Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Chimot Mundur dari for Revenge Setelah 20 Tahun, Cedera Kaki Mengakhiri Posisinya di Drum

Bandung · Oleh ·

Chimot mundur dari for Revenge setelah 20 tahun, diumumkan di akhir konser Titik Sadrah Bandung usai cedera kaki parah yang membuatnya beberapa kali absen manggung

Chimot Mundur dari for Revenge Setelah 20 Tahun, Cedera Kaki Mengakhiri Posisinya di Drum

Kabar itu datang di penghujung konser, bukan di awal. Penonton di Bandung yang datang merayakan 20 tahun for Revenge pada Sabtu (31/10) malam pulang dengan satu kekosongan di bangku drum. Archims Pribadi atau Chimot menyatakan dirinya sudah bukan bagian dari band yang ia dirikan pada 2006 itu.

Pengumuman disampaikan lewat video yang diputar di rangkaian akhir konser Titik Sadrah. Isinya bukan basa-basi perpisahan biasa. Chimot meminta orang-orang di sekitarnya menjaga band yang sudah ia bangun dua dekade.

"Boniex, Arief, Izha, komite, dan kalian for revenge family dari seluruh infonesia tolong jaga for Revenge," ujar Chimot dalam video tersebut.

Panggung malam itu berubah suasana. Saat outro lagu Penyangkalan usai, Chimot menunduk di balik drum setnya. Penonton meneriakkan namanya. Boniex Noer, Arief Ismail, dan Izha Muhammad lalu menghampiri dan memeluknya, mengubah konser perayaan menjadi perpisahan.

Baca Juga: Pansus 20 DPRD Bandung Bahas Raperda Rusun, Soroti Kewajiban 20 Persen Unit untuk Warga Berpenghasilan Rendah

Cedera kaki yang memotong jalan

Penyebab mundurnya bukan persoalan internal. Pada pertengahan 2025 Chimot mengalami cedera kaki parah dan menjalani fisioterapi intensif. Sebagian penggemar di media sosial mengaitkannya dengan cedera ACL, jenis luka yang memang sering memaksa drummer menepi lebih lama karena beban kaki saat menginjak pedal bass drum.

Selama masa pemulihan, posisinya beberapa kali diisi drummer lain, Tepe. Chimot tetap terlibat dalam penggarapan album Perayaan Patah Hati - Babak Dua. Artinya, kontribusinya di studio tidak putus, hanya panggung yang perlahan ia lepaskan.

Baca Juga: Polda Jabar Bongkar Situs Live Streaming Bugil vidiox.asia, Dua Pelaku Ditangkap dan Raup Rp750 Juta

Bagi pembaca di Bandung dan Jawa Barat, for Revenge bukan nama asing. Band ini lahir dan besar di kota ini, dan konser 20 tahun mereka jadi salah satu agenda musik yang menarik penonton dari luar kota. Sektor pertunjukan seperti inilah yang menghidupi kru panggung, teknisi suara, penyewaan alat, hingga pedagang di sekitar venue. Pergantian personel di band sekelas for Revenge ikut menentukan seberapa deras jadwal tur mereka ke depan, dan itu berdampak langsung ke pendapatan pekerja lepas di rantai acara musik.

Dari berjualan mi sampai tiga single penanda

Peran Chimot di for Revenge tidak kecil. Ia salah satu pendiri band pada 2006. Di titik terendah, ia pernah berjualan mi untuk bertahan hidup. Nama band ini baru kembali menguat dalam beberapa tahun terakhir lewat single Serana, Penyangkalan, dan Jakarta Hari Ini.

Titik balik itu juga berkaitan dengan sosok Boniex. Chimot yang berinisiatif mengajak vokalis tersebut kembali ke band saat Boniex sibuk bekerja sebagai karyawan swasta. Boniex akhirnya kembali dan memberi warna baru pada for Revenge.

Pengalaman Chimot bukan kasus tunggal di industri musik lokal. Band yang bertahan lama biasanya bergantung pada satu atau dua orang yang menanggung beban operasional, mulai dari mengurus jadwal hingga menalangi biaya produksi. Ketika orang itu berhenti karena alasan fisik, beban workaholic semacam ini pindah ke personel yang tersisa.

Peta acara musik di Bandung juga sedang ramai. Rangkaian nonton bareng Piala Dunia 2026 yang digelar di 40 titik Jabodetabek dan Jabar memperlihatkan minat penonton yang besar pada gelaran hiburan massal, dan itu pasar yang sama yang dimasuki band-band seperti for Revenge. Band yang sedang menata ulang formasi berhadapan dengan pasar yang tidak menunggu, sementara biaya produksi panggung tidak turun. Perpisahan di panggung Titik Sadrah jadi penanda bahwa regenerasi di tubuh band akan menentukan apakah jadwal mereka tetap jalan.

Sementara itu, pengamanan acara besar di Bandung sendiri menuntut biaya tidak kecil. Pengamanan takbiran 2026 di kota ini melibatkan 1.672 personel dan 11 titik penyekatan, gambaran betapa padatnya kalender keramaian yang harus dikelola penyelenggara dan pekerja acara di wilayah ini.

Yang tersisa dan yang harus dijaga

for Revenge kini berjalan dengan Boniex, Arief, dan Izha tanpa pendiri yang duduk di belakang drum. Belum ada keterangan resmi soal siapa yang akan mengisi posisi itu secara permanen, apakah Tepe diangkat atau band mencari nama baru.

Yang jelas, materi album terbaru sudah selesai dengan kontribusi Chimot. Yang tidak lagi bisa ia berikan adalah tenaga di panggung, dan itu bagian yang paling mahal di industri pertunjukan: jam terbang, bukan sekadar rekaman.