Tren Positif Pariwisata Bandung, Hunian Hotel dan Kunjungan Wisatawan Meningkat
Sektor pariwisata Kota Bandung mengalami pertumbuhan signifikan pada 2025 dengan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel naik 5,28 poin dan kunjungan wisatawan nusantara meningkat 23,18%. Pertumbuhan ini memberikan dampak inklusif pada ekonomi lokal, didukung oleh sinergi lintas sektor dan komitmen pariwisata berkelanjutan.

Pertumbuhan Pariwisata Bandung 2025: Tanda Optimisme Ekonomi Lokal yang Inklusif
Menjelang penutupan tahun 2025, sektor pariwisata Kota Bandung menunjukkan performa yang memukau dengan peningkatan signifikan dalam berbagai indikator utama. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kota Bandung pada Desember 2025 mencapai 64,14 persen, naik 5,28 poin dibandingkan bulan November sebelumnya. Peningkatan ini bukan hanya sekadar angka, tetapi cerminan dari aktivitas ekonomi kota yang tetap bergerak dan daya tarik Bandung sebagai destinasi wisata yang tetap kuat.
Detail Peningkatan TPK Hotel: Merata di Segmen Bintang dan Non-Bintang
Pertumbuhan okupansi hotel tidak hanya terkonsentrasi pada segmen tertentu, melainkan menyentuh berbagai kelas akomodasi. Hotel berbintang mencatat TPK sebesar 69,64 persen, sedangkan hotel non-bintang berada di angka 43,99 persen. Kedua kategori mengalami peningkatan month-to-month, menunjukkan pemulihan yang relatif merata di sektor perhotelan Bandung.
"Data BPS menunjukkan okupansi hotel di Bandung terus meningkat. Ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan aktivitas ekonomi kota tetap bergerak dan Bandung masih menjadi destinasi pilihan," ujar Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, pada Selasa (3/2/2026).
Lonjakan Kunjungan Wisatawan Nusantara: Naik 23,18 Persen pada 2025
Selain TPK hotel, kinerja pariwisata Bandung juga tercermin dari lonjakan kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) sepanjang tahun 2025. Berdasarkan catatan BPS, total perjalanan wisnus ke Kota Bandung meningkat 23,18 persen, dari 19,69 juta perjalanan pada 2024 menjadi 24,25 juta perjalanan pada 2025.
Sebagian besar wisatawan tercatat berasal dari luar provinsi Jawa Barat, mengindikasikan kuatnya daya tarik Kota Bandung sebagai tujuan wisata nasional, baik untuk rekreasi, belanja, maupun kegiatan berbasis event.
Posisi Bandung dalam Pariwisata Jawa Barat: Tujuan Utama Kedua
Dalam peta pariwisata Jawa Barat, Kota Bandung menempati posisi kedua sebagai daerah tujuan utama wisatawan nusantara dengan kontribusi 11,45 persen, berada di bawah Kabupaten Bogor yang mencatat kontribusi 15,04 persen. Pencapaian ini menunjukkan bahwa Bandung tetap menjadi pilihan utama wisatawan di wilayah Jawa Barat dan nasional.
Faktor Pendukung Pertumbuhan Pariwisata Bandung
Menurut Wali Kota Farhan, capaian ini tidak terlepas dari sinergi lintas sektor yang dilakukan oleh pemerintah kota dan pihak terkait:
- Penguatan agenda event kota yang menarik wisatawan dari berbagai daerah
- Pengembangan destinasi wisata tematik yang beragam
- Promosi ekonomi kreatif yang konsisten dan terintegrasi
"Peningkatan kunjungan ini adalah hasil kerja bersama. Dampaknya tidak hanya dirasakan hotel, tetapi juga pelaku UMKM, sektor transportasi, kuliner, dan tenaga kerja," katanya.
Dampak Inklusif pada Ekonomi Lokal dan Komitmen Pariwisata Berkelanjutan
Pertumbuhan pariwisata Bandung ini memberikan dampak inklusif pada ekonomi lokal, karena manfaatnya dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelaku UMKM hingga tenaga kerja di sektor jasa. Wali Kota Farhan menegaskan komitmennya untuk mendorong pariwisata yang berkelanjutan, dengan fokus pada:
- Peningkatan kualitas layanan untuk wisatawan
- Pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal
- Pengembangan destinasi wisata yang ramah lingkungan
"Pariwisata harus menjadi motor ekonomi yang inklusif. Data BPS menjadi dasar kami untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran dan berpihak pada kesejahteraan warga," ujar Farhan.
Dengan pertumbuhan yang konsisten dan fokus pada inklusi serta keberlanjutan, sektor pariwisata Bandung diharapkan dapat terus menjadi penopang utama ekonomi lokal dan destinasi wisata yang diminati nasional.