentasi lama masih dapat dikenali. Sayangnya, kondisi bangunan kini tertutup dan terancam oleh pembangunan baru. Hal ini menempatkan Hotel Astoria dalam posisi rentan sebagai warisan sejarah yang belum sepenuhnya terdokumentasikan secara resmi. Kisah Hotel Astoria juga menunjukkan bagaimana sejarah lokal sering tersembunyi di balik keterbatasan arsip dan perubahan ruang kota. Melalui kombinasi dokumentasi visual, kesaksian lisan, dan penelusuran lapangan, keberadaan hotel ini dapat diposisikan sebagai bagian dari sejarah perhotelan kolonial, perkembangan Lembang sebagai kawasan wisata, serta keterlibatan tidak langsungnya dalam peristiwa besar seperti Konferensi Asia Afrika 1955.

Kesimpulan

Hotel Astoria di Lembang bukan hanya sekadar bangunan bekas hotel kolonial, melainkan juga bukti peran kecil namun penting dalam sejarah diplomasi Indonesia dan perkembangan pariwisata lokal. Warisan ini perlu mendapat perhatian lebih untuk dilindungi dan didokumentasikan agar tidak hilang begitu saja seiring dengan perkembangan zaman.

Sumber: BandungBergerak.id (2025)