Awi Gabeng: Kesenian Bambu Khas Bandung Barat di Cikalongwetan
Pagelaran Harmoni Bambu Pasundan di Cikalongwetan menampilkan penampilan awi gabeng, kesenian bambu khas Bandung Barat, sebagai upaya pelestarian budaya lokal untuk generasi muda.

Pada Sabtu, 18 April 2026, Pemerintah Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, menggelar kegiatan kesenian pesta rakyat bertajuk Pagelaran Harmoni Bambu Pasundan. Acara ini menghadirkan beragam aktivitas budaya yang menarik, mulai dari diskusi buku budaya, lomba menulis cerita budaya lokal, pentas kecapi suling, pameran buku, hingga bazaar produk lokal. Salah satu daya tarik utama pagelaran ini adalah penampilan Awi Gabeng, kesenian alat musik bambu khas daerah setempat yang sempat terpinggirkan dalam beberapa tahun terakhir.
Apa Itu Awi Gabeng?
Menurut Arifin, pupuhu (pemilik) kelompok Awi Gabeng dari Desa Ganjarsari, Kecamatan Cikalongwetan, kesenian ini sudah berakar sejak tahun 1815 hingga 1820. Alat musik ini dibuat dari bambu muda yang telah mati dan tetap berdiri di dalam rumpunnya. Keunikan utama dari awi gabeng terletak pada kadar air nol persen pada bambu yang digunakan, yang menghasilkan suara yang khas dan berbeda dibandingkan alat musik bambu lainnya. Nama "awi gabeng" diambil langsung dari suara yang dihasilkan oleh alat musik tersebut.
Lebih lanjut, Arifin menjelaskan bahwa setiap penampilan awi gabeng menggunakan beberapa jenis waditra (alat musik) yang masing-masing memiliki fungsi dan suara yang berbeda:
- Turuluk keureup
- Turuluk carang
- Goong gabengan
- Nong neng nang
- Gerecek keureupan
- Koletrak
- Tok tak
Upaya Pelestarian Warisan Budaya
Camat Cikalongwetan, Dadang A Sapardan, menyatakan bahwa kegiatan pagelaran ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mendorong generasi muda mencintai dan menjaga kearifan lokal masing-masing. Ia menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk melestarikan kembali kesenian awi gabeng yang sempat kurang mendapat perhatian akibat kurangnya ruang pentas dalam beberapa tahun terakhir.
"Ini sebagai upaya juga untuk menstimulasi generasi muda dalam menjaga kearifan lokal masing-masing," ujar Dadang saat ditemui pada hari acara.
"Penting sekali bagi awi gabeng ini untuk mendapatkan ruang untuk tampil mengisi berbagai kegiatan," ia menambahkan.
Arifin juga menambahkan bahwa pihaknya akan terus berupaya memaksimalkan pelestarian dan pengenalan kesenian ini kepada generasi muda. Salah satu rencana jangka panjang mereka adalah menyiapkan nada khas waditra awi gabeng dengan skala diatonis dan pentatonis, sehingga dapat dikolaborasikan dengan musik modern dan lebih mudah diterima oleh generasi muda saat ini.
Kegiatan Pagelaran Harmoni Bambu Pasundan bukan hanya sebagai ajang hiburan bagi pengunjung, tetapi juga sebagai wadah penting untuk melestarikan warisan budaya intangible Kabupaten Bandung Barat. Dengan adanya pagelaran seperti ini, diharapkan kesenian awi gabeng tidak hanya tetap eksis di kalangan masyarakat lokal, tetapi juga dapat mencapai audiens yang lebih luas di seluruh Indonesia.