DLH Cianjur Gandeng Pihak Ketiga Kelola Sampah Setelah TPA Hanya Mampu Olah 20 Persen dari 250 Ton Timbulan Harian
Sekitar 200 ton sampah harian warga Cianjur tidak tertampung di TPA yang hanya mampu olah 25 ton. DLH menggandeng pihak ketiga agar sampah diolah jadi RDF dan pupuk kompos.

Sisa 200 ton sampah setiap hari di Kabupaten Cianjur tidak ke mana.
Angka itu bukan estimasi, melainkan selisih antara volume sampah yang dihasilkan warga dan kapasitas alat pengolah di Tempat Pemrosesan Akhir. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Limbah dan Limbah B3 DLH Cianjur Wandi Juliyaman menyebut produksi sampah di kabupaten ini mencapai 250 hingga 300 ton per hari. Di sisi lain, TPA Mekarsari di Kecamatan Cikalongkulon hanya mampu mengolah sekitar 25 ton per hari.
Artinya, 80 persen sampah harian warga tidak tertampung di fasilitas resmi. Sisanya menumpuk di tempat tunggu, dibakar dipex, atau mencemari lingkungan sekitar.
Baca Juga: RoboCop di Layar kaca Angkat Perdebatan Soal Batas Kewenangan Polisi dan Teknologi
"Jadi sampah itu harus dipilah dan dipilih. Tidak asal dibuang sehingga yang sampah anorganik dan organik bercampur," kata Wandi saat sosialisasi pengelolaan sampah di Kecamatan Karangtengah, pertengahan Oktober lalu.
DLH Cianjur kini menggandeng pihak ketiga sebagai jalan keluar. Skemanya berubah dari tradisi lama yakni kumpul, angkut, buang menjadi kumpul, angkut, kelola. mesin yang pihak ketiga siapkan akan pemilahan dua jalur. Sampah anorganik diproses menjadi RDF atau_Refuse-Derived Fuel_ sebagai bahan bakar alternatif. Sampah organik berubah jadi pupuk kompos.
"Skemanya sekarang kumpul, angkut, dan kelola," ucap Wandi.
Baca Juga: LSM BARAK Bogor Akan Pantau Penggunaan Dana Ketahanan Pangan BUMDes Senilai Ratusan Juta
Target kerja sama pertama jatuh di TPS 3R Kecamatan Karangtengah. DLH Cianjur menyasar kerja sama bisa berjalan awal November mendatang. Langkah ini bagian dari program Indonesia Asri yang presiden Instruksikan, dengan target pengelolaan sampah tuntas pada 2029.
Untuk mencapai target itu, pemilahan sampah sejak rumah tangga menjadi kunci. Tanpa pemisahan di sumber, mesin pengolah tidak bisa bekerja optimal. DLH terus menyosialisasikan kebiasaan itu ke masyarakat, termasuk di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi titik awal penumpukan sampah terbesar.