Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dulu Diasuh Panti Asuhan, Bang Ran Kini Ajarkan Ribuan Orang Baca Pasar Lewat Ran Trade

Bandung · Oleh ·

Ranto Siagian diasuh di panti asuhan karena keterbatasan ekonomi, kini ia edukasi ribuan orang soal pembacaan pasar keuangan melalui komunitas Ran Trade dengan Metode BRG.

Dulu Diasuh Panti Asuhan, Bang Ran Kini Ajarkan Ribuan Orang Baca Pasar Lewat Ran Trade

Ranto Siagian kecil tidak pernah menyangka bahwa waktu yang dihabiskannya di panti asuhan akan menjadi bekal membangun komunitas edukasi trading. Pria kelahiran Samarinda itu kini dikenal sebagai Bang Ran, founder Ran Trade, komunitas yang telah membimbing ribuan orang memahami pasar keuangan.

Keterbatasan ekonomi memaksa keluarganya menitipkan Ranto dan sejumlah saudaranya ke panti saat ia baru masuk kelas I SD. Sebelas tahun berlalu di sana hingga ia menyelesaikan pendidikan SMK. Kesempatan kuliah tidak pernah datang karena tidak ada biaya.

Namun di dalam panti, ia justru menemukan ruang belajar yang tidak selalu hadir di dalam kelas. Ranto kecil belajar bermain musik, berbicara di depan para donatur, dan menjalani berbagai kegiatan terjadwal yang membentuk kedisiplinan. "Saya belajar bermain musik, berlatih berbicara di depan umum saat berinteraksi dengan para donatur, hingga mengenal kedisiplinan melalui berbagai kegiatan rutin yang terjadwal," katanya.

Baca Juga: Australia Bergeser 7 Cm per Tahun Menuju Asia, Tekanan Lempeng Bikin Indonesia Rawan Gempa

Pengalaman itu mengendap menjadi keyakinan bahwa pendidikan bukan hanya soal ijazah. Bagi anak-anak muda yang juga tidak bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, pesan ini terasa relevan. Ranto memilih langsung bekerja setelah lulus SMK, tapi tidak berhenti belajar.

pada 1 Juli 2024, ia mendirikan Ran Trade. Komunitas edukasi pasar keuangan itu lahir dari pengamatan bahwa banyak orang sudah mengenal trading, namun masih kesulitan membaca struktur pasar dan mengelola risiko. "Di lapangan, saya menemukan banyak orang sudah mengenal trading, tetapi masih lemah dalam memahami manajemen risiko, membaca struktur pasar, dan menjalankan strategi secara konsisten," katanya.

Metode BRG menjadi pendekatan utama yang diajarkan. Singkatan itu merujuk pada kerangka kerja yang ia susun sendiri berdasarkan pengalaman di pasar, mulai dari pembacaan arah pasar, penentuan area masuk, hingga pengelolaan risiko sebelum mengambil keputusan. "Yang membedakan Metode BRG adalah pendekatannya yang terstruktur, mulai dari membaca arah pasar, menentukan area entry, hingga mengatur risiko sebelum mengambil posisi," katanya.

Baca Juga: Ribuan Mahasiswa Geologi Berebut Gelar di Bandung, Bertemu Tantangan Keseimbangan Tambang dan Lingkungan

Ran Trade tidak hanya beroperasi secara daring. Seminar tatap muka menjadi bagian penting dari metode pengajaran ini. Pertemuan langsung dinilai memberi kesempatan untuk melihat langsung apakah peserta benar-benar memahami materi. "Kelas online memang lebih praktis, tapi lewat seminar tatap muka saya bisa melihat langsung apakah peserta benar-benar memahami materi dan kesulitan yang mereka alami," menurutnya.

Bandung menjadi salah satu kota yang pernah dijangkau seminar Ran Trade sebelum berlanjut ke Jakarta dan Surabaya. Hingga kini, komunitas ini mencatat 2.783 anggota aktif yang terdiri dari anggota berbayar dan anggota grup Telegram. Jumlah pengikut akumulatif di Telegram, Instagram, YouTube, dan situs Ran Trade Academy mencapai 87.570 akun.

Pengalaman pribadi di panti asuhan tidak berhenti menjadi cerita masa lalu. Pada November 2025, sehari setelah seminar di Jakarta, Bang Ran mengajak anggota komunitasnya mengunjungi sebuah panti asuhan di kota tersebut. Pengalaman yang pernah membentuk dirinya itu ia salurkan dalam bentuk nyata untuk anak-anak yang kini berada di posisi yang sama.

Untuk siapa pun yang merasa tidak punya banyak pilihan, perjalanan Bang Ran menawarkan satu perspektif: keterbatasan bisa menjadi awal jalur yang tidak terduga.