Golden France Rilis Petit Croissant Setelah 20 Tahun Bangun Bisnis di Bogor
Golden France resmi merilis petit croissant setelah 20 tahun membangun bisnis dari oven kecil di Bogor menjadi enam cabang di kawasan tersebut

Dari Oven Kecil ke Enam Cabang
Sawangan, Bogor, berubah pesat dalam dua dekade terakhir. Bangunan-bangunan baru bermunculan, kawasan permukiman berkembang, dan selera masyarakat ikut bergeser. Di tengah perubahan itu, Golden France berdiri pada 2004 dengan satu oven dan satu misi sederhana: memperkenalkan croissant ke lidah orang Bogor.
Oryza Sativa, pemilik Golden France, tidak menyangka perjalanannya akan sejauh ini. "Dulu croissant masih sesuatu yang cukup asing, terutama di Bogor. Dari situ kami melihat ada peluang, lalu kami mencoba mencari resep yang paling tepat," kata Oryza tentang awal mula usahanya.
Baca Juga: 150 Ribu Rumah Tangga Bandung Butuh Perbaikan Sanitasi, Pemetaan Dimulai dari Data RW
Peluang tersebut muncul karena pada 2004 croissant belum menjadi panganan yang akrab bagi masyarakat Bogor. Golden France kemudian menguji berbagai resep hingga menemukan formula yang dianggap sesuai dengan selera lokal. Proses belajar ini berlangsung selama bertahun-tahun.
Dari sebuah oven dan toko kecil, Golden France kini telah memperluas jangkauan dengan membuka cabang di beberapa lokasi. Mereka hadir di Sawangan, Meruyung, Kota Wisata, Cileungsi, Jonggol, dan Gunung Putri. Perolehan ini memakan waktu lebih dari 20 tahun.
Petit Croissant sebagai Bagian dari Cerita Bogor
Golden France tidak puas hanya menjadi toko kue biasa. Setelah dua dekade berdiri, mereka mulai memikirkan bagaimana croissant bisa memiliki cerita sendiri di Bogor. Salah satu langkahnya adalah merilis petit croissant yang berukuran lebih kecil dari croissant umumnya.
Baca Juga: Becak Listrik untuk Lansia di Bandung Makin Jarang Diminati Penumpang
Produk ini bukan sekadar versi mini dari croissant biasa. Petit croissant menjadi cara Golden France membangun identitas. Croissant tidak lagi diperkenalkan sebagai panganan khas Prancis, tetapi perlahan ditempatkan dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat Bogor.
"Kami tidak ingin hanya mengatakan bahwa croissant adalah makanan dari Prancis. Setelah lebih dari 20 tahun, kami ingin punya cerita sendiri. Petit croissant adalah salah satu bagian dari cerita itu. Harapannya, ketika orang datang ke Bogor dan membawa pulang Golden France, yang mereka bawa bukan hanya makanan, tetapi juga sedikit cerita tentang Kota Hujan," tutur Oryza.
Makanan atau produk khas lain sering membawa ingatan tentang sebuah kota. Golden France ingin produknya tidak hanya menjadi makanan yang dibeli, tetapi bagian dari cerita orang yang berkunjung ke Bogor. Petit croissant menjadi salah satu cara agar croissant bisa menjadi oleh-oleh yang lekat dengan Kota Hujan.
Pelajaran dari Pengalaman 20 Tahun
Perjalanan Golden France selama dua dekade menunjukkan bahwa membangun identitas lokal membutuhkan kesabaran. Mereka tidak langsung memaksakan croissant kepada masyarakat, tetapi belajar memahami selera lokal terlebih dahulu.
Formula yang ditemukan melibatkan bahan baku premium yang tetap diupayakan agar terjangkau. Pendekatan ini memungkinkan lebih banyak orang untuk merasakan croissant tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi.
Bagi siapa pun yang ingin memulai usaha di Bandung atau kawasan Jawa Barat, pengalaman Golden France bisa jadi referensi. Langkah awal mereka dimulai dari melihat peluang di sekitar, bukan langsung mengikuti tren yang sudah populer. Dua dekade kemudian, mereka baru merasa cukup percaya diri untuk menambahkan produk baru yang memiliki karakter kuat.
Golden France kini berada di antara upaya mempertahankan croissant sebagai titik awal perjalanan sekaligus mencari bentuk baru untuk berkembang. Dari peluang yang muncul pada 2004, mereka ingin membangun cerita lebih panjang tentang bagaimana panganan yang dahulu terasa asing perlahan menemukan tempatnya dalam keseharian masyarakat.