UPI Bandung Latih 30 Guru IPA Sumedang Integrasi IoT Berbasis STEM, Dorong Pembelajaran Sains Lebih Inovatif
UPI Bandung melatih 30 guru IPA SMP Sumedang integrasi IoT berbasis STEM melalui workshop 13-15 Juni 2026 untuk dorong pembelajaran sains lebih inovatif dan berkelanjutan.

Kolaborasi UPI Bandung dan MGMP IPA Sumedang Dorong Inovasi Pembelajaran Sains
KOMITMEN Prodi Pendidikan IPA FPMIPA UPI Bandung dalam mendukung pengembangan kompetensi guru terus berlanjut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) IPA Kabupaten Sumedang.
Pengabdian dalam wujud workshop untuk guru IPA SMP ini dilaksanakan mulai tanggal 13 hingga 15 Juni 2026 di SMPN 7 Sumedang, Jawa Barat.Program ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sains di tingkat menengah pertama melalui integrasi teknologi terkini.
Integrasi IoT dalam Pembelajaran IPA untuk Mendukung Pendekatan STEM
Bertindak sebagai ketua tim pengabdian bertajuk "Workshop Pembelajaran IoT Terintegrasi STEM ESD pada Tema Pencemaran Tanah" adalah Prof. Diana Rochintaniawati, M.Ed, seorang dosen ahli integrasi ICT dalam pembelajaran IPA UPI Bandung.
Prof. Diana menjelaskan bahwa integrasi Internet of Things (IoT) dalam pembelajaran IPA dimaksudkan untuk mendukung pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) yang saat ini tengah menjadi perhatian dalam dunia pendidikan di seluruh dunia.
"Pendekatan STEM memungkinkan siswa belajar sains secara lebih kontekstual dan aplikatif," tutur Prof. Diana.
Peran Education for Sustainable Development dalam Workshop
Tidak kalah penting, Prof. Diana menyampaikan bahwa teknologi hendaknya dimanfaatkan untuk mendukung pencapaian Sustainability Development Goals melalui Education for Sustainable Development (ESD).
Untuk itu, tim pengabdian juga berkolaborasi dengan tim dosen ahli ESD, di antaranya Prof. Dr. Phil. Ari Widodo, M.Ed, yang dalam kesempatan tersebut juga bertindak sebagai narasumber.
Model Pelatihan Empat Level Kirkpatrick untuk Guru IPA
Sebanyak 30 orang guru IPA dari berbagai SMP di Kabupaten Sumedang berpartisipasi dalam kegiatan yang disambut baik oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang melalui Sekdis Dani Setiawan, M.Pd.
Dani memesan agar para guru aktif mengikuti workshop ini dengan menerapkan model pelatihan empat level Kirkpatrick, di mana peserta diharapkan dapat mengikuti kegiatan pelatihan mulai dari:
- Reaction – respons awal terhadap materi
- Learning – penyerapan pengetahuan dan keterampilan
- Behavior – perubahan praktik mengajara
- Results – dampak nyata terhadap pembelajaran siswa
Implementasi Praktis di Hari Kedua dan Ketiga
Sejalan dengan pesan tersebut, agenda workshop dimulai dari reaction peserta terhadap pemaparan narasumber di hari pertama.
Hari kedua merupakan fase learning, di mana peserta memperoleh materi dan pembimbingan praktik integrasi IoT dalam pembelajaran tema pencemaran tanah di bawah bimbingan Dr. Aay Susilawati, M.Pd dan tim.
Menanggapi pelatihan di hari kedua ini, salah satu peserta yaitu Sri Widianti, S.Pd, menyebutkan bahwa integrasi IoT dalam pembelajaran IPA yang dilatihkan sesuai dengan prinsip mendidik anak sesuai zamannya.
Behavior dan results kemudian diterapkan oleh para guru di kelas masing-masing. Contoh results yang dapat diukur diperoleh melalui implementasi di kelas secara autentik.
Anjar Sudrajat, S.Pd berperan sebagai guru model di hari ke-3 dengan menampilkan pembelajaran integrasi IoT terhadap siswa di SMPN 1 Sumedang.
Refleksi dan Tantangan Implementasi di Daerah
Di akhir acara, Prof. Diana memimpin refleksi dan menyampaikan bahwa integrasi IoT dalam pembelajaran IPA iniunjang pembelajaran IPA yang inovatif dan sesuai dengan akselerasi teknologi digital masa kini.
Namun, pada pelaksanaannya, perlu didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.
"Untuk sekolah di pedalaman yang koneksi internetnya terbatas, guru tidak perlu memaksakan," tegas Prof. Diana.
Beliau menyampaikan bahwa teknologi dalam STEM dapat pula diaktualisasikan dalam bentuk teknologi sederhana yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, meskipun akses terhadap infrastruktur digital menjadi tantangan, kreativitas dalam menerapkan prinsip-prinsip STEM tetap dapat dikembangkan di berbagai kondisi.