17 Tim RT-RW Desa Sukaluyu Adu Bakat di Kades Cup Ke-3 untuk Bibit Sepak Bola Muda
Kades Cup Ke-3 Desa Sukaluyu diikuti 17 tim dari berbagai RT-RW, menjadi wadah pembinaan sepak bola usia dini dan penguatan kohesi sosial warga.

Di Lapangan Mbah Pung Sayyidah, Desa Sukaluyu, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, suara teriakan anak-anak yang sedang berlari mengejar bola mengudara setiap sore. Kades Cup Ke-3 Tahun 2026 hadir menjadi arena tetap bagi puluhan anak di desa itu untuk menyalurkan energi dan menemukan minatnya di sepak bola.
Pertumbuhan partisipasi ini terlihat dari jumlah tim yang turun berlaga. Tahun ini, 17 tim dari berbagai RT dan RW di Desa Sukaluyu memadati turnamen. Ketua Panitia M. Zaenudin menyampaikan bahwa angka tersebut mencerminkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap olahraga di tingkat desa.
"Kami ingin kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi warga sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menyalurkan minat dan bakatnya, khususnya dalam sepak bola," kata Zaenudin.
Baca Juga: Pemuda Karawang Diminta Bangun Solidaritas Lewat Aksi Nyata di Lingkungan Terdekat
Pembinaan usia dini menjadi fokus utama dalam edisi kali ini. Zaenudin menjelaskan bahwa perhatian khusus ditujukan bagi pemain berusia di bawah 12 tahun. Bagi panitia, turnamen ini bukan sekadar soal hasil akhir di klasemen, melainkan tentang membentuk karakter anak sejak dini.
"Yang paling penting bukan hanya menang atau kalah. Kami ingin anak-anak belajar menghargai lawan, menghormati keputusan wasit, bermain sportif, serta memahami bahwa prestasi membutuhkan proses, kerja keras, dan kekompakan," katanya.
Dukungan pemerintah desa menjadi fondasi kegiatan ini. Kepala Desa Sukaluyu Hj. Lina Herlina secara konsisten mengé”….support penuh terhadap penyelenggaraan Kades Cup selama tiga tahun berturut-turut. Tanpa komitmen tersebut, turnamen yang sudah menjadi agenda tahunan ini sulit berjalan.
Baca Juga: Ribuan Warga Karawang Lari 10K dan Gowes Peringati Kemerdekaan RI ke-81
Pembinaan sepak bola di tingkat desa sering kali menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga ahli. Namun, semangat masyarakat justru menjadi penggerak utama. Orang tua yang datang menonton, RT dan RW yang melengkapi administrasi tim, hingga penonton yang menjaga ketertiban selama pertandingan, seluruhnya menunjukkan bahwa kegiatan ini telah menjadi milik bersama.
Zaenudin menyampaikan bahwa harapan jangka panjang dari turnamen ini cukup jelas. Ia ingin melihat bibit-bibit pemain muda dari Desa Sukaluyu berkembang dan mewakili desa hingga ke tingkat yang lebih tinggi.
"Mudah-mudahannya suatu saat ada anak-anak kita yang mampu membawa nama baik Sukaluyu dan Kabupaten Karawang di tingkat yang lebih tinggi," katanya.
Di tingkat desa sendiri, efek tournament ini juga terasa pada kohesi sosial. Pertandingan menjadi momentum bagi warga dari RT berbeda untuk berinteraksi dan membangun ikatan. Suporter yang mendukung dengan etika, pemain yang menghargai lawan, dan penonton yang menjaga kebersihan lapangan, seluruhnya membentuk budaya kompetisi yang sehat di lingkungan perkampungan.