Gen Z Bandung Koleksi Vinyl Meski Harga Rp650 Ribu, Anak SMP Sudah Borong Piringan Hitam
Gen Z Bandung mulai koleksi vinyl meski harganya Rp650 ribu, bahkan anak SMP sudah membeli piringan hitam sebagai bentuk kepemilikan fisik dan identitas di era streaming.

Anak SMP kini masuk dalam daftar pembeli piringan hitam di toko musik Bandung. Fenomena ini jadi sinyal kuat bahwa generasi Z mulai meninggalkan sekadar mendengarkan musik lewat layar, menuju kepemilikan fisik yang bisa mereka pegang.
Founder toko musik 33 RPM, Miko Andrean, menceritakan perubahan drastis itu mulai terasa sejak gelaran Record Store Day. Dulu pembeli vinyl didominasi usia lebih tua, sekarang yang mendominasi justru anak muda.
"Baru tahun inilah perubahannya kayak, wah kok tiba-tiba Gen Z ya yang lebih, bahkan anak SMP udah membeli piringan hitam," kata Miko dalam diskusi "Musik Analog Berjaya Lagi?" di Kopikina Kemang, Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: Epson EcoTank Capai 100 Juta Unit Secara Global, Indonesia Jadi Titik Awal pada 2010
Menurut Miko, ketertarikan ini bukan soal usia atau kemampuan finansial semata. Bagi Gen Z, memiliki piringan hitam atau CD berarti memiliki sesuatu yang nyata di tengah layanan streaming yang tidak berbentuk fisik.
"Kalau streaming itu tidak memiliki bentuk fisik. Jadi ketika ada format CD dan piringan hitam, mereka jadi merasa punya sesuatu, oh this is something," katanya.
Produser sekaligus pengamat musik David Tarigan menambahkan, fenomena membeli rilisan fisik tanpa memiliki perangkat pemutar bukan hal baru. Ia sendiri pernah membeli vinyl di usia 12 tahun tanpa punya player.
"Pengoleksian ini tuh berhubungan juga dengan identitas," kata David.
Koleksi piringan hitam menjadi cara anak muda menunjukkan selera musik mereka ke dunia. Apa yang mereka pilih untuk dikoleksi mencerminkan siapa mereka, bukan sekadar mendengarkan lagu.
soal harga, angka Rp500-600 ribu untuk satu album atau Rp650 ribu untuk vinyl baru tidak menyurutkan minat mereka. Miko menyebut konsumen muda tetap membeli meski angka itu bukan jumlah kecil untuk kantong pelajar.
"Ketika kalian beli piringan hitam satu album tuh harga Rp500-600 ribu, bahkan vinyl baru itu sekarang paling murah tuh Rp650 ribu, tetap dibeli aja," lanjut Miko.
Para pengamat menilai fenomena ini bagian dari pencarian identitas lewat benda-benda konkret. Di tengah gempuran playlist digital yang bisa diakses siapa saja, koleksi vinyl memberi pembedaan bahwa selera musik seseorang adalah sesuatu yang dipilih, bukan sekadar diklik.