Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dua mahasiswa Unisba terima Beasiswa 3M setelah menghafal 30 juz Al-Qur'an sejak kecil

Bandung · Oleh ·

Aghsally dan Fauzan jadi mahasiswa baru Unisba lewat Beasiswa 3M setelah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur'an dari usia dini. Keduanya kini harus menjaga hafalannya di tengah rutinitas kampus.

Dua mahasiswa Unisba terima Beasiswa 3M setelah menghafal 30 juz Al-Qur'an sejak kecil

Bagi kebanyakan orang, 30 juz Al-Qur'an terasa seperti angka yang mustahil dicapai. Bagi Aghsally Tsabit Aqdami dan Muhammad Fauzan Nur Alif Lalana, angka itu justru jadi tiket mereka memasuki dunia perkuliahan di Universitas Islam Bandung.

Keduanya resmi menjadi mahasiswa baru Unisba tahun ini, dan sama-sama tercatat sebagai penerima Beasiswa Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (3M) Kategori Hafizh Al-Qur'an. Mereka tidak masuk lewat jalur biasa. Nilainya diimpor dari keberanian mempertahankan hafalan selama bertahun-tahun.

Waktu satu tahun empat bulan untuk 30 juz

Aghsally sebenarnya sudah mengenal lingkungan pesantren sejak kelas 4 SD. Namun ia sendiri mengakui, masa SMP-nya lebih banyak dihabiskan untuk bermain daripada menjaga hafalan. "Saya waktu di SMP kebanyakan main," akunya.

Baca Juga: Tiga SPPG di Bandung تحتawasan Khusus بعد temuan sampah dan keamanan pangan

Titik balik datang saat ia memutuskan pindah ke Markaz Tahfizh Icakan, Ciamis, untuk melanjutkan pendidikan menengah. Di sana ia给自己 memasang target 10 juz per semester. Semester pertama, berhasil. Semester kedua, 10 juz lagi juga rampung. Totalnya 20 juz. Sisa 10 juz dituntaskan dalam beberapa bulan setelahnya. Seluruh proses menghafal 30 juz ultimatnya berjalan selama sekitar satu tahun empat bulan.

Setelah menyelesaikan hafalan, Aghsally tidak langsung kuliah. Ia mengajar di Riau, mengampu halaqah tahfizh untuk pelajar lain, sebelum akhirnya kembali ke Bandung dan memilih Unisba. Program Studi Pendidikan Agama Islam jadi pilihannya bukan tanpa alasan. Latar belakangnya di pesantren dan pengalaman mengajar membuatnya ingin memperdalam pendidikan Islam secara formal.

Dari kelas 3 SD sampai kelas 1 SMP

Jalannya Fauzan berbeda. Ia mulai menghafal sejak kelas 3 SD di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Al Azka, Cisauk, Tangerang-Banten. Empat tahun kemudian, ketika baru masuk kelas 1 SMP, hafalan 30 juz-nya sudah resmi rampung.

Baca Juga: Farhan Sebut Halte BRT di Median Jalan Tetap Dibangun Meski Picu Kekhawatiran Keselamatan

Proses itu tidak pernah mudah. Fauzan mengakui pernah merasa sangat lelah sampai-sampai ingin berhenti. Doch, dukungan orang tua dan bimbingan ustaz membuatnya bertahan. "Saya tahu bahwa hafalan Al-Qur'an ini tujuan yang mulia," katanya.

Setelah lulus dari MAS Tahfidz Yanbu'ul Qur'an Menawan Kudus pada 2025, Fauzan tidak langsung kuliah. Ia menjalani masa pengabdian satu tahun di pondok, membantu soal kedisiplinan dan tata tertib. Baru depois itu ia mendaftar ke Unisba lewat Beasiswa 3M.

Teknik Industri jadi jurusannya. Selain tertarik bidang yang ruang lingkupnya luas, Unisba juga sudah lama menjadi salah satu kampus Impiannya. Lokasinya dekat dengan rumah jadi nilai tambah. Tapi ada alasan lain yang lebih personal.

"Dengan saya mendapatkan beasiswa ini, saya tahu ini dapat membantu saya tetap menjaga Al-Qur'an saya, hafalan saya," tutur Fauzan.

Tantangan baru di kehidupan kampus

完成hafalan bukan berarti selesai. Tantangan sebenarnya justru muncul setelahnya, yaitu bagaimana menjaga 30 juz itu tetap utuh di tengah rutinitas perkuliahan.

Aghsally menerapkan cara yang simpel tapi konsisten. Ia menyediakan waktu setiap hari untuk murajaah, biasanya sebelum atau sesudah Subuh. "Yang penting istikamah, konsisten tiap hari harus ada yang dibaca," katanya.

Rektor Unisba, Prof. A. Harits Nu'man, dalam orientasi mahasiswa baru menekankan agar kampus tidak sekadar jadi tempat mengejar gelar. Ia mengingatkan tentang amanah pendiri Unisba sejak 1958, yaitu melahirkan calon pemimpin yang Faqih Fiddin, yaitu profesional yang mampu mengintegrasikan keahlian dengan nilai-nilai Islam. "Para pendiri kita tidak ingin Unisba hanya mencetak dokter yang hanya tahu obat, ekonom yang hanya tahu angka, sarjana hukum yang hanya tahu pasal, atau insinyur yang hanya tahu bangunan. Itu tidak cukup," katanya.

Untuk memperkuat itu, Harits memperkenalkan tiga Spirit Perjuangan Unisba yang juga menjadi nama beasiswanya: Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid. Ketiganya diharapkan melekat dalam diri setiap mahasiswa. Mujahid untuk keberanian berjuang, Mujtahid untuk kemampuan berpikir mendalam, dan Mujaddid untuk semangat menghadirkan pembaruan.