Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dua Perempuan Memanjat Monumen HI dan Spanduk Krisis Iklim, Beban Warga Desa Bandung Barat Jadi Sorotan

KBB · Oleh ·

Dua perempuan memanjat Monumen Selamat Datang dan membentangkan spanduk krisis iklim serta biaya hidup, isu yang terasa langsung di desa-desa Bandung Barat yang sumurnya mengering.

Dua Perempuan Memanjat Monumen HI dan Spanduk Krisis Iklim, Beban Warga Desa Bandung Barat Jadi Sorotan

Enam aktivis memanjat struktur Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia pada 20 Oktober 2026. Dua di antaranya perempuan. Dari ketinggian, mereka membentangkan spanduk bertuliskan "Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup".

Aksi itu berlangsung di Jakarta, tapi gaungnya sampai ke desa-desa di Kabupaten Bandung Barat. Di Kecamatan Cipongkor dan Rongga, misalnya, warga sudah terbiasa menempuh jarak lebih jauh untuk mendapat air bersih saat kemarau panjang. Sumur-sumur dangkal mengering lebih cepat dibanding sepuluh tahun lalu.

Yang Menanggung Duluan Saat Sumur Mengering

Pesan di spanduk itu menyambung dua hal yang sering dibahas terpisah: kerusakan lingkungan dan biaya hidup. Di tingkat desa, keduanya bertemu di satu titik, yaitu dapur rumah tangga.

Baca Juga: Ketua DPRD Bandung Asep Mulyadi Dukung Pen prohibiting Bangunan Liar dan PKL di Trotoar serta Minta Pengawasan

Ketika mata air menyusut, perempuanlah yang biasanya berjalan lebih jauh mencari air. Ketika harga beras dan minyak goreng naik, mereka pula yang memutar anggaran belanja harian. Beban itu tidak muncul di statistik ekonomi makro, tapi terasa setiap hari di dapur warga.

Keterlibatan perempuan dalam aksi di ruang publik bukan hal baru di Jawa Barat. Pada 28 Oktober 2026, gerakan #IndonesiaSadar memenuhi kawasan Bundaran HI. Aliansi mahasiswa dari delapan perguruan tinggi bergabung dengan organisasi buruh, kelompok petani, dan Aliansi Ibu Indonesia.

Zaskia Adya Mecca hadir membawa ambulans, pasokan medis, dan dukungan logistik. Ia berbaur dengan barisan ibu-ibu yang memastikan demonstran tetap berdiri. Wanda Hamidah turun bersama putrinya sambil mengacungkan poster bertuliskan "Diam ≠ Pilihan".

Baca Juga: Gudang Kayu di Babakan Ciparay Terbakar Merambat ke Rumah Kontrakan, 46 Jiwa Terdampak

"Menyediakan balutan luka bagi demonstran, mendistribusikan air minum di tengah terik matahari, atau sekadar hadir membawa poster di jalanan adalah wujud nyata dari sosialisasi kepedulian."

Kekerasan yang Masih Membayangi Pekerja Perempuan

Peran di ruang publik tidak serta merta menghapus kerentanan. Data Komnas Perempuan yang dirilis 1 Mei 2025 mencatat 2.702 kasus kekerasan terhadap perempuan pekerja sepanjang 2024-2025. Angka itu menunjukkan ruang kerja yang seharusnya memberdayakan justru bisa menjadi sumber ancaman.

Tahun sebelumnya, arsip pemberitaan kami pernah mengangkat kisah dua perempuan pekerja informal yang membangun ulang penghasilan dari nol lewat program pinjaman modal, perjuangan yang tidak lepas dari tekanan ekonomi harian. Pola serupa terlihat di Bandung Barat, tempat banyak perempuan desa bekerja di sektor informal tanpa jaminan perlindungan.

Di luar jam kerja, pekerjaan merawat anak, menjaga lansia, dan mengurus rumah tetap dianggap kodrat. Kerja itu tidak dibayar dan jarang dihitung sebagai kontribusi ekonomi, padahal menjadi fondasi yang membuat kegiatan lain bisa berjalan.

Kenapa Isu Ini Penting bagi Warga Bandung Barat

Kabupaten Bandung Barat punya banyak desa yang sumber airnya bergantung pada mata air pegunungan. Alih fungsi lahan di kawasan atas, dari hutan menjadi kebun dan perumahan, ikut memengaruhi debit air yang sampai ke rumah warga di bawah.

Artinya, tuntutan yang diteriakkan dari atas monumen di Jakarta punya padanan konkret di sini. Perempuan di Cipongkor, Rongga, atau Gununghalu tidak perlu memanjat monumen untuk merasakan dampak krisis iklim. Mereka mengalaminya di sumur yang mengering dan di harga pangan yang naik.

Keputusan soal tutupan lahan, izin usaha, dan anggaran air bersih diambil di ruang rapat. Suara warga desa, terutama perempuan, jarang hadir di sana. Jarak antara keputusan dan yang menanggung akibatnya itulah yang membuat aksi di Bundaran HI tetap relevan dibaca dari Jawa Barat.

Pemerintah kabupaten sudah beberapa kali menjadikan air bersih sebagai program prioritas di desa tertinggal. Besaran dan realisasinya di lapangan masih jadi pertanyaan warga, khususnya pada musim kemarau yang datang lebih panjang.

Persoalan rasisme dan sikap intoleran di ruang publik juga sempat menjadi perhatian di Bandung, seperti tergambar dalam sikap tegas terhadap perilaku rasis di dunia sepakbola. Dalam gerakan sosial yang lebih luas, cara memperlakukan kelompok yang paling terdampak selalu jadi ujian pertama.