Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Turnamen Catur Bandung: Ajang Cetak Rating FIDE Baru Pecatur Nasional

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Indonesia memperkuat fondasi catur nasional lewat Turnamen Catur SCUA FIDE Rated 3. PB Percasi berupaya cetak lebih banyak pecatur berperingkat internasional, khususnya dari usia dini, sekaligus menguji mental dan kemampuan lintas generasi demi lahirnya Grandmaster baru.

Turnamen Catur Bandung: Ajang Cetak Rating FIDE Baru Pecatur Nasional

Turnamen Catur Bandung: Melahirkan Bintang Baru Berperingkat FIDE

Upaya Indonesia untuk melahirkan lebih banyak pecatur berperingkat internasional semakin giat dilakukan. Melalui Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) FIDE Rated 3 Chess Tournament, Federasi Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) menggelar kejuaraan yang menjadi fondasi penting bagi pembinaan jangka panjang atlet catur nasional.

Turnamen ini secara khusus dirancang untuk memperluas jumlah pecatur Indonesia yang memiliki _elo rating_ internasional, sebuah sistem peringkat yang diakui oleh Federasi Catur Dunia (FIDE). _Elo rating_ merupakan tolok ukur kekuatan pecatur yang fundamental dalam kancah global, membuka peluang bagi atlet untuk berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi dan mengukir prestasi.

Strategi Pembinaan Jangka Panjang untuk Generasi Muda

Ketua Umum PB Percasi, Utut Adianto, menegaskan bahwa turnamen FIDE Rated 3 Chess adalah bagian dari strategi pembinaan jangka panjang, khususnya bagi pecatur usia dini dan junior. Tujuan utamanya adalah memberikan mereka pijakan resmi di level internasional sejak awal karier. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang sering melibatkan peserta dari mancanegara, edisi kali ini lebih banyak berfokus pada penguatan potensi di dalam negeri.

"Tujuan utamanya memang supaya makin banyak pecatur Indonesia punya _elo rating_. Itu penting karena _elo rating_ adalah ukuran kekuatan pecatur yang diakui secara internasional," ujar Utut saat ditemui di sela turnamen pada Rabu (14/1/2026).

Utut menjelaskan bahwa ajang ini merupakan kesempatan krusial bagi pecatur muda untuk memperoleh _elo rating_ pertama mereka. Ini adalah salah satu tantangan terbesar dalam proses pembinaan atlet catur nasional. Dengan status turnamen FIDE Rated, setiap pertandingan tidak hanya bernilai kompetitif, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap peringkat pemain.

Menguji Mental dan Kemampuan Lintas Generasi

Selain menjadi wadah pembinaan usia dini, Turnamen FIDE Rated 3 Chess juga berfungsi sebagai arena uji mental dan kemampuan teknis. Kejuaraan ini mempertemukan pecatur junior dengan sejumlah pecatur senior, menciptakan lingkungan kompetitif yang intensif.

PB Percasi sengaja membuka ruang kompetisi lintas generasi ini untuk mengukur kesiapan atlet muda dalam menghadapi tekanan pertandingan level tinggi. Para pecatur junior berkesempatan untuk mengukur kemampuan mereka melawan pemain yang lebih berpengalaman, sekaligus mengasah strategi dan ketahanan mental.

"Di sini bisa terlihat, apakah yang muda-muda ini sudah siap bersaing. Mereka diuji langsung dengan pemain yang lebih berpengalaman," tambah Utut.

Tantangan dan Peluang Lahirnya Grandmaster Baru

Terkait peluang Indonesia melahirkan Grandmaster baru, Utut Adianto mengakui bahwa potensi atlet catur Tanah Air sangat besar. Namun, tantangan terberat bukan pada bakat awal, melainkan pada konsistensi pembinaan hingga usia dewasa, terutama saat atlet memasuki fase pendidikan tinggi dan dunia kerja.

"Potensi kita hebat. Tapi mengubah potensi jadi prestasi itu tidak mudah. Banyak yang berhenti ketika harus memilih antara catur, kuliah, atau pekerjaan," kata Utut.

Meskipun demikian, PB Percasi berkomitmen untuk terus membuka ruang dan jalur pembinaan bagi pecatur muda. Tujuannya adalah agar mereka dapat menentukan masa depan melalui olahraga catur.

Turnamen SCUA FIDE Rated Tournament merupakan salah satu instrumen penting dalam menjaga kesinambungan prestasi catur nasional. Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada hasil instan, tetapi juga pada pembangunan ekosistem catur yang berkelanjutan.

"Tidak ada yang bisa menjamin masa depan. Yang terpenting adalah memberi jalan dan menjalani proses dengan baik," pungkas Utut. (artikel asli)