4 Strategi Kunci Ketahanan Siber untuk Perusahaan Indonesia di Era AI
Kasus bank daerah kehilangan Rp143 miliar akibat serangan siber jadi peringatan. BDO Indonesia luncurkan 4 strategi adaptif ketahanan digital untuk perusahaan.

Keamanan Digital Jadi Prioritas Utama Bisnis
Transformasi digital yang berlangsung masif di sektor bisnis Indonesia membawa peluang sekaligus tantangan baru. Di satu sisi, pemanfaatan teknologi cloud computing dan kecerdasan buatan (AI) meningkatkan efisiensi operasional. Di sisi lain, lanskap ancaman siber kini berkembang semakin kompleks dan sulit diprediksi.
BDO di Indonesia menegaskan bahwa ketahanan siber bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, melainkan aspek strategis yang menentukan keberlangsungan bisnis jangka panjang. Pernyataan ini diperkuat oleh insiden besar yang terjadi pada Februari 2026, ketika sebuah bank daerah menjadi korban serangan auto-debit massal.
Baca Juga: Ribuan Knalpot Bising Disita di Cianjur, Lebih dari 200 Kendaraan Masih Tak Bertuan
Studi Kasus: Kerugian Rp143 Miliar dari 6.000 Rekening
Serangan siber yang menimpa institusi tersebut menguras dana sekitar Rp143 miliar dari lebih dari 6.000 rekening nasabah. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan peringatan nyata bagi pelaku bisnis di berbagai sektor.
Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia, Reza Aminy, menjelaskan hasil investigasi menunjukkan serangan terjadi akibat beberapa kelemahan kritis:
Baca Juga: Purnatugas di Usia 57, Mantan Manajer Hotel Sukabumi Kini Six Kali Taklukkan Rute 60 Kilometer
- Sistem IT yang belum diperbarui sejak 2012
- Ketiadaan Security Operation Centre (SOC) yang beroperasi 24 jam
- Risiko vendor yang tidak dikelola dengan memadai
"Kerugian Rp143 miliar harus ditutup menggunakan laba tahun lalu perusahaan. Ini menegaskan bahwa biaya pemulihan jauh lebih besar daripada biaya pencegahan," tutur Reza.
AI: Pisau Bermata Dua dalam Keamanan Siber
Perkembangan teknologi AI membawa paradoks tersendiri bagi dunia keamanan digital. Di satu sisi, AI meningkatkan produktivitas dan kapabilitas analisis ancaman. Namun di sisi lain, teknologi yang sama kini dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk:
- Membuat malware dengan tingkat kecanggihan tinggi
- Melancarkan serangan phishing yang lebih personal dan meyakinkan
- Menghasilkan deepfake yang semakin sulit dikenali
Reza menilai organisasi perlu memahami dinamika ini agar dapat menyusun strategi pertahanan yang komprehensif.
4 Strategi Adaptif Membangun Ketahanan Digital
BDO di Indonesia merekomendasikan empat langkah utama bagi perusahaan yang ingin memperkuatpostur keamanan siber mereka:
1. Memperkuat Kontrol Identitas
Penerapan sistem autentikasi multi-faktor dan manajemen akses berbasis peran menjadi fondasi awal pertahanan digital. Perusahaan perlu memastikan setiap akses ke sistem kritikal terverifikasi dengan ketat.
2. Mengotomatisasi Sistem Keamanan
Transisi dari sistem pertahanan manual menuju pendekatan otomatis memungkinkan deteksi dan respons ancaman secara lebih cepat. Otomasi juga mengurangi ketergantungan pada intervensi manusia yang rentan kesalahan.
3. Memodernisasi Respons Insiden
Penyusunan protokol respons insiden yang terstruktur dan terlatih menjadi keharusan. Tim keamanan perlu memiliki playbooks jelas untuk berbagai skenario serangan siber.
4. Membangun Budaya Keamanan di Lingkungan Kerja
Sumber daya manusia tetap menjadi garda terdepan pertahanan siber. Pelatihan berkala membantu karyawan mengenali berbagai bentuk rekayasa sosial dan ancaman digital berbasis AI.
Komitmen Holistik untuk Ketahanan Digital
BDO menilai bahwa kombinasi antara penguatan teknologi, tata kelola, dan kesiapan sumber daya manusia menjadi fondasi penting. Perusahaan didorong untuk menerapkan kerangka manajemen risiko siber secara menyeluruh:
- Identifikasi dan prioritas aset penting
- Penguatan kontrol keamanan berlapis
- Pemantauan dan evaluasi secara berkala
- Peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan terstruktur
"Manajemen risiko siber harus dijalin erat ke dalam budaya perusahaan, memastikan karyawan tetap menjadi lini pertahanan pertama melawan rekayasa sosial dan ancaman berbasis AI," tegas Reza.
Penutup
Kasus kerugian Rp143 miliar menjadi bukti nyata bahwa investasi pada keamanan digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Di tengah percepatan transformasi teknologi, perusahaan yang mengadopsi pendekatan adaptif dan holistik dalam keamanan siber akan memiliki posisi lebih kuat untuk bertahan dan berkembang.