Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Australia Bergeser 7 Cm per Tahun Menuju Asia, Tekanan Lempeng Bikin Indonesia Rawan Gempa

Bandung · Oleh ·

Australia bergeser 7 cm per tahun menuju Asia, tekanan dari proses tektonik ini meningkatkan risiko gempa dan aktivitas vulkanik di wilayah Indonesia termasuk Jawa Barat

Australia Bergeser 7 Cm per Tahun Menuju Asia, Tekanan Lempeng Bikin Indonesia Rawan Gempa

Tekanan dari lempeng tektonik Australia yang terus bergerak شمال-timur laut tidak hanya menggeser daratan. Proses ini juga membangun tegangan di zona subduksi yang melintasi wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

Data GPS global yang dikumpulkan ilmuwan menunjukkan Australia berpindah sekitar 7 cm setiap tahun. Kecepatan ini menjadikan benua tersebut yang tercepat di antara semua lempeng tektonik di Bumi. Posisi Australia yang duduk tepat di atas pertemuan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia membuat pergerakannya menekan kerak bumi di bawah kepulauan Indonesia.

"Australia terus bergerak menuju kawasan Asia Tenggara, yang dikenal sebagai salah satu zona tektonik paling rumit di dunia," jelas Prof Zheng-Xiang Li dari Curtin University. Di kawasan ini, lempeng dan fragmen kerak bumi saling bertabrakan, menunjam, hingga terlipat secara aktif.

Baca Juga: Ruang Putih Bandung Konsepkan Persahabatan sebagai Ukuran Keberhasilan Sejak 2010

Di bagian utara Pulau Jawa, proses penunjaman itu berlangsung secara permanen. Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia dengan kecepatan yang lambat namun dahsyat dalam hitungan geologis. Tekanan yang terakumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun akhirnya lepas dalam bentuk gempa bumi.

Pergerakan ini pula yang memicu aktivitas vulkanik di sepanjang Busur Sunda. Majunya Australian Plate membawa energi yang memanaskan material bumi di kedalaman, kemudian mendorongnya naik melalui jaringan gunung berapi yang membentang dari Sumatera hingga Nusa Tenggara.

Jawa Barat, dengan kota-kota padat seperti Bandung, berada di garis depan tekanan ini. Gempa bumi yang melanda wilayah ini, termasuk gempa kuat yang pernah merusak bangunan di Bandung beberapa waktu lalu, berkaitan langsung dengan aktivitas tektonik di zona subduksi. Getaran yang kadang terasa ringan di permukaan sebenarnya adalah pelepasan energi dari proses yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Baca Juga: Tiga Pemain Abroad Cedera, Persib Tetap Tancap Gas Ladeni PSM di GBLA

Dalam satu juta tahun ke depan, Australia预计 akan bergeser sejauh 70 km dari posisinya saat ini. Pergeseran berton-ton batuan seukuran benua itu secara otomatis mengubah wajah Samudra Pasifik dan posisi benua-benua di sekitarnya. Para ilmuwan memperkirakan proses ini pada akhirnya akan menutup Samudra Pasifik dan menyatukan benua-benua menjadi superkontinen yang dinamai "Amasia".

Proses serupa pernah membentuk pegunungan Himalaya ketika benua India bertabrakan dengan lempeng Eurasia sekitar 50 juta tahun lalu. Bedanya, pergerakan Australia terhadap Asia masih berjalan aktif, sehingga pengaruhnya terhadap ketenangan seismik Indonesia tidak akan berkurang dalam waktu dekat.

Dengan kata lain, masyarakat di kawasan aktif seperti Jawa Barat perlu memahami bahwa tekanan di bawah permukaan bumi tidak pernah berhenti. Gempa dan letusan gunung berapi bukan sekadar bencana acak, melainkan bagian dari siklus geologis yang saat ini masih berlanjut karena pergeseran lempeng yang terus bergerak tanpa henti.