Bima Arya Sebut Korban Longsor Bandung Barat Dapat Hunian Sementara 2 Bulan
Setelah longsor di Cisarua Bandung Barat menewaskan 10 orang dan membuat 82 hilang, Wamendagri Bima Arya mengunjungi pengungsian, menegaskan insentif hunian sementara 2 bulan dan modifikasi cuaca untuk evakuasi korban yang masih hilang.

Konteks Bencana Longsor di Cisarua Bandung Barat
Dini hari Sabtu (24 Januari 2026), lereng Gunung Burangrang di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat diterjang bencana tanah longsor yang diduga dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam. Bencana ini tidak hanya merusak properti tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan hilangnya banyak warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat bahwa 30 unit rumah terdampak oleh longsor, dengan satu di antaranya mengalami kerusakan berat. Sampai saat ini, jumlah korban meninggal dunia mencapai 10 orang, sedangkan 82 warga masih dilaporkan hilang dan sedang dicari oleh tim gabungan. Sebanyak 400 warga telah dievakuasi ke lokasi pengungsian sementara, salah satunya di Kantor Desa Pasirlangu.
Kunjungan Wamendagri Bima Arya ke Lokasi Pengungsian
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya langsung mengunjungi posko pengungsian korban longsor di Cisarua pada hari yang sama dengan terjadinya bencana. Tujuan kunjungan ini adalah untuk memantau kondisi warga pengungsi secara langsung dan memberikan konfirmasi dukungan pemerintah pusat terhadap penanganan bencana.
Selama kunjungan, Bima Arya bertemu dengan warga pengungsi dan tim penanganan bencana untuk mendengar laporan terkait kebutuhan yang masih belum terpenuhi. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi yang erat antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani semua aspek penanganan bencana, mulai dari pengungsian hingga evakuasi korban hilang.
Insentif Hunian Sementara 2 Bulan: Dukungan Pemerintah untuk Korban
Salah satu poin penting yang disampaikan Bima Arya adalah konfirmasi tentang insentif hunian sementara selama 2 bulan untuk warga terdampak longsor. Ia menjelaskan bahwa warga terdampak dibagi menjadi dua kategori:
- Warga yang rumahnya tertimbun oleh longsor (terdampak langsung)
- Warga yang rumahnya masih ada tetapi tidak dapat dihuni karena kondisi lingkungan yang tidak aman (terdampak tidak langsung)
"Pak Gubernur mengambil langkah cepat supaya warga pengungsi diberikan insentif untuk hunian sementara selama dua bulan kira-kira," ujar Bima Arya.
Bima Arya juga menegaskan bahwa pemerintah daerah akan segera mencarikan hunian sementara yang layak untuk warga terdampak sebagai masa transisi sebelum langkah lanjutan ditentukan. Untuk warga yang masih berada di lokasi pengungsian, pemerintah akan tetap menampung kebutuhan logistik, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Upaya Evakuasi Korban Hilang: Modifikasi Cuaca sebagai Antisipasi
Selain penanganan pengungsi, Bima Arya juga menekankan pentingnya antisipasi cuaca demi kelancaran proses evakuasi korban yang masih hilang. Hujan deras yang menjadi pemicu longsor dapat menghambat upaya pencarian korban dan bahkan menimbulkan risiko longsor kembali.
"Kami mendapatkan laporan dari Pak Gubernur bahwa modifikasi cuaca akan dilakukan, berpusat di daerah ini agar cuacanya kondusif untuk dilakukan evakuasi warga yang masih belum ditemukan," katanya.
Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih terus melakukan pencarian terhadap 82 warga yang hilang. Modifikasi cuaca diharapkan dapat menciptakan kondisi cuaca yang stabil sehingga proses evakuasi dapat berjalan dengan lebih lancar dan aman.
Tantangan dan Langkah Selanjutnya
Meskipun pemerintah telah mengambil langkah-langkah cepat dalam penanganan bencana, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, seperti:
- Kondisi lingkungan yang sulit diakses akibat puing-puing longsor
- Risiko cuaca yang tidak menentu
- Jumlah korban hilang yang cukup besar
Pemerintah pusat dan daerah akan terus berkoordinasi untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan bahwa semua warga terdampak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Langkah selanjutnya termasuk pemulihan infrastruktur yang rusak dan pemberian bantuan jangka panjang untuk warga yang kehilangan rumah dan sumber mata pencaharian.