Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Warkop Agam Laen Buka di Margonda Depok dengan Mie Bangladesh Racikan Chef Pidie

Bandung · Oleh ·

Warkop Agam Laen buka di Jalan Margonda Raya Depok dengan Mie Bangladesh racikan chef asal Pidie sebagai menu andalan dan harga terjangkau

Warkop Agam Laen Buka di Margonda Depok dengan Mie Bangladesh Racikan Chef Pidie

Warga Margonda, Depok, kini punya pilihan tempat makan baru yang berjarak beberapa menit dari kampus dan apartemen mahasiswa. Warkop Agam Laen membuka gerainya di Jalan Margonda Raya No. 354A, tepat di pintu masuk Apartemen Mahata, dan meresmikan operasionalnya pada Sabtu malam (31/10/2026).

Menu yang ditawarkan bukan menu warkop biasa. Pengelolanya mengangkat masakan Aceh, dengan Mie Bangladesh sebagai andalan. Bumbu rempah yang kuat jadi ciri hidangan itu, diracik dengan gaya Aceh sehingga rasanya gurih dan pekat rempah.

Yang membedakan gerai ini dari warkop lain di kawasan yang sama adalah dapurnya. Seluruh proses pengolahan makanan dan minuman ditangani chef asal Pidie, Aceh. Pengelola menyebut langkah itu dipilih agar karakter rasa tidak bergeser dari aslinya.

Baca Juga: Investor Muda Ciayumajakuning Parkir Rp378 Miliar di Reksa Dana Syariah

Siapa yang menggarap dapur

Dua pemiliknya, Agus Teddy dan Ferry Fernandes, membagi peran dalam membangun tempat ini. Agus menyebut kehadiran chef dari Pidie sebagai penentu kualitas sajian.

"Kami ingin membawa kehangatan dan keaslian kuliner khas Aceh langsung ke kawasan Margonda. Kehadiran chef asli dari Pidie merupakan salah satu komitmen kami dalam menjaga kualitas, keaslian racikan, dan cita rasa setiap hidangan yang disajikan."

Dia juga menempatkan kuliner sebagai bagian dari identitas budaya, bukan sekadar jualan makanan. Karena itu, tiap sajian dianggap sebagai cara memperkenalkan karakter masakan Aceh ke pengunjung yang belum mengenalnya.

Baca Juga: Panasonic Kumpulkan Dealer di Bali, Incar Pasar Elektronik Rumah Tangga Tumbuh 6,5 Persen per Tahun sampai 2030

Alasan memilih Margonda

Margonda sudah lama jadi pusat aktivitas pendidikan, dagang, dan gaya hidup di Kota Depok. Mobilitas mahasiswa di kawasan ini tinggi, terutama pada jam kuliah dan malam hari. Ferry menyebut keramaian itu yang membuat pihaknya memilih lokasi tersebut.

"Kawasan Margonda sangat identik dengan dinamika anak muda dan mahasiswa. Karena itu, kami ingin menghadirkan tempat nongkrong yang nyaman, asyik, ramah di kantong, tetapi tetap mengutamakan kualitas kuliner."

Selain untuk makan, tempat ini dirancang sebagai ruang terbuka bagi warga yang ingin berdiskusi, bertukar gagasan, atau membangun jejaring antarkomunitas. Pengelola mengklaim harga menu dijaga tetap terjangkau tanpa menurunkan mutu bahan dan pengolahan.

Pola yang sama di sentra kuliner lain

Kehadiran gerai baru di titik ramai bukan hal asing di Depok. Sebelumnya, kawasan kota ini juga kedatangan sentra kuliner Gridea yang dibangun sebagai wadah kreativitas warga dan penggerak ekonomi UMKM. Pola serupa terlihat di Margonda: tempat makan tumbuh mengikuti arus mahasiswa dan penghuni apartemen.

Bagi pembaca di Bandung Raya dan Jawa Barat, kasus ini memperlihatkan satu hal yang sedang terjadi di banyak kota pendidikan. Kuliner daerah dibawa masuk ke kawasan dengan lalu lintas anak muda tinggi, lalu dikemas dengan tempat yang nyaman dan harga menengah. Mie Bangladesh dari Aceh adalah contoh terbarunya, setelah sebelumnya ragam masakan Nusantara lain masuk ke pusat keramaian kota.

Persaingan di sisi ini tidak ringan. Pertumbuhan tempat makan di sekitar kampus membuat konsistensi rasa, kebersihan, dan pelayanan jadi penentu apakah pengunjung datang lagi. Pengelola Warkop Agam Laen menyebut tiga hal itu sebagai fokus mereka.

Yang perlu diperhatikan pembeli

Untuk pembaca yang hendak mencoba, ada beberapa keterangan dasar soal gerai ini. Tempatnya berada di sisi jalan Margonda Raya yang ramai, sehingga akses kendaraan perlu diperhitungkan pada jam sibuk.

Gerai ini menyasar mahasiswa, pekerja, komunitas, dan generasi muda sebagai pengunjung utama. Selain Mie Bangladesh, tersedia pilihan kopi dan hidangan lain berkarakter Aceh. Pengelola berharap usaha ini ikut menggerakkan aktivitas ekonomi lokal di sekitarnya.

Di sisi lain, pembukaan gerai baru di kawasan padat juga berdampak langsung ke warga sekitar, mulai dari parkir hingga jam operasional yang lebih panjang. Belum ada keterangan resmi soal kapasitas tempat duduk, jam buka, maupun kisaran harga menu.