17.339 Warga Garut Terjangkit Diare selama Musim Kemarau 2026, Apa yang Perlu Diketahui?
17.339 warga Garut terjangkit diare sepanjang Januari-Juni 2026. 22,8% pasien adalah balita. Musim kemarau dan kurangnya PHBS jadi pemicu utama.

Lonjakan Kasus Diare di Garut: Ancaman Kesehatan di Musim Kemarau
Penyakit diare di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami peningkatan signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026. Dinas Kesehatan setempat mencatat sebanyak 17.339 orang terjangkit penyakit tersebut dalam periode Januari hingga Juni. Angka ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi masyarakat dan pihak kesehatan daerah.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Asep Surahman, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus ini bertepatan dengan musim kemarau panjang yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Kondisi cuaca ekstrem ini memicu penyebaran penyakit di kalangan anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Baca Juga: Jenal Aripin Minta Veteran Karawang Langsung Tegur Kalau Dirinya Keliru dalam Pengabdian
"Berdasarkan laporan yang diterima, tercatat 17.339 warga terjangkit diare sejak awal Januari hingga Juni. Beberapa pasien sempat menjalani rawat inap di rumah sakit, namun kini berangsur sembuh," tutur Asep Surahman.
Dampak pada Anak-Anak dan Balita
Data Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa dari total kasus tersebut, sebanyak 4.789 pasien atau sekitar 22,8 persen merupakan balita. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat anak-anak usia di bawah lima tahun memiliki sistem imun yang masih rentan terhadap infeksi.
Baca Juga: Siloam Hospitals Mampang gandeng brand alas kaki Bocorocco edukasi kesehatan kaki pekerja
Selain diare, warga juga dilaporkan mengalami gejala penyerta seperti:
- Batuk dan flu
- Demam
- Gatal-gatal atau kaligata
Kombinasi berbagai gejala ini memperumit proses penyembuhan dan memerlukan penanganan yang lebih intensif.
Faktor Penyebab Utama Wabah
Asep Surahman menjelaskan beberapa faktor utama yang menyebabkan peningkatan kasus diare di wilayah Garut:
- Penurunan debit air bersih selama musim kemarau
- Pengabaian terhadap Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
- Alergi makanan yang turut memicu terjadinya diare
- Pergantian musim atau pancaroba yang sudah mulai terasa
"Debit air yang berkurang dan kurangnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan menjadi pemicu utama. Jika tidak segera ditangani, diare dapat menyebabkan dehidrasi serius, terutama pada anak-anak," tambahnya.
Upaya Penanganan dan Edukasi
Menyikapi situasi ini, petugas kesehatan di tingkat Puskesmas terus menggencarkan edukasi mengenai pentingnya PHBS. Masyarakat, khususnya orang tua, diimbau untuk lebih aktif menjaga kesehatan keluarga dengan:
- Rutin mencuci tangan menggunakan sabun
- Memastikan konsumsi makanan bergizi
- Menjaga kebersihan lingkungan sekitar
"Kamiimbau orang tua agar segera membawa anak ke puskesmas atau rumah sakit terdekat jika menemukan gejala demam, flu, batuk, atau diare agar mendapatkan penanganan medis sedini mungkin," tutur Asep Surahman.
Imbauan untuk Masyarakat
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit selama musim kemarau. Orang tua khususnya harus lebih proaktif dalam memantau kondisi kesehatan anak-anak mereka. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius akibat dehidrasi.