Bahlil Ungkap Strategi Finansial Jaga BBM Subsidi: Potensi Pendapatan Rp160 Triliun dari Sektor ESDM
Bahlil jelaskan strategi pemerintah jaga harga BBM subsidi tanpa naik: potensi pendapatan Rp160 triliun dari sektor ESDM. Begini cara menutup defisit.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah gejolak geopolitik global yang masih berlanjut.
Kondisi Geopolitik Global dan Tantangan Keuangan Negara
Dalam konteks perekonomian global saat ini, naiknya harga minyak mentah dunia menjadi sorotan berbagai pihak. Pemerintah Indonesia dituntut untuk mengambil kebijakan strategis dalam menjaga kestabilan harga energi domestik, terutama untuk kebutuhan masyarakat menengah ke bawah.
Baca Juga: Tiga Pelajar dari Cirebon dan Kuningan Diamankan Saat Razia THM, Hasil Tes Urine Negatif
Bahlil menjelaskan bahwa pihak-pihak yang khawatir dengan membengkaknya beban subsidi perlu memahami bahwa pemerintah telah memiliki rencana matang untuk mengcover kebutuhan tersebut.
"Saya sampaikan tentang bagaimana cari duit untuk menutupi penambahan subsidi. Orang kan selalu mengatakan bahwa 'Oh ini nanti keuangan negara akan tergerus,'" terang Bahlil di Jakarta, Kamis (25/6).
Analisis Potensi Pendapatan dari Kenaikan ICP
Dalam dokumen Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, alokasi subsidi BBM diperkirakan mencapai sekitar Rp200 triliun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) berada di уровень US$70 per barel.
Baca Juga: 80 Petugas dan Relawan Bergerak ke Kawah Wadon Gunung Gede, Api仍未也能 dipadamkan setelah Lebih 36 Jam
Dengan asumsi tersebut, negara memperoleh pemasukan sebesar US$10,8 miliar. Namun, pemerintah telah menghitung skenario ketika ICP mengalami kenaikan signifikan:
- ICP US$100 per barel: Pendapatan negara naik menjadi US$17,6 miliar
- ICP US$90 per barel: Pendapatan negara mencapai US$14,3 miliar
Kenaikan ICP hingga US$100 per barel akan memicu kebutuhan penambahan subsidi sekitar Rp230-Rp250 triliun. Pertanyaan besar pun muncul: mengapa pemerintah tetap bertahan tidak menaikkan harga BBM subsidi?
Strategi Meng tutup Defisit Tanpa Beban Rakyat
Bahlil memaparkan langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah untuk menutupi defisit tanpa membebani masyarakat.
Pertama, ketika ICP naik menjadi US$100 per barel, negara otomatis menerima tambahan pendapatan sekitar US$7 miliar atau setara Rp120-Rp125 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS). Artinya, hampir 50% dari kebutuhan tambahan subsidi sudah ter-cover dari peningkatan pendapatan lifting.
Kedua, pemerintah melakukan optimalisasi penerimaan dari sektor tambang melalui kenaikan royalti di beberapa subsektor strategis:
- Royalti nikel
- Royalti batu bara
- Sektor tambang lainnya
Dari sektor-sektor tersebut, negara bisa memperoleh tambahan pemasukan sekitar Rp30-Rp35 triliun.
Efisiensi sebagai Kunci Kebijakan
Dengan perhitungan tersebut, total potensi pendapatan dari sektor ESDM yang bisa dioptimalkan mencapai sekitar Rp160 triliun. Angka ini cukup signifikan untuk menutupi sebagian besar kebutuhan tambahan subsidi yang nilainya kurang lebih Rp230-Rp250 triliun.
"Jadi artinya, sekitar Rp160 triliun dari total asumsi kenaikan daripada subsidi kita yang kurang lebih sekitar Rp230-Rp250 triliun, itu sudah dapat dari sektor ESDM. Sisanya baru dilakukan efisiensi. Ini sebenarnya kuncinya," jelas Bahlil.
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan menahan harga BBM subsidi memang membebani keuangan negara. Namun, pertimbangan untuk melindungi masyarakat menengah ke bawah dari dampak kenaikan harga menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan.
Implikasi bagi Masyarakat
Strategi yang dipaparkan Bahlil menunjukkan bahwa pemerintah berusaha menemukan titik keseimbangan antara menjaga kesehatan fiskal negara dan melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelompok ekonomi bawah yang paling merasakan dampak langsung dari kenaikan harga energi.
Dengan pendekatan ini, diharapkan masyarakat dapat terus menikmati akses BBM bersubsidi tanpa perlu menghadapi kenaikan harga yang signifikan dalam waktu dekat, sementara pemerintah tetap mampu mengelola keuangan negara secara bertanggung jawab.