Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Yudi Latif di MMS Bandung: Revolusi Pancasila untuk Demokrasi Ekonomi

Bandung · Oleh Nabila Azzahra ·

Cendekiawan Yudi Latif menyerukan revolusi Pancasila di acara MMS Bandung untuk mewujudkan demokrasi ekonomi dan keadilan sosial, menolak demokrasi politik yang hanya menguntungkan elite.

Yudi Latif di MMS Bandung: Revolusi Pancasila untuk Demokrasi Ekonomi

Senin, 1 Juni 2026, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) menggelar acara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Acara yang mengusung tema "Merevolusikan Pancasila Demi Persatuan dan Keadilan" dihadiri oleh ratusan audiens, termasuk cendekiawan, tokoh masyarakat, aktivis mahasiswa, dan perwakilan suku dari berbagai daerah di Nusantara.

Latar Belakang dan Tujuan Acara

Acara ini dihadiri oleh Yudi Latif, mantan Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Dewan Pakar MMS, yang menyampaikan pidato kebangsaan utama. Yudi dikenal sebagai figur yang aktif dalam pembahasan implementasi Pancasila di era modern.

Panggilan Revolusi Pancasila untuk Keadilan Sosial

Yudi Latif menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh hanya menjadi slogan kosmetik, tetapi harus mengakar di masyarakat, mengubah tatanan bergaul, serta membentuk kelembagaan politik dan ekonomi yang berkelanjutan. Dia menekankan tiga aspek utama yang perlu diperbarui: tata nilai Pancasila, tata kelola, dan tata sejarah.

Menurut Yudi, setiap kebijakan atau perilaku yang bertentangan dengan logika Pancasila akan menghambat kemajuan bangsa, dan jika dibiarkan, Indonesia tidak akan mencapai kemerdekaan yang paripurna.

"Pancasila harus mengakar, mengubah tatanan bergaul, juga dalam menyusun kelembagaan politik dan ekonomi," kata Yudi dalam pidatonya.

Kritik Terhadap Demokrasi Politik Saat Ini

Yudi Latif mengkritik arah demokrasi Indonesia pasca-reformasi yang lebih fokus pada demokrasi politik yang hanya menguntungkan segelintir elite. Meskipun sudah lebih dari 25 tahun reformasi, dia menekankan bahwa stabilitas dan keberlanjutan bangsa masih kurang mantap.

Dia menambahkan bahwa demokrasi harus diukur dari kemampuannya memperkuat integrasi nasional, bukan memicu fragmentasi elit dan kepentingan.

"Kalau demokrasi tidak menghasilkan persatuan dan keadilan sosial, berarti ada masalah dalam cara kita mengembangkannya. Peringatan Hari Pancasila 2026 harus menciptakan demokrasi ekonomi dengan titik keadilan lebih baik di negeri ini, bukan kesenjangan makin terjadi," jelasnya.

Perlunya Demokrasi Ekonomi sebagai Bagian Revolusi Pancasila

Yudi Latif menekankan bahwa revolusi Pancasila bukan gerakan berdarah atau penuh kekerasan, melainkan proses radikal untuk mewujudkan simbol kehidupan sehari-hari. Dia menegaskan bahwa persatuan harus diimbangi dengan keseriusan mengembangkan keadilan ekonomi, karena tanpa keadilan, persatuan akan rapuh, dan sebaliknya keadilan selalu membutuhkan persatuan.

Demokrasi ekonomi, menurut Yudi, adalah keniscayaan untuk mencapai cita-cita nasional Indonesia. Dia juga menekankan pentingnya pemahaman Pancasila yang benar di kalangan generasi muda, yang harus tercipta atas kerelaan, bukan karena paksaan atau seremonial.

Kehadiran Tokoh dan Peserta Acara

Selain Yudi Latif, acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh dan peserta terkemuka, antara lain:

Acara ini menjadi wadah untuk merenungkan kembali makna Hari Lahir Pancasila, serta mengevaluasi bagaimana ideologi Pancasila dapat diterapkan secara nyata untuk mewujudkan keadilan sosial dan persatuan bangsa, khususnya melalui penerapan demokrasi ekonomi yang berkelanjutan.