Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Bendungan Irigasi Jebol di Bandung Barat: Warga Swadaya, Pemprov Rencana Tinjau Lokasi

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Bendungan irigasi di Kampung Parakan Wayang, Kecamatan Gununghalu Bandung Barat jebol sejak 2 bulan lalu. Warga melakukan swadaya perbaikan, sementara pemprov rencana tinjau lokasi kerusakan.

Bendungan Irigasi Jebol di Bandung Barat: Warga Swadaya, Pemprov Rencana Tinjau Lokasi

Sebagai salah satu aset penting untuk mendukung aktivitas pertanian di wilayah pedesaan, bendungan irigasi di Kampung Parakan Wayang, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat tengah mengalami masalah serius. Bendungan ini dilaporkan jebol sejak sekitar dua bulan yang lalu, dan hingga saat ini belum mendapatkan penanganan permanen yang optimal, menyebabkan dampak yang signifikan bagi kehidupan warga setempat.

Kondisi yang Dialami Warga Sejak Dua Bulan Terakhir

Warga setempat pertama kali melaporkan kerusakan bendungan melalui pesan langsung, dengan mengungkapkan kesulitan yang mereka alami sehari-hari. Dalam laporannya, warga menyampaikan bahwa air bendungan telah hilang sejak sekitar dua bulan yang lalu, menyebabkan ketersediaan air menjadi langka, terutama bagi yang mengandalkannya untuk keperluan pertanian, perikanan, dan aktivitas sehari-hari.

"Soalnya bendungan udah jebol sekitar 2 bulanan. Jadi sampai sekarang warga sekitar kesulitan air, terutama yang mengandalkan air dari sungai (pertanian, perikanan, dan kehidupan sehari-hari)," tulis warga dalam laporannya.

Selain itu, warga juga menambahkan bahwa kondisi aliran air semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Sungai-sungai kecil di wilayah tersebut sudah mengering sejak sebelum bulan puasa, dan hanya mengalami sedikit peningkatan saat terjadi hujan deras.

Peran Vital Bendungan dan Penanganan Darurat Sebelumnya

Camat Gununghalu, A. Haris Kosaman, membenarkan adanya kerusakan pada bendungan irigasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa bendungan ini memiliki peran krusial dalam mengairi lahan pertanian warga, dengan cakupan sekitar 60 hektare sawah dan perkebunan, serta jaringan irigasi sepanjang kurang lebih 9 kilometer.

"Sejak jebol pada awal bulan Ramadan, aliran air tidak lagi maksimal karena tidak dapat masuk ke saluran irigasi," ujar Haris.

Menurut Haris, pengelolaan bendungan ini berada di bawah kewenangan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) bidang sumber daya air. Sementara itu, pengelolaan sungai yang lebih besar menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Pemerintah Kabupaten sebelumnya telah melakukan penanganan darurat saat bendungan pertama kali jebol, dengan menurunkan tim ke lokasi dan memasang bronjong sebagai upaya sementara. Namun, tingginya curah hujan di wilayah hulu menyebabkan debit air meningkat, sehingga perbaikan darurat tersebut tidak mampu bertahan lama dan bendungan kembali jebol.

"Penanganan darurat sudah dilakukan, tetapi karena tekanan debit air yang besar, perbaikan sementara tersebut tidak mampu bertahan lama," jelasnya.

Upaya Swadaya Masyarakat untuk Memulihkan Aliran Air

Di tengah ketidakhadinan penanganan permanen dari pihak berwenang, masyarakat setempat mengambil inisiatif untuk melakukan perbaikan secara swadaya. Mereka bahkan membuka donasi untuk mengumpulkan dana guna memperbaiki bendungan agar aliran air dapat kembali mengalir ke area persawahan. Hingga saat ini, perbaikan yang dilakukan oleh warga hanya mencapai sekitar 25 persen dari total kebutuhan. Warga juga mengungkapkan dugaan penyebab kerusakan bendungan, yaitu kombinasi dari debit air yang tinggi selama musim hujan terakhir dan konstruksi bendungan yang dinilai kurang kuat.

Skala Dampak yang Mempengaruhi Ribuan Kepala Keluarga

Dampak kerusakan bendungan tidak hanya dirasakan oleh warga di satu lokasi, melainkan meliputi wilayah yang lebih luas. Berdasarkan data yang dikumpulkan warga, sekitar 11 RW terdampak oleh kerusakan ini, dengan luas lahan pertanian yang terganggu mencapai kurang lebih 90 hektare area persawahan. Selain itu, sekitar 2.276 kepala keluarga turut merasakan dampak kerusakan bendungan ini, terutama para petani yang bergantung pada ketersediaan air irigasi untuk menjalankan mata pencaharian mereka. Akibat kondisi ini, sejumlah lahan pertanian kini tidak lagi teraliri air secara optimal, sehingga produktivitas tanaman diprediksi akan menurun jika masalah ini tidak segera diselesaikan.

Langkah Selanjutnya dan Kebutuhan Penanganan Permanen

Haris menegaskan bahwa meskipun upaya swadaya masyarakat dapat membantu dalam jangka pendek, perbaikan permanen tetap harus dilakukan secara teknis oleh pihak berwenang agar hasilnya lebih kuat dan tidak kembali rusak dalam waktu dekat. Saat ini, Pemerintah Kecamatan Gununghalu bersama Pemerintah Desa Sirnajaya telah mengajukan permohonan kepada Pemerintah Kabupaten dan Provinsi untuk segera melakukan penanganan lanjutan. Berdasarkan informasi yang diterima, pihak dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat direncanakan akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi dalam waktu dekat. Permasalahan ini dinilai sangat mendesak, karena menyangkut mata pencaharian sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut, terutama para petani yang hidup dari hasil pertanian sawah. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, dampak kerusakan bendungan ini akan semakin memperparah kondisi ekonomi warga setempat.