Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Film Horor dan Cara Masyarakat Memandang Budaya Sunda

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Film horor Indonesia sering menggunakan budaya Sunda sebagai latar teror, yang berisiko menciptakan stigma negatif terhadap tradisi lokal terutama pada generasi muda yang mengenalnya melalui media.

Film Horor dan Cara Masyarakat Memandang Budaya Sunda

Budaya Sunda di Layar Lebar: Dari Warisan Hidup ke Sumber Teror?

Mengapa Penggambaran Budaya dalam Film Horor Bisa Mengubah Persepsi Masyarakat

Dalam beberapa tahun terakhir, film horor Indonesia semakin populer dengan menggunakan elemen budaya lokal sebagai latar cerita utama. Khususnya di wilayah Bandung dan Jawa Barat, simbol-simbol budaya Sunda seperti larangan adat, ritual tradisional, dan kepercayaan masyarakat sering dijadikan pemicu konflik dan sumber teror dalam film-film ini. Pendekatan ini memang berhasil menarik perhatian penonton dengan suasana yang dekat dan relevan, tetapi di balik itu terdapat risiko yang seringkali terlewatkan: perubahan persepsi masyarakat terhadap warisan budaya sendiri.

Budaya Sunda tidaklah sekadar kumpulan larangan atau ritual yang misterius. Seperti yang dijelaskan dalam Jurnal Antropologi Indonesia (2018), sistem adat dalam masyarakat tradisional Sunda berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga harmoni antarindividu, hubungan dengan alam, dan penuntun etika hidup. Larangan seperti tidak boleh memasuki hutan tertentu pada malam hari, misalnya, bukanlah larangan tanpa alasan, melainkan hasil pengalaman kolektif tentang bahaya yang mungkin terjadi, serta ajaran untuk menghormati ruang alam.

Penyederhanaan Makna: Budaya Sebagai Properti Cerita Bukan Sistem Nilai

Masalah muncul ketika elemen budaya ini direpresentasikan dalam film horor: maknanya seringkali disederhanakan dan diubah menjadi simbol bahaya. Tradisi yang kaya akan nilai filosofis direduksi menjadi alat untuk menimbulkan ketakutan, tanpa menjelaskan konteks dan tujuan asli dari tradisi tersebut.

"Media visual memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik, terutama ketika simbol budaya terus-menerus ditampilkan dalam konteks yang seragam dan negatif." – Jurnal Ilmu Komunikasi (2020)

Dampak ini terasa paling signifikan pada generasi muda. Menurut Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (2019), representasi budaya di media berpengaruh besar terhadap sikap generasi muda terhadap tradisi lokal. Banyak dari mereka yang mengenal budaya Sunda bukan dari praktik hidup sehari-hari atau penjelasan dari orang tua, melainkan melalui film horor yang menampilkan tradisi sebagai sesuatu yang "angker" dan harus dijauhi.

Beberapa dampak negatif ini antara lain:

Horor Sebagai Cermin Ketakutan Kolektif: Strategi Naratif yang Berisiko

Dalam kajian media dan budaya, genre horor sering dipahami sebagai cermin dari ketakutan kolektif masyarakat. Penggunaan simbol budaya lokal dalam film horor bukanlah sekadar pilihan estetika, melainkan strategi naratif untuk membangun emosi penonton agar merasa terhubung dengan cerita. Seperti yang diuraikan dalam Jurnal Kajian Media dan Budaya (2021), simbol-simbol yang akrab dalam memori sosial akan membuat ketakutan terasa lebih nyata dan relevan.

Namun, persoalannya muncul ketika strategi ini tidak diimbangi dengan pemahaman budaya yang memadai. Budaya Sunda, seperti yang dijelaskan dalam buku Budaya Sunda: Sejarah dan Nilai Kehidupan (2015), memuat ajaran tentang cara hidup yang seimbang dengan lingkungan dan sesama. Ketika unsur-unsur ini dilepaskan dari konteksnya, budaya kehilangan martabat dan kedalaman maknanya, hanya menjadi properti cerita yang digunakan untuk menimbulkan ketakutan.

Menyeimbangkan Hiburan dan Literasi Budaya

Pada akhirnya, penting untuk membedakan antara rasa takut sebagai emosi dalam hiburan dan budaya sebagai pengetahuan hidup yang berharga. Film horor tetap dapat berperan sebagai ruang ekspresi dan hiburan bagi masyarakat, tetapi tidak harus terus-menerus memposisikan budaya lokal sebagai sumber ketakutan.

Solusi yang bisa dilakukan antara lain:

Dengan langkah-langkah ini, masyarakat dapat melihat tradisi Sunda bukan sebagai bayangan gelap yang mengancam, melainkan sebagai warisan pengetahuan yang patut dipahami, dirawat, dan dihargai untuk generasi mendatang.