BBWS Normalisasi 3 Kilometer Aliran Sungai di Bojongsoang untuk Cegah Banjir Menjelang Musim Hujan
BBWS normalisasi tiga kilometer sungai di Bojongsoang sejak Agustus 2026. Selain pengerukan, disiapkan danau retensi 10 hektare dan saluran baru dekat tol untuk menahan luapan air dari Kota Bandung.

Sejumlah permukiman di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, bakal lebih siap menghadapi musim hujan tahun ini. Itu setelah pemerintah melalui BBWS Citarum menyelesaikan normalisasi tiga aliran sungai sepanjangtotal 3 kilometer.
Pengerukan sedimentasi dan pelebaran dasar sungai sudah bergulir sejak awal Agustus 2026. Warga di sekitar aliran Sungai Cikeruh dan Citarum bisa melihat langsung alat berat beroperasi di titik yang selama ini menjadi jalur utama luapan air saat hujan deras.
Camat Bojongsoang Kankan Taufik Barnawan mengatakan normaleisasi di dua sungai itu membentang sekitar 1,3 kilometer. Pekerjaan sepenuhnya dibiayai oleh BBWS melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan partisipasi masyarakat dan pelaku usaha.
Baca Juga: Farhan Dorong Mahasiswa ITB Kembali ke Daerah Asal Membangun Setelah Menempuh Pendidikan di Bandung
"Pengerukan sudah berlangsung hampir 30 hari lebih. Itu sepanjang (sungai Cikeruh dan Citarum) sekitar 1,3 kilometer," kata Kankan saat ditemui Jumat (4/9/2026).
Selain dua sungai itu, BBWS juga mengeruk aliran Sungai Cikayapu dekat kawasan Podomoro sepanjang hampir 1 kilometer. Dari Matahari Land di Lengkong, normalisasi dilakukan sepanjang 700 meter. Totalnya mendekati 3 kilometer.
Upaya jangka panjang juga tengah dipersiapkan. Pemerintah daerah menyiapkan lahan seluas 10 hektare untuk pembangunan titik-titik danau retensi. Satu di antaranya berada di dekat Gerbang Tol Bojongsoang, area yang selama ini menjadi jalur akhir luapan air dari Kota Bandung.
Baca Juga: Pasar Kalcer 2026 Hadirkan 17 Subsektor Ekonomi Kreatif Bandung di Laswi Heritage Mulai 5 September
"Kita juga akan ada pembuatan saluran baru, dan salah satu masyarakatnya atau pengusahanya sudah memberikan hibah tanahnya itu sampai 8 meter kali hampir 1.200 meteran," terang Kankan. Saluran baru itu dirancang agar air dari arah kota tidak langsung menerjang kawasan Tegalluar.
BBWS juga menganggarkan pemasangan pintu air duckbill di beberapa titik aliran sungai. Alat ini berfungsi mencegah air Laut Jawa masuk kembali ke daratan saat surut. Kankan berharap infrastruktur ini bisa menjawab keluhan warga Bojongsoang, Baleendah, dan Dayeuhkolot yang selama ini merasakan dampak paling langsung.
Dia mengingatkan warga untuk terus menyuarakan permasalahan banjir agar masuk prioritas pemerintah pusat. "Walaupun Pak Bupati tidak berhenti mengonsep Pentahelix ini secara langsung karena Pak Bupati paham anggaran di pusatnya sedang tidak masuk ke wilayah kita," katanya.
Kankan juga menekankan agar perusahaan di Bojongsoang mengarahkan dana CSR ke tiga prioritas. "Pertama terkait dengan sampah, kedua terkait dengan banjir, dan ketiga terkait dengan macet," sebutnya. Perusahaan diminta mengurangi anggaran CSR untuk acara hiburan yang habis dalam semalam dan tidak memberi manfaat jangka panjang bagi lingkungan sekitar.
Pada September ini, sebagian pekerja normalisation sudah berkurang karena cuaca mulai berganti. Namun warga diminta tetap waspada karena puncak musim hujan di Bandung Raya biasanya jatuh pada November hingga Desember.