Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Bandung Masih Impor 94 Persen Pangan, DKPP Kaji Gudang Cadangan Pangan Sendiri

Bandung · Oleh ·

Ketergantungan pangan Kota Bandung turun dari 96 ke 94 persen. DKPP kaji gudang cadangan pangan sendiri setelah masa titip di Bulog dipangkas jadi satu bulan.

Bandung Masih Impor 94 Persen Pangan, DKPP Kaji Gudang Cadangan Pangan Sendiri

Warga Kota Bandung masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah untuk hampir seluruh kebutuhan harian. Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kota Bandung mencatat ketergantungan itu kini berada di angka 94 persen, turun hanya sekitar dua persen dari sebelumnya 96 persen.

Angka tersebut menjadi alasan DKPP mengkaji kelayakan pembangunan infrastruktur logistik pangan sendiri. Kepala DKPP Kota Bandung Gin Gin Ginanjar menilai penurunan dua persen belum cukup untuk mengurangi ketergantungan.

"Kalau bicara ketersediaan, distribusi yang selalu diandalkan Kota Bandung pasti akan ada akhirnya. Sebesar apa pun ketergantungan itu, tetap tidak baik untuk Kota Bandung," paparnya.

Menurut Gin Gin, kebutuhan pangan terus naik sementara kemampuan produksi lokal belum bisa memenuhi kebutuhan warga secara mandiri. Kota Bandung perlu sistem pengelolaan dan penyimpanan yang lebih kuat untuk mengantisipasi gangguan pasokan, kerawanan pangan, dan gejolak harga.

Baca Juga: Kapolda Jabar Hengki Larang Vape di Mapolda dan Semua Polres, Pelanggar Diserahkan ke Propam

Landasan Perda dan RPJMD

Rencana ini punya dasar hukum. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 3 Tahun 2024 tentang penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang pangan, pertanian, dan perikanan mengamanatkan pembangunan gudang cadangan pangan. Kebutuhan yang sama tercantum dalam RPJMD Kota Bandung Tahun 2025-2029.

Gin Gin menekankan pembangunan tidak cukup berhenti pada bangunan fisik. Aspek kelembagaan, tata kelola, mekanisme distribusi, pembiayaan, dan pengelolaan cadangan pangan juga perlu dirancang terpadu.

Baca Juga: Jayadi Apresiasi Kemenangan 4-0 Persib atas Isenmulang dan Targetkan Prestasi di Asia

"Oleh karena itu, keberadaan infrastruktur logistik pangan menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah. Ketergantungan terhadap distribusi dari luar daerah tidak bisa terus-menerus diandalkan," jelasnya.

Beban pengelolaan cadangan pangan bertambah tahun ini. Sebelumnya pemerintah daerah bisa menitipkan cadangan pangan di Bulog untuk satu sampai dua tahun. Kini masa penyimpanan yang difasilitasi disebut terbatas hingga satu bulan.

Warga Paling Rentan Saat Pasokan Terganggu

Ketergantungan pada pasokan luar daerah membuat harga pangan di Bandung mudah terpengaruh gangguan di jalur distribusi. Ketika kiriman dari kabupaten sekitar terhambat, warga yang paling dulu merasakan kenaikan harga adalah rumah tangga berpenghasilan rendah.

Persoalan ini bukan hal baru di Jawa Barat. Kebijakan pembangunan lintas daerah juga jadi perhatian pemerintah provinsi, seperti yang dibahas dalam laporan soal pembangunan infrastruktur Jawa Barat yang tidak akan fokus di Bandung saja. Bagi Kota Bandung, posisi sebagai konsumen besar pangan membuat kesiapan logistik jadi urusan mendesak.

Sejumlah kebijakan penghematan juga sedang disiapkan pemerintah kota, termasuk rencana aturan WFH untuk ASN untuk penghematan BBM. Dalam konteks logistik pangan, efisiensi anggaran daerah akan menentukan seberapa cepat proyek gudang cadangan bisa diwujudkan.

Kajian Dibahas Bersama Akademisi

Kajian kelayakan ini dibahas bersama akademisi dan pengamat. Mereka memberi pemaparan hasil studi serta masukan atas rencana pembangunan. Masukan itu diharapkan memperkaya perencanaan agar fasilitas yang dibangun menjawab kebutuhan ketahanan pangan kota.

Gin Gin berharap kajian ini ditindaklanjuti menjadi langkah konkret. Menurutnya, dukungan kebijakan dan penganggaran diperlukan agar pembangunan infrastruktur logistik pangan tidak berhenti di tahap perencanaan. Tanpa kepastian anggaran, rencana gudang cadangan pangan hanya akan bertahan sebagai dokumen.