Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Gula Tersembunyi di Minuman: Risiko Kesehatan dan Diabetes di Jabar

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Konsumsi minuman manis dengan gula tersembunyi melampaui batas harian, meningkatkan risiko diabetes dan obesitas di Jawa Barat dengan data kasus yang meningkat signifikan.

Gula Tersembunyi di Minuman: Risiko Kesehatan dan Diabetes di Jabar

Konsumsi minuman manis kekinian seperti boba, kopi frappe, dan minuman kemasan semakin marak di Indonesia, terutama di wilayah Jawa Barat. Fenomena ini tidak hanya menjadi tren gaya hidup yang populer, tetapi juga membawa risiko kesehatan serius dari gula tersembunyi yang tidak disadari oleh banyak konsumen. Tanpa pengecekan yang tepat, asupan gula harian bisa melampaui batas yang direkomendasikan, membuka jalan bagi penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan obesitas.

Apa Itu Gula Tersembunyi dalam Minuman?

Gula tersembunyi, atau hidden sugar, adalah kandungan gula yang ditambahkan pada produk pangan dan minuman yang tidak terasa manis secara langsung, tetapi tetap menambah asupan gula total. Dalam konteks minuman, satu kemasan minuman kekinian bisa mengandung 25 hingga 40 gram gula, setara dengan 10 hingga 15 sendok teh gula. Angka ini hampir memenuhi, bahkan melebihi, batas konsumsi harian yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI, yaitu maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan per hari.

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah mengonsumsi gula berlebih dari minuman sebelum menyantap makanan utama. Hal ini membuat total asupan gula harian dengan mudah melampaui batas yang aman, tanpa disadari.

Dampak Kesehatan yang Meningkat di Jawa Barat

Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menunjukkan peningkatan signifikan kasus diabetes di wilayah ini. Prevalensi diabetes di Jawa Barat mencapai 1,74 persen, setara dengan lebih dari 570.000 penderita. Bahkan di Kabupaten Karawang, jumlah kasus diabetes meningkat drastis dari 29.000 pada tahun 2024 menjadi 52.100 pada tahun 2026.

Selain itu, data Open Data Jabar periode 2021–2023 menunjukkan bahwa sekitar 37,1 persen penderita diabetes di wilayah ini belum mendapatkan layanan kesehatan sesuai standar. Hal ini menambah beban sistem kesehatan dan risiko komplikasi bagi pasien.

Studi dalam Journal of Global Nutrition tahun 2021 yang dilakukan di Depok juga menemukan prevalensi kelebihan berat badan pada dewasa muda mencapai 24,2 persen, yang berkaitan erat dengan konsumsi minuman tinggi gula.

Indonesia sendiri menempati peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes, menurut data Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). Lembaga ini juga mencatat tren peningkatan penyakit tidak menular (PTM) yang berkaitan erat dengan pola konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak. Bahkan, angka obesitas di Indonesia telah meningkat dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir.

Kebijakan Pemerintah untuk Menurunkan Risiko Gula Tersembunyi

Menanggapi masalah ini, pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengatur produk pangan. Salah satu langkah utama adalah inisiatif BPOM RI mengenai pelabelan Nutri-Level pada produk pangan olahan.

Sistem pelabelan ini menampilkan kandungan gula, garam, dan lemak dalam bentuk peringkat A hingga D dengan indikator warna:

Dengan adanya pelabelan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih produk, terutama minuman, dan memahami kandungan gula yang ada di dalamnya tanpa perlu membaca informasi nutrisi yang rumit.

Peran Individu dan Keluarga dalam Mengontrol Konsumsi Gula

Meskipun kebijakan pemerintah penting, pengendalian konsumsi gula tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga kesadaran individu dan peran keluarga. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis yang terbentuk sejak dini cenderung terbawa hingga dewasa dan sulit diubah.

Para ahli menekankan bahwa minuman manis tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi perlu dikontrol secara bijak. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:

"Kesadaran akan gula tersembunyi adalah langkah pertama untuk mengendalikan asupan gula harian. Keluarga juga berperan penting dalam membangun kebiasaan makan dan minum yang sehat sejak dini," kata seorang ahli gizi yang tidak disebutkan namanya.

Kesimpulan

Di balik rasa manis yang menyegarkan dari minuman kekinian, tersembunyi risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap remeh. Dengan peningkatan kasus diabetes dan obesitas di Jawa Barat dan seluruh Indonesia, penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap kandungan gula tersembunyi dalam minuman yang mereka konsumsi. Hanya dengan kesadaran dan tindakan bersama, kita bisa mengurangi risiko penyakit kronis yang terkait dengan konsumsi gula berlebih.